Kans Ilham Arief Sirajuddin (IAS) terpilih sebagai ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) masih belum aman meski sudah didukung mayoritas DPD II menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Diskresi Ketua Umum Bahlil Lahadalia tak menjamin kemenangan di hari pemilihan nanti.
Musda DPD I Golkar Sulsel sudah dijadwalkan digelar di Hotel Claro, Makassar pada 18 Juli mendatang. IAS memastikan diri maju menantang Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin setelah menerima diskresi.
IAS sendiri telah mengklaim mendapat dukungan mayoritas DPD II setelah menggelar pertemuan di kediamannya, Jalan Batu Putih, Makassar, Minggu (28/6) siang. Ia bahkan sesumbar berharap dapat memenangkan pertarungan secara aklamasi.
Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma pun menilai surat diskresi yang diberikan kepada IAS tidak otomatis menjamin kemenangan. Diskresi disebut hanya memberikan ruang bagi IAS untuk memenuhi syarat mengikuti kontestasi.
"Jika kita melihat adanya diskresi yang diberikan oleh DPP, dalam hal ini oleh Ketua Umum, kepada Pak IAS, saya kira hal itu (diskresi) dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulawesi Selatan, ini bukan pertama kalinya terjadi," ujar Sukri kepada detikSulsel, Senin (6/7).
Sukri mengatakan pemberian diskresi merupakan mekanisme yang lumrah di internal Partai Golkar. Dia menilai kebijakan tersebut bukan kali pertama diterapkan di Musda Golkar Sulsel.
Menurut Sukri, pengalaman Musda sebelumnya menunjukkan diskresi bukan jaminan seseorang akan terpilih menjadi ketua. Dia menilai keputusan akhir tetap ditentukan melalui mekanisme Musda.
"Beberapa waktu yang lalu, Pak Supriansah juga mendapatkan diskresi ketika akan maju, meskipun kemudian yang akhirnya terpilih menjadi ketua adalah Pak Taufan Pawe. Jadi, saya kira diskresi adalah bagian dari kebijakan yang dimungkinkan dan tidak melanggar aturan di dalam tubuh Golkar," kata Sukri.
Sehingga, dia menilai diskresi ini bukan menjadi jaminan bagi Pak IAS bahwa ia pasti akan terpilih. Dia menyebut 'surat saksi' itu sekadar administrasi agar IAS bisa ikut berkompetisi jadi calon ketua Golkar Sulsel.
"Langkah ini bisa dibaca sebagai kebijaksanaan dari Ketua Umum untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang dianggap mumpuni untuk ikut bertarung. Masalah siapa pemenangnya nanti, jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, itu adalah urusan yang berbeda," katanya.
Simak Video "Video Bahlil Sapa Pramono di Musda Golkar: Senior dan Guru Saya"
(asm/asm)