Jadi Pembicara di Unhas, Yovie Widianto Usul UMKM Bebas Royalti Bersyarat

Jadi Pembicara di Unhas, Yovie Widianto Usul UMKM Bebas Royalti Bersyarat

Muh. Saddam Reski S - detikSulsel
Kamis, 23 Apr 2026 17:15 WIB
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto. Foto: (Saddam/detikSulsel)
Makassar -

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengusulkan pembebasan royalti musik bagi pelaku UMKM di pinggir jalan. Syaratnya, para pelaku usaha tersebut hanya diperbolehkan memutar lagu-lagu lokal sebagai sarana promosi.

Gagasan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk 'Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP' di Arsjad Rasjid Lecture Theater Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan dihadiri langsung Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa serta Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Muhammad Ruslin.

"Saya punya usulan pribadi sebenarnya, agar UMKM di pinggir jalan itu tidak perlu ditarik royalti asalkan mereka memutar lagu-lagu lokal sebagai ajang promosi," ujar Yovie.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yovie menjelaskan bahwa setiap komposer setidaknya memiliki sembilan hak ekonomi sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta (UUHC). Hak tersebut mencakup mulai dari penerbitan, penggandaan, hingga hak pertunjukan atas sebuah karya cipta.

Regulasi ini menjadi landasan hukum bagi pencipta lagu untuk mendapatkan nilai ekonomi dari setiap karya yang digunakan oleh pihak lain. Namun, Yovie menyoroti kondisi pengelolaan royalti di Indonesia yang dinilainya masih membingungkan.

ADVERTISEMENT

"Sayangnya di kita lembaga collecting-nya, LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) itu belum optimal, sehingga banyak yang salah sesat lagunya, (misal) ini banyak diputer tapi dapet right-nya yang mana," kata Yovie.

Selain soal royalti, Yovie juga menyinggung perkembangan AI (Artificial Intelligence) yang kini mulai merambah ke industri musik. Ia berpendapat meski AI mampu menciptakan karya yang mirip dengan manusia, hasilnya akan terasa membosankan karena tidak memiliki perasaan.

"AI bisa menghasilkan sesuatu yang presisi, luar biasa, bagus bahkan bisa jadi lebih presisi, tapi AI tidak punya hati," tuturnya.

Meski begitu, komposer kondang tersebut menilai AI tidak akan menjadi ancaman jika ditempatkan sebagai pendukung kreativitas. Ia menekankan bahwa kendali penuh atas suatu karya harus tetap berada pada keputusan manusia.

Usai mengisi kuliah umum, staf khusus presiden tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap mahasiswa Unhas. Ia melihat adanya potensi di berbagai bidang yang bisa dikembangkan, mulai dari musik, film, hingga seni.

Yovie mendorong adanya kolaborasi lintas fakultas untuk menciptakan kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) baru dari Unhas. Menurutnya, keterlibatan Fakultas Hukum dari sisi legal hingga Fakultas Ekonomi dari sisi pemasaran akan membangun ekosistem ekonomi kreatif.

"Di sini adalah salah satu tempat bagaimana ekonomi kreatif bisa berkembang di teman-teman mahasiswa dan mereka diharapkan punya diversifikasi usaha," imbuhnya.

Upaya tersebut dilakukan agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada satu bidang ilmu, melainkan mampu menjadi pengusaha kreatif yang tangguh. Yovie meyakini keterlibatan mahasiswa dalam ekonomi kreatif akan membawa dampak positif bagi masa depan Indonesia.

"Jadi nanti kelak kemudian tidak hanya mengandalkan ilmunya saja, tapi dengan kemampuannya dia melakukan usaha ekonomi kreatif," jelas musisi asal Bandung tersebut.



(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads