Aktivitas tambang nikel di dekat permukiman di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), memaksa warga mulai mengungsi ke tempat aman. Jarak galian tambang dengan rumah warga yang paling terdekat kini hanya tersisa 10 meter.
Kondisi itu dialami pasangan Made (66) dan Nurmiati (49) yang rumahnya mulai mengalami kerusakan. Retakan di dinding mulai terlihat lantaran aktivitas alat berat tambang yang semakin mendekat ke permukiman.
"Rumah mereka sudah retak-retak dan longsor terus mendekat ke rumah warga," ujar warga setempat, Ayunia Muis kepada detikcom, Jumat (15/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayunia melanjutkan, bekas galian tambang telah mencapai kedalaman sekitar 50 meter. Galian tambang disebut lebih dulu membuat kandang ayam milik Made lebih dulu ambruk terbawa longsor.
"Kalau hujan warga sudah takut tinggal di rumah karena longsornya terus bergerak. Sekarang mereka sudah kami evakuasi ke rumah yang aman," bebernya.
Menurut Ayu, aktivitas tambang yang dikelola PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) dimulai sejak 2018. Seiring waktu, eksplorasi tambang semakin mengancam keselamatan warga.
"Awal-awal itu mereka menggali di belakang sekolah dengan dalih meratakan tanah dan lainnya. Ternyata itu berlangsung sampai sekarang mereka menambang sampai ada yang kedalaman 50 meter," tuturnya.
"Bayangkan kondisi jarak hanya sekitar 10-15 meter. Paling dekat itu 10 meter, langsung ada lubang sedalam 50 meter. Seberapa bahayanya pemukiman," papar Ayu.
Dia juga mencurigai perizinan pertambangan itu. Pihak perusahaan disebut tidak pernah menunjukkan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).
"Sampai sekarang PT WIN itu tidak mau memperlihatkan amdal-nya selama ini. Ini bentuk kecurigaan warga," sambungnya.
Diketahui, aktivitas tambang nikel itu berlangsung di Desa Torobulu, Dikonfirmasi terpisah, Direktur PT WIN, Muh Nuriman Djalani menepis eksplorasi tambang sampai menggerus lahan permukiman.
"Tidak ada itu (menambang di halaman rumah warga), yang ada penataan lahan permintaan warga untuk menurunkan bukit. Karena kalau ada hujan masuk air di belakang rumahnya," kata Iman.
