Sultra Diselimuti Kabut Asap Kiriman Karhutla Maluku-Papua

Sultra Diselimuti Kabut Asap Kiriman Karhutla Maluku-Papua

Irwan Mubaraq - detikSulsel
Sabtu, 03 Okt 2026 16:28 WIB
Kabut asap di Baubau, Sultra.
Kabut asap di Baubau, Sultra. Foto: (dok. istimewa)
Kendari -

Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini terjadi akibat kiriman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Maluku dan Papua.

"Fenomena ini terpantau di sejumlah wilayah Sultra, mulai dari Kota Kendari, Baubau, Bombana, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Muna, Muna Barat, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, hingga Wakatobi," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau, Adi Istiyono kepada detikcom, Sabtu (3/9/2026).

Adi menjelaskan, kabut asap tersebut sebagian besar merupakan asap kiriman dari karhutla di Papua Selatan dan Maluku. Asap terbawa angin dari arah timur hingga timur laut melintasi wilayah perairan sebelum mencapai daratan Sultra.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selain pengaruh asap kiriman, kami juga mendeteksi adanya titik panas atau hotspot di wilayah Sultra, dengan jumlah terbanyak terpantau di Bombana. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan lokal," jelasnya.

Fenomena kabut asap ini awalnya terjadi di Baubau dan sekitarnya sejak Senin (28/9). Saat itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 34,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³), PM10 sebesar 39,7 µg/m³, aerosol optical depth (AOD) 0,60, dan karbon monoksida (CO) 394 µg/m³.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut terjadi saat angin bertiup dari timur hingga timur laut dengan kecepatan 1,9 meter per detik. Angin yang relatif lemah membuat asap lebih lambat menyebar dan bertahan di dekat permukaan.

"Partikel kering seperti debu, polutan, dan asap dapat terkumpul di lapisan atmosfer bawah sehingga mengurangi jarak pandang. Pada kondisi tertentu, jarak pandang dapat turun hingga di bawah 5 kilometer," ungkap Adi.

Memasuki Sabtu (3/10), pengaruh aerosol masih terpantau di sejumlah wilayah. Pada pukul 08.00 Wita, konsentrasi PM2.5 di Baubau diprakirakan mencapai 20,1 µg/m³ dengan AOD 0,468. Sementara itu, Raha menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, yakni PM2.5 sebesar 25,8 µg/m³ dan AOD 0,695.

"Pada pagi hari, konsentrasi partikulat di Raha masih lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Namun, kondisi ini diprakirakan berangsur menurun seiring perubahan kondisi angin," kata Adi.

Kualitas udara di Baubau diprakirakan membaik menjelang siang. Konsentrasi PM2.5 turun menjadi 14,0 µg/m³ pada pukul 11.00 Wita dan kembali menurun menjadi 10,9 µg/m³ pada pukul 14.00 Wita.

"Penurunan konsentrasi tersebut dipengaruhi perubahan arah angin dari sektor selatan dengan kecepatan mencapai 7,1 meter per detik. Angin yang lebih kuat membantu penyebaran polutan sehingga konsentrasinya di wilayah Baubau berkurang," jelasnya.

Pada periode 4-6 Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 pada pagi hari di Wanci, Pasarwajo, Baubau, dan Raha diprakirakan berada pada kisaran 8-11 µg/m³. Sementara AOD diprakirakan berkisar 0,15-0,21.

"Secara umum, konsentrasi PM2.5 pada periode tersebut diprakirakan lebih rendah. Meski begitu, masyarakat tetap perlu memperhatikan perubahan arah angin karena masih berpotensi membawa asap ke sejumlah wilayah," ungkap Adi.

BMKG mengingatkan potensi peningkatan kembali konsentrasi polutan masih bergantung pada keberlanjutan sumber kebakaran dan perubahan arah serta kecepatan angin.

"Jika sumber asap masih aktif dan angin kembali bergerak dari timur menuju Wakatobi, Buton, Baubau, hingga Muna, konsentrasi PM2.5, PM10, dan aerosol berpotensi meningkat kembali," katanya.

Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika asap terlihat pekat. Kelompok rentan juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

"Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker saat asap pekat dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan. Jika konsentrasi asap meningkat, sebaiknya pintu dan jendela ditutup," tuturnya.



(asm/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads