Renungan Harian Katolik Kamis 13 Agustus 2026: Pengampunan Transformatif

Renungan Harian Katolik Kamis 13 Agustus 2026: Pengampunan Transformatif

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Kamis, 13 Agu 2026 05:45 WIB
Renungan harian Katolik dan bacaan Injilnya
Ilustrasi renungan harian Katolik (Foto: etheriel/Pixabay)
Makassar -

Renungan Harian Katolik Kamis 13 Agustus 2026 dapat menjadi bahan refleksi bagi umat Katolik untuk sejenak berhenti dari kesibukan dan melihat kembali perjalanan hidup bersama Tuhan. Melalui renungan, umat diajak untuk semakin memahami kehendak-Nya serta menemukan kekuatan dalam menjalani berbagai persoalan kehidupan.

Setiap hari menghadirkan pengalaman, tantangan, dan pilihan yang dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Sabda Tuhan yang direnungkan dapat menjadi pedoman agar umat mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih terbuka dan penuh kasih.

Nah, bagi detikers yang ingin membca renungan harian Katolik hari ini di bawah ini detikSulsel telah menyajikannya. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Harian Katolik Hari Ini 13 Agustus 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: Yeh 12:1-12

Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:

ADVERTISEMENT

"Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.

Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak.

Bawalah barang-barangmu itu ke luar seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari di hadapan mata mereka, seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan.

Di hadapan mata mereka perbuatlah sebuah lobang di tembok dan keluarlah dari situ.

Di hadapan mata mereka taruhlah barang-barangmu ke atas bahumu, dan bawalah itu ke luar pada malam gelap; engkau harus menutupi mukamu, sehingga engkau tidak melihat tanah; sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel."

Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku: aku membawa pada siang hari barang-barang seperti barang-barang seorang buangan dan pada malam hari aku membuat dengan tanganku sebuah lobang di tembok, pada malam gelap aku keluar dan di hadapan mata mereka aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku.

Pada hari besoknya datanglah firman TUHAN kepadaku:

"Hai anak manusia, bukankah ditanya oleh kaum Israel, kaum pemberontak itu kepadamu: Apakah yang kaulakukan ini?

Katakanlah kepada mereka: beginilah firman Tuhan ALLAH: Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.

Katakanlah: Aku menjadi lambang bagimu; seperti yang kulakukan ini begitulah akan berlaku kepada mereka: sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan.

Dan raja yang di tengah-tengah mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap dan akan pergi ke luar; orang akan membuat sebuah lobang di tembok supaya ada baginya jalan keluar; ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu.

Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-57.58-59.61-62

Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya;

mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya;

mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka.

Ketika Allah mendengarnya, Ia menjadi gemas, Ia menolak Israel sama sekali;

Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, membiarkan kehormatan-Nya jatuh ke tangan lawan;

Ia membiarkan umat-Nya dimakan pedang, dan gemaslah Ia atas milik-Nya sendiri.

Bacaan Injil: Mat 18:21-19:1

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

Renungan Hari Ini 13 Agustsu 2026: Pengampunan Transformatif

Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh" (Mat. 18:22)

Tuhan Yesus memberi wejangan rekonsiliasi kepada Petrus dan murid-murid lainnya dengan cara yang berbeda. Dalam tradisi dan hukum lisan Yahudi kuno (Talmud), orang yang bersalah melakukan teshuvah (pertobatan) dengan meminta maaf hingga tiga kali kepada si korban.

Petrus mungkin menganggap bahwa dengan menawarkan tujuh kali, ia sudah melampaui batas standar dan menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Namun Petrus terkesima saat Yesus mengatakan bahwa pengampunan tidak cukup tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh, maksudnya tanpa batas.

Hukum pengampunan berlaku timbal balik. Barang siapa mengampuni akan diampuni oleh Bapa di surga.

Rumusan ini dipakemkan Yesus dalam Doa Bapa Kami: Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Perumpamaan Hamba yang Tidak Mengampuni (Mat. 18:32-33) menjelaskan bahwa pengampunan bukan membebaskan kesalahan atau dosa saja, tetapi memberi pesan transformatif kemurahan hati yang kita terima dari Tuhan harus kita salurkan kepada sesama.

Pengampunan adalah amanat penting, tetapi tersulit dari perintah baru Yesus kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi (Yoh. 13:34).

Nelson Mandela adalah presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih demokratis, juga peraih Nobel Perdamaian. Beliau adalah orang kulit hitam yang ditindas dan dipenjara selama 27 tahun karena apartheid (dominasi ras kulit putih).

Alih-alih membalas dendam, dia menggandeng rival politiknya Frederik de Klerk, membangun rekonsiliasi nasional yang berhasil menyembuhkan bangsa pasca-apartheid melalui dialog, saling memaafkan, dan inklusivitas. Menurutnya, "Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi membangun masa depan yang lebih baik" bagi semua. Pengampunan transformatif Mandela melahirkan Resolusi PBB 1973 yang menghapuskan sistem diskriminasi rasial.

Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Dives in Misericordia - Kaya dalam Kerahiman (1980) menggarisbawahi pesan Yesus tentang pengampunan tak terbatas (Kerahiman Ilahi), sehingga orang berdosa yang paling keras kepala sekali pun dapat menerima belas kasih-Nya.

Marilah kita mohon rahmat pengampunan sambil berdevosi Kerahiman Ilahi agar mampu mengampuni demi keselamatan jiwa-jiwa.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: H.S. Haryanto Tanudjaja

Doa Penutup

Tuhan Yesus, hari ini Santo Pontianus dan Santo Hipolitus dikenang sebagai saksi pengampunan dan pengharapan kristiani. Utuslah Roh Hikmat agar kami bertransformasi menjadi murid-Mu yang mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, serta mengampuni seorang akan yang lain. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Kamis, 13 Agustus 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Tuhan memberkati!



(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads