Diskresi Bahlil Belum Jamin IAS Terpilih di Musda Golkar Sulsel

Diskresi Bahlil Belum Jamin IAS Terpilih di Musda Golkar Sulsel

Sahrul Alim - detikSulsel
Senin, 06 Jul 2026 18:30 WIB
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia menyerahkan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju di Musda Golkar Sulsel.
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia menyerahkan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk maju di Musda Golkar Sulsel. Foto: (dok. Istimewa)
Makassar -

Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma menilai surat diskresi yang diberikan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) tidak otomatis menjamin kemenangan di Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel). Diskresi disebut hanya memberikan ruang bagi IAS untuk memenuhi syarat mengikuti kontestasi.

"Jika kita melihat adanya diskresi yang diberikan oleh DPP, dalam hal ini oleh Ketua Umum, kepada Pak IAS, saya kira hal itu (diskresi) dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulawesi Selatan, ini bukan pertama kalinya terjadi," ujar Sukri kepada detikSulsel, Senin (6/7/2026).

Sukri mengatakan pemberian diskresi merupakan mekanisme yang lumrah di internal Partai Golkar. Dia menilai kebijakan tersebut bukan kali pertama diterapkan di Musda Golkar Sulsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira hal itu dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulsel, ini bukan pertama kalinya terjadi," jelasnya.

Menurut Sukri, pengalaman Musda sebelumnya menunjukkan diskresi bukan jaminan seseorang akan terpilih menjadi ketua. Dia menilai keputusan akhir tetap ditentukan melalui mekanisme Musda.

ADVERTISEMENT

"Beberapa waktu yang lalu, Pak Supriansah juga mendapatkan diskresi ketika akan maju, meskipun kemudian yang akhirnya terpilih menjadi ketua adalah Pak Taufan Pawe. Jadi, saya kira diskresi adalah bagian dari kebijakan yang dimungkinkan dan tidak melanggar aturan di dalam tubuh Golkar," kata Sukri.

Sehingga, dia menilai diskresi ini bukan menjadi jaminan bagi Pak IAS bahwa ia pasti akan terpilih. Dia menyebut 'surat saksi' itu sekadar administrasi agar IAS bisa ikut berkompetisi jadi calon ketua Golkar Sulsel.

"Langkah ini bisa dibaca sebagai kebijaksanaan dari Ketua Umum untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang dianggap mumpuni untuk ikut bertarung. Masalah siapa pemenangnya nanti, jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, itu adalah urusan yang berbeda," katanya.

Sukri juga menyoroti dinamika politik yang berkembang setelah keluarnya diskresi, termasuk isu adanya pergeseran dukungan dari kubu Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin kepada IAS. Menurutnya, perpindahan dukungan merupakan hal yang lazim dalam proses politik internal partai.

"Saya kira itu adalah bagian dari dinamika internal Golkar. Kita akan melihat apakah pergeseran ini betul-betul akan bertahan di sana, atau justru akan dinamis saat proses Musda berlangsung nanti," ucapnya.

Di sisi lain, Sukri menilai DPP Golkar tidak boleh berlarut-larut menunda pelaksanaan Musda Sulsel. Menurutnya, kepastian kepemimpinan dibutuhkan agar Golkar bisa segera fokus menghadapi agenda politik menuju Pemilu 2029.

"Golkar tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk mengurus aspek internal, karena waktu terus berjalan mendekati tahun 2029 dan 2030," ujarnya.

Sukri menegaskan tujuan Musda bukan sekadar memilih ketua baru. Dia menilai DPP akan mempertimbangkan figur yang mampu mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.

"Jangan lupa, tujuannya bukan hanya sekadar mempunyai ketua, melainkan membawa Golkar agar bisa bersaing ke depan dengan kondisi dan konteks yang ada di Sulsel. Siapa pun yang terpilih nanti harus bisa membawa Golkar kembali berjaya," pungkasnya.

Diketahui, mantan Wali Kota Makassar IAS menerima diskresi untuk mencalonkan diri sebagai calon ketua Golkar Sulsel lewat Musda di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Rabu (24/6). Surat diskresi itu diterima langsung IAS dari Ketum Bahlil.

"(Diskresi) sudah sama IAS. Diserahkan jam 19.00 tadi di DPP Golkar," ujar Plt Ketua Golkar Sulsel Muhidin Mohamad Said kepada detikSulsel, Rabu (24/6).

Sementara itu, Musda Golkar Sulsel akan digelar di Hotel Claro, Makassar, pada 18 Juli mendatang. Penjaringan calon ketua Golkar Sulsel akan diumumkan pengarah (steering committee) pekan ini.

"Iya sudah fiks 18 Juli musda sesuai surat DPP, soal teknis pelaksanaan, setahu saya teman-teman OC (panitia) juga tengah merampungkan persiapan teknis untuk dilaksanakan di Claro. Tapi tentang waktu pembukaan musda masih menyesuaikan jam kedatangan Ketua Umum Bahlil tiba dari luar negeri," ujar Koordinator Steering Musda XI DPD I Golkar Sulsel Armin Mustamin Toputiri kepada detikSulsel, Senin (6/7).




(asm/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads