Sulit Fokus dan Tidur Terganggu? Waspada Fenomena Smartphone Brain!

Tim detikHealth - detikSulsel
Minggu, 04 Okt 2026 20:45 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/tonefotografia)
Jakarta -

Sering menghabiskan waktu lebih lama menggunakan smartphone di malam hari hingga jam tidur terganggu dan jadi sulit fokus? Hal tersebut menjadi pertanda seseorang mengalami fenomena yang disebut 'smartphone brain'.

Dilansir dari detikHealth, fenomena smartphone brain ini kian marak dan perlu diwaspadai karena dapat memicu penurunan kualitas hidup seseorang. Studi menunjukkan, kebiasaan scrolling media sosial hingga jam tidur tertunda dapat memangkas waktu tidur sebanyak 3-5 menit dalam waktu satu jam screen time.

Selain gangguan tidur, paparan stimulus konstan dan aktivitas berpindah secara cepat ketika menonton video pendek (Reels/Tiktok) akan melatih otak untuk kepuasaan yang instan. Paparan berlebih ini dapat memicu distraksi fokus saat menjalankan aktivitas yang membutuhkan waktu lama, seperti belajar atau bekerja.

Jika dibiarkan terus menerus, smartphone brain bisa menimbulkan dampak serius dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Dampak Smartphone Brain

Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Yashoda Medicity India dr Gaurav Batra menjelaskan, salah satu pola paling berbahaya dari kebiasaan main HP adalah fenomena task switching atau berpindah-pindah tugas secara cepat.

"Seseorang mungkin mulai dengan membalas email, lalu terdistraksi notifikasi, lanjut membuka media sosial, baru kemudian kembali ke pekerjaan awal. Kebiasaan ini membuat perhatian terfragmentasi (terpecah-pecah)," jelasnya.

detikers mungkin pernah merasakan ketika banyak aktivitas singkat yang dilakukan dengan cepat, fokus menjadi lebih gampang buyar. Kondisi ini merupakan salah satu gejala smartphone brain yang dapat mempengaruhi kemampuan otak untuk fokus.

Kebiasaan task switching juga berpengaruh pada kebiasaan dan kualitas tidur individu. dr Batra menegaskan bahwa, masalah utama bukan hanya pada paparan cahaya biru (blue light) layar, tetapi bagaimana konten hp memaksa otak tetap aktif dan siaga.

"HP membuat otak tetap terlibat secara mental, memicu kita menunda jam tidur, dan membentuk kebiasaan buruk untuk langsung memeriksa ponsel setiap kali terbangun di malam hari," tambahnya.

Selain berdampak pada produktivitas, kebiasaan menatap layar ponsel terlalu lama juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Sebagai contoh, tanpa detikers sadari saat bermain ponsel kepala akan cenderung menunduk (text neck), jarang berkedip, otot leher dan bahu menjadi tegang, mata lelah, silau layar, dan postur tubuh kaku yang kemudian dapat memicu sakit kepala tegang (tension headache).

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Menilik gaya hidup modern masyarakat sekarang ini, ponsel menjadi benda yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, jika sudah mengalami gejala susah fokus, tidur tidak nyenyak, dan pusing berulang selama lebih dari 2 minggu, bisa jadi itu adalah sinyal bagi tubuh untuk segera mendapat penanganan medis.

Bagi detikers yang ingin mencoba alternatif penanganan mandiri terlebih dahulu, hal pertama yang dapat dilakukan adalah membatasi screen time non esensial (diluar pekerjaan/studi) maksimal 2 jam sehari. Kemudian, berhenti bermain ponsel minimal 1 jam sebelum tidur.

"Jika gejala tidak kunjung mereda, atau jika sakit kepala terasa sangat parah, makin memburuk, hingga disertai gangguan penglihatan, lemas, atau gejala saraf lainnya, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan medis menyeluruh," tutup dr Batra.

Solusi ini bisa menjadi penanganan dini, agar smartphone brain dapat segera diatasi sebelum mempengaruhi produktivitas individu lebih jauh.



Simak Video "Video: Kenali Faktor Penyebab Gangguan Tidur pada Anak"

(urw/urw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork