Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikan Dudung saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) VIII Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Tahun 2026.
Pembukaan Munas ke-VIII PSMTI digelar di Redtop Hotel & Convention Center, Jakarta, pada Jumat (4/9/2026) malam. Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat, tokoh nasional dan lebih dari 700 orang peserta dari jajaran pimpinan dewan, pengurus pusat, serta para ketua pengurus daerah dari berbagai provinsi di Indonesia.
Dudung menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Munas VIII PSMTI. Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi momentum pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk mempererat silaturahmi, menyatukan visi, serta mempertegas komitmen kebangsaan PSMTI dalam menjaga kohesi sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, jajaran Kantor Staf Kepresidenan, serta Dewan Pelindung PSMTI Pusat, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaraan Munas VIII ini," ujar Dudung dalam sambutannya.
Dudung menjelaskan saat ini Indonesia tengah melangkah menuju Visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah modal strategis untuk mencapai status negara maju, antara lain angkatan kerja muda dan produktif, kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik dan geoekonomi yang semakin strategis, serta percepatan adopsi teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan inovasi.
"Namun, modal paling utama tetaplah persatuan dalam keberagaman berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika," terangnya.
Dudung juga menyoroti peran masyarakat Tionghoa Indonesia yang menurutnya merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah bangsa. Sejak berdiri pada 28 September 1998, PSMTI dinilai telah menunjukkan komitmen dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Dengan jaringan PSMTI yang tersebar di 38 provinsi dan 308 daerah, Dudung menilai organisasi tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi akselerator sekaligus mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai agenda pembangunan nasional. Sejalan dengan tema Munas VIII PSMTI, "Perteguh Harmoni Kebhinekaan Menuju Indonesia Emas 2045".
Dudung menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukan semata-mata dilihat dari besarnya jumlah anggota, tetapi dari seberapa besar manfaat konkret yang dapat diberikan kepada masyarakat.
"Tantangan geopolitik dan disrupsi ekonomi di masa depan tidaklah ringan. Namun, tidak ada tantangan yang terlalu berat selama kita berdiri teguh bersama dalam semangat Merah Putih," ujarnya.
Ia berharap Munas VIII PSMTI dapat menjadi titik pijak untuk memperteguh komitmen kebangsaan serta memperkuat kontribusi seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan berdaulat.
Ketua Umum PSMTI Pusat Wilianto Tanta dalam membawakan sambutan di pembukaan Munas VIII PSMTI. Foto: Abadi Tamrin/detikcom |
Sementara itu, Ketua Umum PSMTI Pusat Wilianto Tanta mengatakan, Munas VIII menjadi kesempatan bagi organisasi untuk memperkuat komunikasi antara pengurus pusat dan daerah sekaligus melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi.
"PSMTI hadir sebagai rumah besar yang senantiasa menjaga toleransi, merawat kebhinekaan dan berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Munas VIII ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja serta menyerap masukan konstruktif dari seluruh pengurus dan anggota di daerah," kata Wilianto.
Menurut dia, konsolidasi organisasi diharapkan dapat memperkuat keberadaan PSMTI dalam menjalankan kegiatan sosial serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
"Memperkuat keberadaan PSMTI dalam menjalankan kegiatan sosial serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat," tambahnya.

