Sebanyak 9.254 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering karena kemarau berkepanjangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah turun menyalurkan air bersih ke warga terdampak.
"Hingga saat ini kita telah menyalurkan 209.000 ribu liter air untuk 9.254 kepala keluarga," kata Kepala Pelaksana BPBD Polman, Andi Chandra Sigit kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Chandra mengatakan distribusi air bersih telah menjangkau sejumlah desa yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Mapilli, Luyo, Limboro, Balanipa, Binuang, Wonomulyo, Campalagian dan Tinambung. Namun masih ada sejumlah wilayah yang sulit dijangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hingga saat ini distribusi air bersih itu telah 24 desa yang tersebar di delapan kecamatan. Daerah pegunungan juga banyak yang terdampak, tapi agak susah kita jangkau karena medannya," beber Chandra.
Menurut Chandra, kemarau panjang tidak hanya meningkatkan ancaman kebakaran lahan, tetapi juga menyebabkan krisis air bersih. Kondisi itu terjadi karena sebagian besar sumur warga mulai mengering.
"Dampak kebakaran lahan, krisis air juga karena kebanyakan sumur-sumur warga telah mengering," terangnya.
Dia menyebut kondisi kemarau di Polman berpotensi berlangsung hingga akhir 2026. Bahkan, menurutnya kemarau dapat berlanjut hingga awal 2027.
"Kalau kemarau mungkin sampai Desember (2026). Bisa menyeberang sampai Maret (2027)," tandasnya.
Untuk membantu warga yang terdampak kekeringan, BPBD Polman terus melakukan pendistribusian air bersih berdasarkan permintaan dari pemerintah setempat.
"Syaratnya, kepala desa bersurat ke kami, baru kami tindak lanjuti. Gratis," pungkasnya.
