Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Gunung ini dikenal memiliki aktivitas vulkanik yang cukup tinggi dan sering mengalami erupsi berupa semburan abu vulkanik.
Gunung Dukono dilaporkan mengalami erupsi pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 07.41 WIT. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) menyebutkan kolom erupsi teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 10.000 meter di atas puncak.
"Terjadi erupsi G. Dukono pada hari Jumat, 08 Mei 2026, pukul 07:41 WIT. Tinggi kolom letusan teramati Β± 10000 m di atas puncak (Β± 11087 m di atas permukaan laut)," tulis PVMBG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikNews, erupsi tersebut dilaporkan menelan korban jiwa. Tercatat tiga orang meninggal dunia, terdiri dari dua warga negara Singapura dan satu warga negara Indonesia asal Jayapura. Sementara itu, berdasarkan pendataan sementara terdapat 20 pendaki yang berada di kawasan Gunung Dukono dan sementara dievakuasi.
"Yaitu dua warga Singapura dan satu warga lokal kelahiran Jayapura," kata Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu dikutip dari detikNews saat dihugungi Jumat (8/5/2026)
Profil dan Karakteristik Geografis Gunung Dukono
Menyadur laman resmi ESDM, Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, Gunung Dukono berada pada koordinat sekitar 1Β°42' Lintang Utara dan 127Β°52' Bujur Timur.
Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.087 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada sekitar 14 kilometer di sebelah barat daya Kota Tobelo, ibu kota Kabupaten Halmahera Utara. Puncaknya berada pada koordinat 1693 Lintang Utara dan 127.894 Bujur Timur.
Di kompleks gunung ini terdapat sejumlah kawah yang pernah aktif, seperti Kawah Tanah Lapang, Dilekene, Gogodom, Telori, dan Kawah Malumpang Warirang. Malumpang-Warirang merupakan pusat kegiatan dari kawah paling aktif di Komplek Dukono saat ini.
Melansir laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karakteristik erupsi Gunung Dukono umumnya bersifat eksplosif dan efusif dengan menghasilkan abu vulkanik, lontaran material pijar, hingga aliran lava. Dengan memperhatikan jenis, volume, dan hasil peninggalan erupsi di masa lalu maupun sampai sekarang, erupsi Gunung Dukono dapat diklasifikasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe Stromboli yakni (Vulkano berskala kecil sampai menengah).
Sejak 13 Juni 2008, status aktivitas Gunung Dukono ditetapkan berada di level II (waspada). Dengan ketetapan tersebut masyarakat dilarang mendekati kawah dalam radius 2 kilo meter.
Berikut rincian identitas Gunung Dukono:
Gunung Dukono Foto: Dok. Wonderfull Indonesia |
- Nama: Gunung Dukono
- Lokasi: Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara
- Ketinggian: 1.087 mdpl
- Koordinat: 1Β°42' LU dan 127Β°52' BT
- Koordinat Puncak: 1,693Β° LU dan 127,894Β° BT
- Tipe Gunung: Gunung api strato (stratovolcano)
- Jenis Erupsi: Eksplosif dan efusif
- Tipe Erupsi: Strombolian hingga Vulkanian skala kecil-menengah
- Material Erupsi: Abu vulkanik, lontaran material pijar, dan aliran lava
- Kawah Aktif: Kawah Malupang-Warirang
- Kawah Lain: Kawah Tanah Lapang, Dilekene, Gogodom, dan Telori
- Status Aktivitas: Level II (Waspada)
- Karakteristik: Memiliki aktivitas erupsi yang cukup sering dan dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Rekam Jejak Sejarah Erupsi Gunung Dukono
Gunung Dukono di Halmahera erupsi siang ini (Dok PVMBG) Foto: Gunung Dukono di Halmahera erupsi siang ini (Dok PVMBG) |
Berdasarkan catatan BNPB, letusan pertama Gunung Dukono terjadi pada tahun 1550 yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Letusan tersebut menghasilkan aliran lava dan laharnya memenuhi selat antara Halmahera dan kerucut sisi utara Gunung Mamuya.
Selanjutnya, letusan dengan skala lebih kecil kembali tercatat pada tahun 1719, 1868, dan 1901. Aktivitas vulkanik Gunung Dukono kemudian terus berlangsung dan tercatat mengalami erupsi secara berkesinambungan sejak tahun 1933 hingga sekarang.
Secara umum, erupsi Gunung Dukono bersifat eksplosif dengan tingkat Volcanic Explosivity Index (VEI) sebesar 3. Selain mengeluarkan abu vulkanik, erupsi gunung ini juga menghasilkan aliran lava serta semburan lumpur.
Letusannya beberapa kali menimbulkan kerusakan di sekitar kawasan gunung. Sebelumnya tidak terdapat korban jiwa yang tercatat akibat erupsi Gunung Dukono. Korban jiwa baru dilaporkan terjadi dalam erupsi pada Mei 2026.
Mengenal Status Level II (Waspada) Gunung Dukono
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, status Level II (Waspada) telah melekat pada Gunung Dukono selama kurang lebih 18 tahun, tepatnya sejak tahun 2008. Status tersebut ditetapkan oleh PVMBG karena aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang masih cukup tinggi dan kerap mengalami erupsi abu vulkanik sepanjang tahun.
Sejak berstatus Waspada, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk mematuhi sejumlah rekomendasi dari PVMBG, yakni:
- Masyarakat di sekitar Gunung Dukono serta pengunjung atau wisatawan diminta tidak beraktivitas, mendaki, maupun mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas.
- Mengingat letusan abu vulkanik terjadi secara periodik dan sebarannya bergantung pada arah serta kecepatan angin, masyarakat di sekitar Gunung Dukono juga direkomendasikan untuk selalu menyiapkan masker atau penutup hidung dan mulut. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.
Apakah Gunung Dukono Boleh Didaki?
Berdasarkan laman resmi PVMBG, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan beraktivitas terlalu dekat dengan Gunung Dukono, khususnya di sekitar Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas vulkanik.
Sejak 11 Desember 2024, PVMBG telah mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas, mendaki, atau mendekati kawasan dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang. Imbauan ini dikeluarkan karena adanya potensi bahaya langsung berupa lontaran material pijar, semburan abu vulkanik, serta gas berbahaya yang dapat membahayakan keselamatan.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, terutama saat musim hujan. Material vulkanik yang terbawa air hujan berpotensi mengalir melalui Sungai Mamuya di sektor utara, serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu di puncak Gunung Dukono.
Dengan demikian berdasarkan rekomendasi tersebut pendakian ke Gunung Dukono boleh dilakukan asal tidak mendekati kawasan dalam radius 4 KM. Namun dengan kondisi sekarang pendakian ke Gunung Dukono tidak disarankan selama aktivitas vulkaniknya masih tinggi.
Itulah informasi mengenai Gunung Dukono semoga bermanfaat ya, detikers!
(alk/alk)













































