Renungan Harian Katolik Selasa 23 Juni 2026: Mutiara Itu untuk Siapa?

Renungan Harian Katolik Selasa 23 Juni 2026: Mutiara Itu untuk Siapa?

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Selasa, 23 Jun 2026 05:45 WIB
Renungan Harian Katolik
Ilustrasi renungan harian (Foto: pngfree)
Makassar -

Renungan Harian Katolik Selasa, 23 Juni 2026 mengajak umat beriman untuk merenungkan makna sejati dari harta rohani yang Tuhan percayakan kepada setiap orang. Melalui tema "Mutiara Itu untuk Siapa?", umat diajak memahami kapan dan kepada siapa nilai-nilai Kerajaan Allah perlu dibagikan dengan bijaksana.

Melalui bacaan Injil hari ini, umat diajak untuk menghargai "mutiara" berharga berupa iman, kasih, dan ajaran Tuhan yang telah diterima. Selain itu, renungan ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan dan kepekaan diperlukan agar pewartaan Injil dapat membawa kebaikan bagi sesama.

Berikut Renungan Harian Katolik Selasa, 23 Juni 2026 lengkap yang dapat menjadi bahan refleksi dan penguatan iman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Liturgi Katolik Hari Ini 23 Juni 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: 2 Raj 19:9b-11.14-21.31-35a.36

Dalam pada itu raja mendengar tentang Tirhaka, raja Etiopia, berita yang demikian: "Sesungguhnya, ia telah keluar berperang melawan engkau," maka disuruhnyalah kembali utusan-utusan kepada Hizkia dengan pesan:

ADVERTISEMENT

"Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur.

Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan?

Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN.

Hizkia berdoa di hadapan TUHAN dengan berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.

Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mengaibkan Allah yang hidup.

Ya TUHAN, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan bangsa-bangsa dan negeri-negeri mereka

dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang.

Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN."

Lalu Yesaya bin Amos menyuruh orang kepada Hizkia mengatakan: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Apa yang telah kaudoakan kepada-Ku mengenai Sanherib, raja Asyur, telah Kudengar.

Inilah firman yang telah diucapkan TUHAN mengenai dia: Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu.

Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai raja Asyur: Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana; juga ia tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok untuk mengepungnya.

Melalui jalan, dari mana ia datang, ia akan pulang, tetapi ke kota ini ia tidak akan masuk, demikianlah firman TUHAN.

Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."

Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!

Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur, dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe.

Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-3a.3b-4.10-11

Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju;

Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Biarlah gunung Sion bersukacita; biarlah anak-anak perempuan Yehuda bersorak-sorak oleh karena penghukuman-Mu!

Bacaan Injil: Mat 7:6.12-14

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Renungan Katolik Hari Ini 23 Juni 2026: Mutiara Itu untuk Siapa?

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." (Mat. 7:6)

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

(Mat. 7:6). Sepintas mendengar perumpamaan dengan kata 'anjing' dan 'babi' menjadi aneh di telinga kita saat ini, jika tidak meneliti latar belakang bagaimana Yesus mengeluarkan kata-kata tersebut. Karena bukankah anjing dan babi adalah makhluk ciptaan-Nya, mengapa jadi berkesan negatif seperti itu?

Di zaman itu orang benci dengan anjing yang banyak berkeliaran dimana-mana. Babi juga demikian, sebagai binatang najis, bahkan merupakan sebutan bagi orang kafir dan juga penjajah Romawi. Tidak jarang muncul umpatan pada orang lain dengan memakai kata 'anjing' atau 'babi'.

Analogi tentang anjing dan babi adalah sebagai perwakilan dari mereka yang akan mengejek, menolak dan menghujat Injil yang disampaikan kepada mereka. Analogi barang-barang kudus tidak cocok diberikan pada anjing karena ia tidak bisa menggunakannya, apalagi mutiara diberikan pada babi. Barang kudus dan mutiara adalah barang berharga seperti permata, logam mulia yang diartikan sebagai kebenaran Firman Tuhan yang mahal nilainya.

Pada suatu pesta pernikahan, seorang teman bertanya dengan nada mengejek, "Mengapa di pemberkatan pernikahan tadi, pasangan pengantin berdoa menghadap patung Bunda Maria, bukankah kalian adalah menyembah berhala?" Saya menjawab, "Kami tidak menyembah patung Bunda Maria, kami menghormati dia dan percaya bahwa dia akan menyampaikan doa-doa kami kepada Putranya." Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang peran Bunda Maria-sampai kami pada titik 'bisa' dan 'mampu' menghormati dia sebagai Bunda Gereja. Karena mutiara yang indah ini tidak perlu diberikan pada orang yang belum siap menerima kenyataan ini.

Hati saya jadi tidak enak di tengah pesta pernikahan yang penuh sukacita dan berpikir bahwa memang mengimani Yesus Kristus tidak selalu mengenakkan, tidak selalu berupa jalan tol yang halus dan bebas hambatan. Di akhir Injil menjelaskan bahwa mengimani Yesus Kristus seperti melewati sempitnya pintu dan sesaknya jalan kehidupan. Hanya sedikit orang yang mendapatinya (Mat 7:14).

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Desi Ursula

Doa Penutup

Bapa Maha Kasih, kami bersyukur atas anugerah iman akan Yesus Kristus. Iman akan Yesus Kristus adalah mutiara paling berharga bagi kehidupan kami. Semoga setiap tutur kata dan perilaku kami, menjadi mutiara bagi sesama di sekitar kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Selasa, 23 Juni 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Semoga Tuhan memberkati!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads