Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,0 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdampak di sejumlah wilayah Pulau Sulawesi turut merusak 13 rumah khususnya di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejumlah warga di Kecamatan Pasimarannu, Selayar, dilaporkan masih bertahan di pengungsian.
"Jadi kemarin itu akibat gempa tersebut ada empasan air dari air laut itu masuk ke pemukiman warga dan ada juga 9 rumah yang rusak ringan, dan 4 rumah yang rusak sedang. Itu 9 unit (di antaranya) yang terendam lumpur di Kecamatan Pasilambena," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kepulauan Selayar Muhammad Ikbal kepada detikSulsel, Minggu (16/8/2026).
Ikbal mengatakan, hempasan air laut mengenai rumah akibat getaran gempa. Dia memastikan gempa ini tidak membuat rumah warga ambruk atau sampai mengakibatkan korban luka maupun jiwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Termasuk juga ada beberapa perahu warga yang rusak dan terbawa naik ke daratan. Ada 4 buah perahu yang terbawa, 3 yang rusak di Kecamatan Pasilambena," paparnya.
Ikbal menjelaskan, getaran gempa terasa di lima kecamatan, yakni Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Takabonerate, Pasilambena dan Pasimarannu. Namun dua kecamatan di antaranya yang paling terdampak.
"Namun yang lebih dekat dari titik tersebut ada dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pasimarannu dan Kecamatan Pasilambena," ungkap Ikbal.
Laporan dari pemerintah kecamatan setempat, awalnya ada 278 kepala keluarga (KK) yang mengungsi di Pasimarannu pascagempa, sedangkan 130 KK lainnya di Pasilambena. Mereka sebelumnya mengungsi secara mandiri di daerah ketinggian.
"Namun di Kecamatan Pasimarannu berdasarkan saya koordinasi dengan pak camat, dari total pengungsi sekitar 278 KK itu, masih memilih bertahan sekitar 20% dari jumlah KK. Kalau kita perkirakan ini mungkin dia berkisar kurang lebih 50 KK yang memilih bertahan," terangnya.
Sementara pengungsi di Pasilambena dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing secara bertahap. Pemkab Selayar juga tengah mengupayakan agar kebutuhan mendasar warga yang mengungsi bisa terpenuhi.
"Kondisi terkini para pengungsi di Kecamatan Pasilambena sudah kembali dari titik-titik pengungsian ke rumah masing-masing dan beraktivitas kembali dengan normal namun di Kecamatan Pasimarannu masih ada sekitar 20% memilih bertahan di lokasi pengisian sampai saat ini," jelas Ikbal.
Gempa M 7,0 Berujung 47 Orang Tewas
Diketahui, gempa M 7,0 yang mengguncang NTT terjadi pada Sabtu (15/8). BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pada sejumlah wilayah NTT termasuk Nusa Tenggara Barat, Sulsel hingga Sulawesi Tenggara (Sultra)
Di Sulsel, getaran gempa sempat dirasakan di Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros. Di Makassar, getaran juga terasa hingga membuat warga berlarian keluar rumah.
Adapun wilayah berpotensi tsunami di Sulsel awalnya meliputi Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Bone, Wajo, Luwu Timur, Luwu Utara, hingga Kota Palopo. Sementara Sultra meliputi wilayah Kota Baubau.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 47 orang dilaporkan tewas akibat gempa di Flores, NTT. Sementara 1.357 rumah mengalami kerusakan.
"Bencana ini merenggut nyawa 47 orang, dengan korban meninggal dunia terbanyak berada di Kabupaten Manggarai 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Sementara itu, korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
"Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah," paparnya.
