Harga cabai rawit di pasar tradisional Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) terus melonjak hingga mencapai Rp 120 ribu per kilogram (Kg). Lonjakan harga disebabkan kurangnya pasokan dari petani akibat terdampak kemarau panjang.
Kenaikan harga itu terpantau terjadi di Pasar Induk Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kamis (24/9). Bahkan, sejumlah pedagang juga terlihat tak lagi menjual cabai rawit karena telah kehabisan stok.
"Sekarang harga cabai rawit 110 sampai 120 per kilogram," ujar salah satu pedagang, Darwiah kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darwiah menuturkan, kenaikan harga ini terus terjadi sejak sepekan terakhir. Sebelumnya, cabai rawit dijual mulai harga Rp 80 ribu per/kg sampai Rp 90 per/kg.
"Naiknya sejak dari kemarin (sepekan). Terakhir harganya berkisar 80 sampai 90 ribu rupiah per kilogram," ungkapnya.
Menurutnya, kenaikan harga cabai ini dipicu kurangnya pasokan dari petani akibat kemarau panjang. Banyak tanaman cabai petani yang mati akibat kekeringan.
"Katanya dampak kemarau sehingga banyak tanaman petani yang mati karena kekeringan. Sudah sejak dua bulan terakhir pasokan cabai dari petani berkurang terus," terangnya.
Diakui Darwiah, lonjakan harga ini membuat omzetnya melorot hingga mencapai 50 persen. Sebab, daya beli masyarakat semakin menurun.
"Berdampak sama omzet, ikut menurun. Mungkin penurunan mencapai 50 persen, karena biasanya bisa habis sampai 30 kilo sehari, sekarang hanya 15 kilo saja," bebernya.
Dia juga mengungkapkan, sejumlah warga kini memilih membeli cabai rawit kering karena harganya lebih terjangkau yang hanya Rp 5000 per liter.
"Cabai yang dulunya tidak laku kita keringkan. Sekarang laku, peminatnya banyak, dijual lima ribu per liter," tandasnya.
Kondisi serupa disampaikan pedagang lain, Nuraliah. Dia menyebut para konsumen menyiasati kenaikan harga ini dengan membeli cabai rawit dalam jumlah sedikit.
"Terpaksa beli (cabai) sedikit-sedikit, secukupnya saja. Yang penting ada," pungkasnya.
