Kasus bentrokan antara orang tua (ortu) siswi Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan massa Pondok Pesantren Darul Istiqamah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), menuai sorotan. Pihak orang tua siswa yang anaknya turut bersekolah itu mendesak aparat kepolisian turut memberikan jaminan keamanan di lokasi agar siswa tidak terganggu.
Desakan itu disampaikan Parents Association Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ) yang berada satu lingkungan dengan SPIDI Kabupaten Maros yang turut terdampak perkara tersebut. Kedatangan massa pihak ponpes yang diduga menerobos kawasan sekolah dianggap mengganggu kondisi psikologis siswa.
"Hari ini kami juga telah mendatangi Mapolres Maros untuk meminta kepada aparat untuk memberikan pengamanan di sekolah tersebut," kata Ketua Parents Association SADIQ Suhartina Bohari kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhartina mengecam segala tindakan yang dinilai membahayakan keselamatan anak. Apalagi sampai mencuat pengarahan massa, perusakan fasilitas sekolah hingga pemblokiran akses antar-jemput siswa.
"Kami mengecam keras segala tindakan yang membahayakan keselamatan anak, termasuk pengarahan massa, perusakan fasilitas, antara lain CCTV, dan pemblokiran akses antar-jemput siswa di lingkungan sekolah," ujarnya.
Suhartina menegaskan, keselamatan dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus menjadi prioritas. Dia mengatakan pihaknya tidak berpihak dalam persoalan yang melatarbelakangi bentrokan tersebut.
"Kami menegaskan bahwa keselamatan dan hak anak untuk belajar adalah prioritas tertinggi yang tidak boleh dikorbankan oleh konflik pihak manapun," tegasnya.
Pihaknya berupaya bersikap netral terhadap sengketa internal yang terjadi antara SPIDI dan Pesantren Darul Istiqomah. Menurutnya, perhatian mereka semata-mata ditujukan pada perlindungan anak dan keberlangsungan pendidikan.
"Kami bersikap netral atas sengketa internal yang melatarbelakangi kejadian dan tidak berpihak kepada pihak manapun. Sikap kami semata-mata pada perlindungan anak dan kelangsungan pendidikan," jelasnya.
Dia juga mendorong pihak sekolah maupun pihak lain yang terlibat untuk menempuh jalur hukum. Suhartina menyatakan siap memberikan keterangan sebagai saksi terkait kondisi anak-anak yang disebut terpapar bahaya.
"Kami mendukung langkah sekolah maupun pihak-pihak lain yang terlibat untuk menempuh jalur hukum yang sah, serta siap memberikan keterangan sebagai saksi mengenai keadaan anak-anak yang terpapar bahaya," beber Suhartina.
Parents Association SADIQ juga meminta Dinas Pendidikan Maros, KPAI, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Maros memberikan perhatian dan perlindungan terhadap anak-anak yang terdampak. Suhartina berharap agar pihak yang bertikai bisa menahan diri.
"Kami mendesak aparat polisi memberikan pengamanan di lingkungan sekolah dan meminta Dinas Pendidikan, KPAI, serta Dinas PPPA memberikan atensi dan perlindungan bagi anak-anak terdampak," tuturnya.
"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, menghentikan segala tindakan kekerasan, dan mengembalikan lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak," tambah Suhartina.
Diketahui, pertikaian antara ortu siswi SPIDI dan Ponpes Darul Istiqamah Maros terjadi pada Selasa (8/9) pagi. Sejumlah orang tua siswi yang mayoritas merupakan emak-emak terlibat saling dorong dengan massa dari Pesantren Darul Istiqamah.
Polisi menyebut pertikaian itu dipicu antara sengketa lahan antara pihak SPIDI dan Ponpes Darul Istiqamah Maros. Kedua belah pihak pun diminta menahan diri agar persoalan ini tidak berdampak pada siswa.
"Kita kurang mendalami, tapi informasi bahwa (sengketa kepemilikan lahan antara dua yayasan) ini sudah berjalan beberapa tahun," ujar Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin kepada wartawan di lokasi.
