Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaharui data dampak gempa berkekuatan magnitude (M) 7,0 di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdampak hingga Sulawesi khususnya Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Total 47 orang dilaporkan tewas dan 1.357 rumah mengalami kerusakan.
"Bencana ini merenggut nyawa 47 orang, dengan korban meninggal dunia terbanyak berada di Kabupaten Manggarai 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Sementara itu, korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berton melanjutkan, gempa yang berpusat di laut ini mengakibatkan kerugian material yang melumpuhkan aktivitas warga. Ribuan rumah terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
"Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah," paparnya.
BNPB turut mencatat lebih dari 5.000 jiwa mengungsi akibat gempa. Berdasarkan pemutakhiran data per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.
"Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian. Sedangkan di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa," ucapnya.
"Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar," tambah Berton.
Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset.
"Merespons eskalasi bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputtusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. Langkah serupa juga telah diambil secara resmi di tingkat kabupaten/kota terdampak," tuturnya.
Kabupaten Manggarai telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari (15 Agustus-13 November 2026) melalui Keputusan Bupati Nomor 319 Tahun 2026. Kebijakan ini diikuti dengan pembentukan pos komando lewat Keputusan Nomor 320 Tahun 2026.
Kabupaten Ngada memberlakukan masa Tanggap Darurat Bencana dan pembentukan Pos Komando selama 30 hari (15 Agustus-15 September 2026) yang ditetapkan lewat Keputusan Bupati Nomor 441 dan No.442/KEP/HK/2026. Kabupaten Manggarai Timur juga menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.
"Tim gabungan dan BPBD setempat masih bersiaga menyisir lokasi untuk melakukan pendataan dan verifikasi lanjutan. Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
"Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka-Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui. Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende-Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa," jelas Berton.
Diketahui, gempa M 7,0 yang mengguncang NTT terjadi pada Sabtu (15/8). BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pada sejumlah wilayah NTT termasuk Nusa Tenggara Barat, Sulsel hingga Sulawesi Tenggara (Sultra)
Di Sulsel, getaran gempa sempat dirasakan di Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros. Di Makassar, getaran juga terasa hingga membuat warga berlarian keluar rumah.
Adapun wilayah berpotensi tsunami di Sulsel awalnya meliputi Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Bone, Wajo, Luwu Timur, Luwu Utara, hingga Kota Palopo. Sementara Sultra meliputi wilayah Kota Baubau.
