Tsunami Setinggi 0,5 M Terjadi di Bulukumba-Selayar Usai Gempa M 7,0 NTT

Tsunami Setinggi 0,5 M Terjadi di Bulukumba-Selayar Usai Gempa M 7,0 NTT

Sahrul Alim - detikSulsel
Sabtu, 15 Agu 2026 10:38 WIB
Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar Jamroni memantau perkembangan gempa susulan di kantornya usai gempa 7.0 terjadi di NTT.
Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar Jamroni. Foto: Sahrul Alim/detikSulsel
Selayar -

Gempa bumi dengan magnitudo (M) 7,7 yang dimutakhirkan menjadi M 7,0 di Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat memicu gelombang tsunami di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Tsunami setinggi 0,5 meter terdeteksi di Kepulauan Selayar dan Bulukumba.

Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar Jamroni mengatakan gempa susulan masih terjadi dengan kekuatan yang cenderung menurun. Sementara itu, perubahan tinggi muka air laut sempat terpantau di sejumlah wilayah pesisir Sulsel.

"Untuk perkembangan terakhir dari gempa yang terjadi di NTT dengan magnitudo 7.0, pada hari ini laporan terakhirnya adalah bahwa sudah terjadi susulan sebanyak 82 kali. Jadi cukup banyak yah," kata Jamroni kepada detikSulsel, Sabtu (15/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BMKG juga mencatat adanya perubahan tinggi muka air laut sekitar 0,5 meter di beberapa wilayah Sulsel. Kondisi tersebut terpantau di Pulau Jampea, di Desa Kayuadi Selayar dan pesisir Bulukumba.

"Terjadi tsunami kecil di beberapa lokasi untuk wilayah Sulawesi Selatan, ternyata perubahan bukaan laut misalnya di Jampea sekitar 0,5 meter. Kemudian di Bulukumba 0,5 juga, kemudian di Kayuadi 0,5 dan beberapa tempat lainnya," bebernya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, perubahan tinggi muka air tersebut menunjukkan telah terjadi tsunami dengan status waspada. Namun, peringatan dini tsunami telah berakhir setelah tidak terjadi gelombang besar selama dua jam.

"Iya perubahan tinggi air, artinya tsunami sudah terjadi dengan status waspada yah, tapi sekarang sudah berakhir. Dinyatakan sudah berakhir setelah 2 jam tidak terjadi tsunami yang besar yang menyebabkan kita harus awas," jelasnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat pesisir yang sebelumnya diminta menjauhi pantai saat peringatan dini tsunami untuk kembali ke rumah masing-masing. Status peringatan tsunami saat ini telah dinyatakan berakhir.

"Imbauan BMKG kepada masyarakat, sudah bisa kembali ke rumah masing-masing karena peringatan ini tsunami sudah dinyatakan berakhir," katanya.

Terkait potensi gempa susulan, kata Jamroni, hingga kini magnitudonya terus menurun. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap kemungkinan gempa berikutnya.

"Gempa susulan sampai saat ini sudah terjadi 82 kali, untuk magnitud-nya menurun semua," ungkapnya.

"Mudah-mudahan tidak ada gempa yang lebih besar. Tapi biasanya melihat model dari gempanya ini semakin menurun magnitud-nya," sambungnya.

BMKG sebelumnya menyebut gempa M 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. BMKG mengeluarkan peringatan dini terjadinya tsunami.

Wilayah yang mendapatkan peringatan dini tsunami di NTT antara lain meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende Bagian Utara, Sikka Bagian Utara, Pulau Ende, Pulau Sikka hingga Flores.

Sementara wilayah NTB antara lain meliputi Bima Pulau Sangiang, Bima Pulau Gili, Kota Bima bagian Utara, Dompu. Selanjutnya wilayah Sulsel meliputi Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Bone, Wajo.

Lalu ada Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, hingga Kota Palopo. Sementara Sulawesi Tenggara meliputi wilayah Kota Baubau.



(hsr/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads