Petani Geruduk DPRD Pinrang gegara Sawah 2 Bulan Kekeringan

Petani Geruduk DPRD Pinrang gegara Sawah 2 Bulan Kekeringan

Muhclis Abduh - detikSulsel
Rabu, 16 Sep 2026 15:53 WIB
Petani di Pinrang, Sulsel, menggeruduk DPRD karena kekeringan. Mereka keluhkan distribusi air yang tidak merata.
Petani di Pinrang, Sulsel, menggeruduk DPRD karena kekeringan. Foto: Muhclis Abduh/ detikSulsel
Pinrang -

Petani menggeruduk kantor DPRD Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka mengeluhkan pasokan air melalui saluran irigasi sudah dua bulan terakhir tidak mengalir yang membuat sawah kekeringan.

Massa petani dari Kecamatan Duampanua melakukan unjuk rasa di Kantor DPRD Pinrang, Jalan Jenderal Gatot Subroto No.1, Maccorawalie, Kecamatan Watang Sawitto, Rabu (16/9) siang. Mereka meminta anggota dewan memberikan atensi terkait nasib mereka.

"Kami sudah 2 bulan kekeringan, air tidak sampai ke sawah," ujar warga bernama Lapris kepada wartawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lapris menyebut ada ratusan hektare lahan sawah yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Petani dari Kecamatan Duampanua menilai pendistribusian air selama musim kemarau tidak merata.

"Kami merasa dianaktirikan karena air yang ada di Bendungan Benteng banyak diarahkan ke Pinrang selatan, sementara di Pinrang utara sama sekali tidak ada. Jadi kami di Duampanua ini dianaktirikan," keluhnya.

ADVERTISEMENT

Imbas kekeringan yang terjadi, banyak padi petani yang akhirnya mati kekeringan. Dia pun meminta pemerintah agar berlaku adil agar pembagian air dari Bendungan Benteng dapat dilakukan secara merata.

"Petani di sana (Kecamatan Duampanua) banyak yang mati karena sudah kering. Jadi kami minta agar pemerintah dapat berlaku adil (membagikan distribusi air dari Bendungan Benteng)," tegasnya.

Sementara Kepala Dinas PSDA BK Pinrang Bachrum Syah menjelaskan krisis air yang terjadi murni dipicu oleh faktor kondisi iklim. Debit air di Bendungan Benteng saat ini merosot drastis hingga tersisa 33 meter kubik.

"Debit air di Bendungan Benteng itu turun drastis. Kalau biasanya bisa sampai 120 sampai 120 meter kubik perdetik, sekarang cuman 33 meter kubik. Jadi memang sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan air bagi petani," paparnya.

Adapun terkait permintaan dari petani dari Kecamatan Duampanua agar pintu air dibuka sudah dilaksanakan. Meskipun kata dia, hal tersebut akan membuat terjadinya perubahan distribusi air ke saluran yang lain.

"Sebagai solusi kami berkoordinasi dengan pengelola Bendungan Benteng agar pintu saluran yang mengarah ke saluran induk Pekkabata (Kecamatan Duampanua) dapat dibuka agar air bisa maksimal," paparnya.



(hsr/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads