Bentrokan antara orang tua (ortu) siswi Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan massa Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Istiqamah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), membuat ratusan siswi terdampak. Perselisihan akibat sengketa lahan ini membuat 700 siswi SPIDI terpaksa dialihkan ke online atau daring.
"Di sini ada sekitar 700 siswa di lingkungan sekolah. Karena kelas-kelas yang mereka duduki di depan itu tidak bisa terpakai, beberapa anak dialihkan untuk belajar online. Namun kalau ada yang mau sekolah offline, kita tetap buka," ucap Tim Markom SPIDI Maros, Minar saat dikonfirmasi detikSulsel, Rabu (9/9/2026).
Minar menyebut, siswi SPIDI Maros yang terdampak mulai dari jenjang Daycare, PAUD, SD, hingga SMP dan SMA Boarding School. Situasi itu memicu gelombang protes orang tua murid karena khawatir psikologis anaknya ikut terganggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang tua siswa protes karena mereka mengkhawatirkan ada intimidasi. Anak-anak jadi tidak bisa belajar dengan aman di sekolah," tambahnya.
Situasi ini bermula pemasangan garis polisi (police line) di depan area sekolah yang memicu kemarahan kubu Ponpes Darul Istiqamah. Hal ini dipicu konflik sengketa lahan yang sudah berlarut-larut.
"Awal masalahnya itu dari adanya pemasangan police line di depan portal. Pihak Darul Istiqamah ini marah karena dipasangkan police line di situ, yang merupakan buntut dari konflik beberapa bulan lalu," ujar Minar.
Belakangan, oknum kubu ponpes datang dan menerobos masuk area sekolah pada Jumat (4/9) sore. Mereka menduduki fasilitas sekolah dan menggunakannya untuk aktivitas harian.
"Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah. Melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas, bahkan ada yang memasak sampai bermain bulu tangkis di sana," ungkapnya.
Minar menegaskan, SPIDI Maros berdiri secara sah, berbadan hukum, dan mengantongi izin operasional resmi. Pihak sekolah juga telah berulang kali membujuk massa untuk meninggalkan lokasi dan menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum namun diabaikan.
"Kami sudah berusaha menyuruh mereka pergi dari lingkungan sekolah. Pihak SPIDI sudah menyatakan, kalau ingin menyelesaikan masalah ini, ayo kita selesaikan secara hukum. Tapi sampai sekarang mereka masih ada di lingkungan sekolah," imbuh Minar.
Diketahui, pertikaian antara ortu santri SPIDI dan Ponpes Darul Istiqamah Maros terjadi pada Selasa (8/9) pagi. Sejumlah orang tua siswi yang mayoritas merupakan emak-emak terlibat saling dorong dengan massa dari Pesantren Darul Istiqamah.
Polisi menyebut pertikaian itu dipicu antara sengketa lahan antara pihak SPIDI dan Ponpes Darul Istiqamah Maros. Kedua belah pihak pun diminta menahan diri agar persoalan ini tidak berdampak pada siswa.
"Kita kurang mendalami, tapi informasi bahwa (sengketa kepemilikan lahan antara dua yayasan) ini sudah berjalan beberapa tahun," ujar Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin kepada wartawan di lokasi.
