Bolak-balik Warga Selayar Mengungsi gegara Trauma Gempa NTT

Bolak-balik Warga Selayar Mengungsi gegara Trauma Gempa NTT

Tim detikSulsel - detikSulsel
Senin, 17 Agu 2026 06:31 WIB
Sejumlah warga di Kabupaten Selayar masih mengungsi akibat gempa M 7,0 di Flores, NTT.
Foto: Sejumlah warga di Kabupaten Selayar masih mengungsi akibat gempa M 7,0 di Flores, NTT. (dok. istimewa)
Selayar -

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,0 di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan trauma mendalam bagi warga di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Getaran gempa yang terasa kuat di Selayar membuat warga terpaksa bolak-balik ke lokasi pengungsian karena khawatir ancaman gempa susulan.

Diketahui, gempa berpusat di Kabupaten Nagekeo, NTT terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 Wita. Gempa tidak hanya terasa di wilayah NTT dan Nusa Tenggara Barat (NTB), melainkan juga berdampak di sejumlah wilayah Sulsel hingga Sulawesi Tenggara (Sultra).

Di Sulsel, getaran gempa terasa di Makassar, Selayar, Jeneponto hingga Maros. Sementara di Sultra gempa berdampak di Baubau. BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami hingga terdeteksi muncul di Pulau Jampea, Selayar dan Bulukumba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Jampea sekitar 0,5 meter, kemudian di Bulukumba 0,5 juga, kemudian di Kayuadi 0,5 dan beberapa tempat lainnya," kata Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar Jamroni kepada detikSulsel, Sabtu (15/8).

Jamroni menuturkan, tsunami yang terjadi masih bersifat minor alias kecil. Peringatan tsunami kemudian dicabut BMKG setelah dua jam pascagempa.

ADVERTISEMENT

"Artinya tsunami sudah terjadi dengan status waspada yah, tapi sekarang sudah berakhir, dinyatakan sudah berakhir setelah 2 jam (terjadinya gempa)," tuturnya.

Kendati begitu, situasi tersebut memicu kepanikan bagi warga di Selayar, khususnya di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu. Kenaikan air laut membuat warga berlarian ke bukit menyelamatkan diri.

"Air sempat naik, cuma baliknya air tidak kencang, sempat melimpas sedikit dari tanggul, tapi tidak kencang, kayak di ember naik sedikit air," ucap Bupati Selayar Muhammad Natsir Ali usai dihubungi, Sabtu (15/8).

Natsir mengatakan, warga dari dua kecamatan terdampak mengungsi secara mandiri saat gempa. Dia memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut.

"Memang alhamdulillah kesadaran masyarakat menghadapi gempa di Pasimarannu, Pasilambena, alhamdulillah cepat, mereka langsung lari ke bukit," sambungnya.

Warga Selayar Trauma Gempa 2021 Silam

Kepanikan warga di Selayar terhadap gempa M 7,0 di NTT yang sempat memicu tsunami dinilai sangat beralasan. Kejadian itu ternyata membuat warga kembali trauma akan bencana serupa yang pernah terjadi pada 2021 silam.

Pada 14 Desember 2021 lalu, gempa M 7,4 pernah mengguncang NTT. Gempa dahsyat kala itu turut dirasakan kuat di Selayar khususnya di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu hingga mengakibatkan kerusakan parah pada rumah warga.

"Itu kan yang terjadi gempa di 2021 dan memang di sana hampir itu rumah mereka ada yang rata dengan tanah ada yang roboh," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Selayar, Muhammad Ikbal kepada detikSulsel, Minggu (16/8).

Trauma saat bencana 2021 itu belum sepenuhnya hilang hingga gempa kembali mengguncang pada 2026. Menurut Ikbal, ratusan kepala keluarga (KK) dari dua kecamatan di Selayar mengungsi di perbukitan saat gempa M 7,0.

"Itu di Kecamatan Pasimarannu itu di beberapa desa sekitar 278 KK yang mengungsi. Kemudian di Kecamatan Pasilambena sekitar 130 KK yang mengungsi," ungkap Ikbal.

Ikbal melanjutkan, pengungsi di Pasilambena dilaporkan sudah kembali ke rumah masing-masing secara bertahap. Pengungsi yang masih bertahan di perbukitan merupakan warga dari Pasimarannu.

"Dari total pengungsi sekitar 278 KK itu, masih memilih bertahan sekitar 20% dari jumlah KK. Kalau kita perkirakan ini mungkin dia berkisar kurang lebih 50 KK yang memilih bertahan," tuturnya.

Menurut Ikbal, warga Pasimarannu sedianya sempat kembali ke kediaman masing-masing usai gempa pada Sabtu (15/8). Kendati begitu, mereka kembali ke perbukitan pada hari yang sama karena masih khawatir akan ancaman gempa susulan.

"Rupanya yang mengungsi bertahan 20% itu ketika siang hari mereka kembali ke permukiman beraktivitas, namun ketika sore hari karena jarak antara rumah warga dengan pengungsian sekitar 7 kilometer, mereka naik kembali," terangnya.

Warga yang bolak-balik mengungsi khawatir keselamatannya terancam lantaran tempat tinggalnya berada di wilayah pesisir. Ikbal belum memastikan sampai kapan warga Pasimarannu bertahan di lokasi pengungsian.

"Mungkin itu tingkat traumanya masyarakat yang masih tinggi jadi mereka masih memilih bertahan di pengungsian. Biasanya itu katanya mereka itu 3 sampai 4 hari (bertahan di pengungsian)," tambah Ikbal.

Warga mendirikan tenda secara mandiri dengan perlengkapan seadanya di wilayah perbukitan. BPBD Selayar telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat agar tetap menenangkan warga.

"Warga mempunyai alasan tersendiri juga (masih bertahan di lokasi pengungsian), karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya terutama di kejadian 2021," ujarnya.

Gempa yang berpusat di NTT turut merusak 13 rumah dari dua kecamatan di Selayar. Menurut Ikbal, rumah yang mengalami kerusakan merupakan efek empasan air laut yang sempat mengalami kenaikan.

"Ada empasan air dari air laut itu masuk ke pemukiman warga dan ada juga 9 rumah yang rusak ringan, dan 4 rumah yang rusak sedang. Itu 9 unit (di antaranya) yang terendam lumpur di Kecamatan Pasilambena," ungkapnya.

BPBD Selayar kini masih mengupayakan untuk menyalurkan bantuan logistik kepada warga yang masih mengungsi. Dia mengaku pihaknya belum menyalurkan bantuan ke lokasi terdampak karena kesulitan akses menuju lokasi.

"Kami untuk mengakses misalnya men-drop bantuan ke sana itu melalui jalur laut, dan itu membutuhkan waktu sekitar 12 jam ke sana. Jadi untuk kebutuhan tadi malam itu masih mereka (pengungsi) penuhi secara mandiri," imbuhnya.

Dampak Gempa NTT: 53 Orang Tewas, 137 Luka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan gempa M 7,0 di NTT mengakibatkan 53 orang meninggal dunia. Data yang dihimpun hingga Minggu (16/8) pukul 17.00 Wita, korban tewas tersebar di Kabupaten Manggarai 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Manggarai Barat 1 orang, Nagekeo 1 orang dan Ende 2 orang.

"Total korban luka-luka mencapai 137 jiwa. Saat ini, korban luka sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun faskes darurat," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya.

Sementara total rumah rusak berat sebanyak 154 unit, rusak sedang 49 unit, dan rusak ringan 38 unit. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas Pendidikan, tempat ibadah, kantor pemerintahan dan sejumlah fasilitas umum lain.

"Sementara pendataan warga yang mengungsi masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Minggu (16/8) sebanyak 5.488 jiwa mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri," paparnya.

Sejumlah bantuan juga telah disalurkan baik melalui jalur darat maupun udara dengan total 4.925 paket. Bantuan yang telah tiba di antaranya bantuan logistik dari pemerintah pusat yang telah tiba di Maumere dan Labuan Bajo pada Minggu (16/8).

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman juga telah menyalurkan bantuan keuangan tanggap bencana sebesar Rp 500 juta kepada Pemprov NTT. Tim BPBD Sulsel dan tenaga kesehatan pun diturunkan untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa di NTT.

"Kami memberikan bantuan keuangan tanggap darurat sebesar Rp 500 juta untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian kami akan mengirimkan tim BPBD dan tenaga kesehatan untuk membantu saudara-saudara korban bencana," kata Andi Sudirman dalam keterangannya, Minggu (16/8).

Andi Sudirman juga mengajak seluruh masyarakat Sulsel untuk bersama-sama mendoakan masyarakat NTT yang sedang menghadapi musibah. Dia berharap NTT bisa segera pulih usai dilanda gempa.

"Kami atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan duka yang mendalam. Semoga saudara-saudara kita yang terdampak diberikan kekuatan, kesabaran, dan perlindungan dalam menghadapi cobaan ini," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(sar/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads