IAS Jangan Senang Dulu

Musda Golkar Sulsel

IAS Jangan Senang Dulu

Tim detikSulsel - detikSulsel
Selasa, 07 Jul 2026 08:30 WIB
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia menyerahkan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju di Musda Golkar Sulsel.
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia menyerahkan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju di Musda Golkar Sulsel. Foto: (dok. Istimewa)
Makassar -

Kans Ilham Arief Sirajuddin (IAS) terpilih sebagai ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) masih belum aman meski sudah didukung mayoritas DPD II menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Diskresi Ketua Umum Bahlil Lahadalia tak menjamin kemenangan di hari pemilihan nanti.

Musda DPD I Golkar Sulsel sudah dijadwalkan digelar di Hotel Claro, Makassar pada 18 Juli mendatang. IAS memastikan diri maju menantang Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin setelah menerima diskresi.

IAS sendiri telah mengklaim mendapat dukungan mayoritas DPD II setelah menggelar pertemuan di kediamannya, Jalan Batu Putih, Makassar, Minggu (28/6) siang. Ia bahkan sesumbar berharap dapat memenangkan pertarungan secara aklamasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma pun menilai surat diskresi yang diberikan kepada IAS tidak otomatis menjamin kemenangan. Diskresi disebut hanya memberikan ruang bagi IAS untuk memenuhi syarat mengikuti kontestasi.

"Jika kita melihat adanya diskresi yang diberikan oleh DPP, dalam hal ini oleh Ketua Umum, kepada Pak IAS, saya kira hal itu (diskresi) dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulawesi Selatan, ini bukan pertama kalinya terjadi," ujar Sukri kepada detikSulsel, Senin (6/7).

ADVERTISEMENT

Sukri mengatakan pemberian diskresi merupakan mekanisme yang lumrah di internal Partai Golkar. Dia menilai kebijakan tersebut bukan kali pertama diterapkan di Musda Golkar Sulsel.

Menurut Sukri, pengalaman Musda sebelumnya menunjukkan diskresi bukan jaminan seseorang akan terpilih menjadi ketua. Dia menilai keputusan akhir tetap ditentukan melalui mekanisme Musda.

"Beberapa waktu yang lalu, Pak Supriansah juga mendapatkan diskresi ketika akan maju, meskipun kemudian yang akhirnya terpilih menjadi ketua adalah Pak Taufan Pawe. Jadi, saya kira diskresi adalah bagian dari kebijakan yang dimungkinkan dan tidak melanggar aturan di dalam tubuh Golkar," kata Sukri.

Sehingga, dia menilai diskresi ini bukan menjadi jaminan bagi Pak IAS bahwa ia pasti akan terpilih. Dia menyebut 'surat saksi' itu sekadar administrasi agar IAS bisa ikut berkompetisi jadi calon ketua Golkar Sulsel.

"Langkah ini bisa dibaca sebagai kebijaksanaan dari Ketua Umum untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang dianggap mumpuni untuk ikut bertarung. Masalah siapa pemenangnya nanti, jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, itu adalah urusan yang berbeda," katanya.

Sukri juga menyoroti dinamika politik yang berkembang setelah keluarnya diskresi, termasuk isu adanya pergeseran dukungan dari kubu Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin kepada IAS. Menurutnya, perpindahan dukungan merupakan hal yang lazim dalam proses politik internal partai.

"Saya kira itu adalah bagian dari dinamika internal Golkar. Kita akan melihat apakah pergeseran ini betul-betul akan bertahan di sana, atau justru akan dinamis saat proses Musda berlangsung nanti," ucapnya.

Di sisi lain, Sukri menilai DPP Golkar tidak boleh berlarut-larut menunda pelaksanaan Musda Sulsel. Menurutnya, kepastian kepemimpinan dibutuhkan agar Golkar bisa segera fokus menghadapi agenda politik menuju Pemilu 2029.

"Golkar tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk mengurus aspek internal, karena waktu terus berjalan mendekati tahun 2029 dan 2030," ujarnya.

Sukri menegaskan tujuan Musda bukan sekadar memilih ketua baru. Dia menilai DPP akan mempertimbangkan figur yang mampu mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.

"Jangan lupa, tujuannya bukan hanya sekadar mempunyai ketua, melainkan membawa Golkar agar bisa bersaing ke depan dengan kondisi dan konteks yang ada di Sulsel. Siapa pun yang terpilih nanti harus bisa membawa Golkar kembali berjaya," pungkasnya.

IAS Klaim Didukung Mayoritas DPD II

IAS sempat mengumpulkan DPD II di markas pemenangannya, Jalan Batu Putih, Makassar, Minggu (28/6) siang. IAS mengklaim langsung mendapatkan 15 dukungan dari DPD II yang 11 di antaranya sempat mendukung Appi.

IAS mengatakan pertemuan tersebut merupakan perintah langsung dari Ketum Bahlil Lahadalia. IAS juga mengatakan Ketum Bahlil akan hadir langsung pada Musda Golkar Sulsel nantinya.

"Pak Ketum (Bahlil) bilang, 'Gini Kak Aco, konsolidasi dulu'. Jadi hasil pertemuan ini yang saya akan sampaikan kepada Ketum. Mungkin kalau dia sudah siap, dia menyesuaikan waktunya, karena beliau yang mau hadir di Musda Golkar Sulsel. Jadi Pak Ketum memerintahkan saya untuk konsolidasi dulu makanya pertemuan bersama DPD II dan ormas Golkar dilakukan hari ini," katanya.

IAS kemudian merinci sejumlah DPD II yang menyatakan dukungan terhadap dirinya maju Musda dalam bentuk rekomendasi. Dia mengklaim sebanyak 15 DPD telah menyatakan dukungan.

"Alhamdulillah hari ini yang datang lebih dari separuh dan menyampaikan (dukungan) serta dan ada yang tidak sempat datang. Totalnya yang menyampaikan (dukungan) itu ada 15 pemilik suara, yang sudah menyampaikan sikap dan memberikan rekomendasi dukungan," pungkas IAS.

Sebelumnya, kubu Appi mengklaim didukung oleh 21 dari 24 DPD II Golkar kabupaten/kota maju di Musda Golkar Sulsel. Kini sebanyak 11 di antaranya mengalihkan dukungan ke IAS dalam pertemuan tersebut.

DPD II kubu Appi yang mengalihkan dukungan yakni DPD II Golkar Selayar, Luwu Utara, Toraja Utara, Tanah Toraja, Sidrap, Bulukumba. Selanjutnya, DPD Sinjai, Luwu Timur, Palopo, Pangkep, dan Soppeng.

Sementara 3 DPD II sebelumnya yang tak menyatakan sikap mendukung Appi juga resmi menyerahkan rekomendasi dukungan ke IAS yakni Barru, Bone, dan Parepare. Sedangkan DPD II belum beralih ke IAS atau masih dukung Appi yakni DPD II Golkar Makassar, Maros, Pinrang, Takalar, Gowa, Jeneponto, Wajo, Luwu, Enrekang, dan Bantaeng.

Halaman 3 dari 4


Simak Video "Video Bahlil Sapa Pramono di Musda Golkar: Senior dan Guru Saya"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads