Renungan Harian Katolik Rabu 17 Juni 2026: Aman dalam Tangan Tuhan

Renungan Harian Katolik Rabu 17 Juni 2026: Aman dalam Tangan Tuhan

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Rabu, 17 Jun 2026 07:45 WIB
Renungan Harian Katolik
Ilustrasi renungan harian (Foto: Pixabay)
Makassar -

Renungan harian Katolik Rabu, 17 Juni 2026 mengajak umat beriman untuk semakin menaruh kepercayaan kepada Tuhan dalam setiap situasi kehidupan. Di tengah berbagai tantangan, kekhawatiran, dan ketidakpastian yang sering dihadapi, Sabda Tuhan mengingatkan bahwa kasih dan penyelenggaraan-Nya senantiasa menyertai umat-Nya. Karena itu, tidak ada alasan untuk takut selama tetap berjalan dalam kehendak-Nya.

Melalui Renungan harian Katolik Rabu, 17 Juni 2026 yang bertema "Aman dalam Tangan Tuhan", umat diajak untuk memperbarui iman dan harapan kepada Allah. Saat kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan akan memimpin langkah kita, memberikan kekuatan di tengah kesulitan, serta menghadirkan damai yang melampaui segala kekhawatiran.

Nah, berikut renungan harian Katolik lengkap bacaan liturgi, hingga teks Mazmur Tanggapan Senin, 17 Juni 2026. Yuk, simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Renungan Harian Katolik Hari Ini 17 Juni 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: 2 Raj 2:1.6-14

Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal.

ADVERTISEMENT

Berkatalah Elia kepadanya: "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan." Jawabnya: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu berjalanlah keduanya.

Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan.

Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di tanah yang kering.

Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."

Berkatalah Elia: "Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi."

Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.

Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.

Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan.

Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: "Di manakah TUHAN, Allah Elia?" Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa.

Mazmur Tanggapan: Mzm 31;20.21.24

Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah.

Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!

Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Renungan Hari Ini: Aman dalam Tangan Tuhan

Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau sediakan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu di hadapan manusia! (Mzm. 31:20)

Daud menuliskan Mazmur ini ketika ia sedang terdesak oleh musuh dalam medan perang, yang siap menerkam kapan saja dan membunuhnya. Namun, iman Daud memang sangat besar dan teguh akan kasih dan perlindungan Allah kepadanya.

Daud tahu bahwa hanya Allah tempat perlindungan terbaik baginya. Tiada manusia yang dapat ia andalkan untuk menolong ataupun melindunginya seperti Allah.

Ia senantiasa mengandalkan Allah, menyerahkan nyawa dan hidupnya kepada Allah setiap saat berada di medan perang.

Penyerahan diri kepada Allah tidak pernah mengecewakannya, tidak pernah gagal!

Allah tidak pernah mengecewakan anak-anak-Nya yang berseru meminta pertolongan dan berlindung dalam kepak sayap-Nya.

Aku pun teringat akan suatu masa di dalam hidupku, saat di negeri ini mengalami kerusuhan hebat di tahun 1998, yang terkenal dengan sebutan 'Kerusuhan 98'. Ketika itu, aku bekerja di Jakarta, yang cukup jauh dari rumahku di Tangerang.

Tiap saat, situasi di jalan sangat mencekam. Toko-toko dan kantor-kantor dijarah. Waktu itu ada sentimen SARA, di mana sekawanan massa akan menyerang orang-orang yang melintas di jalan dengan ras tertentu yang berbeda keyakinan dengan mereka.

Saat itu... aku hanya bisa berdoa dan berserah diri pada perlindungan Allah, sama seperti yang Daud lakukan. Hatiku dengan penuh iman berseru dan berteriak, bahwa kalau aku harus mati sebagai pengikut Kristus ya sudah tidak apa-apa.

Aku percayakan saja nyawaku dan keluargaku kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang adalah pemiliknya. Nyatanya, iman dan penyerahan diri yang kulakukan kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus sungguh dahsyat.

Bala tentara surga telah diutus oleh Bapa untuk melindungiku dalam perjalanan dari dan pulang ke rumah. Rumahku pun senantiasa aman.

Seperti Daud, penyerahan diriku kepada Allah tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah gagal. Allah Bapa sungguh mengasihi anak-Nya yang berlindung pada-Nya.

Selanjutnya menjadi refleksi bagi kita, maukah kita berjanji dan percaya untuk senantiasa menyerahkan diri dan hidup kita dalam perlindungan Allah Bapa seperti yang Daud lakukan?

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Maria Gratia Mery Effendi

Doa Penutup

Allah Bapa Yang Maha Kasih, puji syukur kepada-Mu untuk senantiasa menyertai hidup kami. Bapa, tiada tempat lain yang teraman dalam hidup kami selain berada dalam tangan-Mu. Untuk itu Bapa, jangan pernah biarkan kami terlepas dari tanganMu. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Rabu, 17 Juni 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Semoga bermanfaat!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads