- Kumpulan Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M Terbaru Khutbah Idul Fitri 2026 #1: Menuju Jiwa yang Suci Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #2: Perkara yang Semestinya Kita lakukan di Hari Raya Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #3: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial Khutbah Pertama Khutbah II Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #4: Memperbaiki Diri, Menguatkan Umat dan Membangun Bangsa Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #5: Musibah Akibat Perbuatan Manusia Merusak Alam Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #6: Kemenangan Idul Fitri Menyemai Kebaikan dan Keberkahan Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #7: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #8: Fitrah yang Tersisa: Meneguhkan Takwa di Tengah Moral yang Memudar, Menguatkan Persatuan dan Tanggung Jawab Kebangsaan Khutbah Pertama Khutbah Kedua Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #9: Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa
- Teks Khutbah Idul Fitri 2026 PDF
Khutbah Idul Fitri menjadi bagian penting dalam ibadah sholat Ied. Khutbah memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan spiritual, nasihat, dan refleksi bagi seluruh jamaah.
Khutbah yang baik tentu membutuhkan persiapan matang, termasuk pemilihan materi yang relevan dan menyentuh hati jamaah. Berbagai tema menarik disajikan, mulai dari refleksi pasca-Ramadhan, menjaga konsistensi ibadah, hingga pentingnya mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.
Naskah juga perlu disusun dengan bahasa yang jelas dan runtut agar mudah dipahami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah sebagai referensi, dalam artikel ini detikSulsel menyajikan kumpulan khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M. Artikel ini juga menyediakan teks khutbah dalam format PDF yang dapat di-download gratis.
Yuk simak selengkapnya!
Kumpulan Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M Terbaru
Khutbah Idul Fitri 2026 #1: Menuju Jiwa yang Suci
Khutbah Pertama
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الَّذِيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي وفقنا الإِثْمَامِ شَهْرٍ رَمَضَانَ وَأَعَانَنَا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا الدِّينَ أَمَّا بَعْدُ M عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ج إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Hari ini rasa haru bahagia bercampur satu dalam kesedihan. Rasa bahagia karena datangnya hari kemenangan, namun dilain sisi akan ada rasa sedih atas kepergian bulan Ramadhan.
Bulan yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW". Rasulullah ditanya, "Musibah apakah itu ya Rasulullah? Nabi SAW menjawab, "Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa dihentikan." (Diriwayatkan dari Jabir).
Rasa sedih ini hanya dirasakan oleh orang yang merasakan nikmatnya Ramadhan. Sebuah pepatah mengungkapkan:
مَنْ ذاقَ حَلَاوَةَ الوِصالِ ذَاقَ مَرَارَةَ الْفِرَاقِ
Artinya: "Siapa yang merasakan manisnya kebersamaan, akan merasakan pahitnya perpisahan."
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tetes air mata karena rasa sedih melepas kepergian Ramadhan, telah bercampur rasa haru bahagia karena telah diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Bahagia suka cita karena diberi kesempatan merayakan hari lebaran bersama-sama dengan orang yang terkasih dan yang tercinta.
Di lain sisi pula, ada mata yang menangis sedih, tertunduk sambil mengingat merenung, dimana sosok yang terkasih pada lebaran-lebaran sebelumnya masih berjabat erat, dan memeluk tubuh dengan hangat namun kini tak lagi bersama dengannya karena telah lebih dahulu menghadap kepada Tuhan. Terngiang dan terekam dengan jelas canda tawa dan kebersamaan dengan sanak saudara, suami, isteri atau anak, dan cucu, namun kini sudah tak lagi.
Rasa sedih yang lebih mendalam, dirasakan oleh seorang anak yang merayakan lebaran tanpa sosok ibu bapaknya. Mengalir deras kerinduan saat mengenang terakhir berlebaran bersama, bersuka cita berangkat dengan penuh bahagia, di mana tangan masih bisa berjabat dengan erat dan merasakan pelukan yang penuh dengan kehangatan, memohon dan restu. Tetapi semua hal tersebut hanya menjadi ingatan yang terikat oleh kerinduan yang mendalam. Hanya untaian doa bersama kerinduan, semoga Tuhan mengumpulkan kelak di surganya nanti.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, dalam suasana seperti ini, di suatu waktu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ka'ab bin Ujrah RA. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Amin.". Setelah Rasulullah SAW turun dari mimbar, kami pun berkata, "Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.". Rasulullah SAW bersabda:
أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفِرْ لَهُ فَقُلْتُ : آمِينَ
Artinya: "Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku berkata, "Amin".
Alangkah ruginya orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan. Di saat Ramadhan, tuhan membuka pintu surga, namun dia enggan memasukinya, saat tuhan menutup pintu neraka namun dia memaksakan diri hendak masuk ke dalamnya. Rugi seragilah kita.
Kelak di akhirat, saat hari pembalasan telah tiba, setiap perbuatan dipertanggungjawabkan, yang hadir hanya penyesalan tiada tara, sebagaimana yang tergambarkan oleh Allah SWT Surah as-Sajadah/32 Ayat 12:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوا رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوْقِنُوْنَ
Artinya: "Dan seandainya engkau melihat para pendurhaka itu menundukkan kepala mereka disisi Tuhan mereka, Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, kami akan mengamalkan yang sholeh, sesungguhnya kami adalah orang yang yakin.".
Rasa sesal telah membuat orang durhaka ingin kembali untuk mengerjakan amal shaleh di dunia. Tapi apalah daya penyesalan tinggallah penyesalan. Jatuh tetes air matanya, merengek memohon agar diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tetesan air mata membasahi pipi, penyesalannya tak henti. Namun semua itu tidak ada artinya, kesempatan itu telah putus sejak nyawa telah dicabut dari raga.
Menyesal lah, sebelum penyesalan itu tidak ada arti, menangislah sebelum pada akhirnya tangisan itu tak memberi manfaat, dan bertaubatlah sebelum pada akhirnya pintu taubat itu telah ditutup!
Bertaubatlah kepada Allah SWT sebab Allah maha penerima taubat. Walau dosa sebesar langit dan bumi, ampunan Allah jauh lebih luas. QS. Az-Zumar ayat 53 sebagai berikut:
قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'
Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي
Artinya: "Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni mu dan Aku tidak peduli."
Untuk itulah di hari berkumpulnya kita di tempat ini, di hari yang fitri, hari yang suci, marilah kita mensucikan diri dengan bertaubat seraya merenung, menyesali, dan menangisi khilaf yang telah diperbuat.
Kedua, ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمين
Artinya: "Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bershalawat ke atasmu." Aku pun berkata, "Amin.".
Rasulullah adalah teladan mulia bagi umat manusia. Segala bentuk perjuangan dakwah Rasulullah SAW adalah bentuk kasih sayang kepada umat manusia agar memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam sejarah disebutkan, perlakuan yang didapatkan oleh Rasulullah begitu tragis saat berdakwah ke Kota Thaif. Utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor. Jibril bertutur kepada sang Nabi, "Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.". Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana.
Kecintaan Rasulullah kepada umat sangat lah besar. Beliau bersabda, "aku rindu dengan kekasihku?". Para sahabat bertanya, "Bukankah kami adalah para kekasihmu?" Rasulullah menjawab, "Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku.".
Atas dasar kecintaan Rasulullah itulah, sudah seharusnya kita senantiasa bershalawat kepada Rasulullah.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.".
Ketiga, ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
Artinya: "Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga.". Aku pun berkata, "Amin.".
Sungguh beruntunglah seseorang yang telah diberi kesempatan hidup bersama ibu bapaknya, sebab dengannya itu dapat mengantarkan dia ke surga selama dia mampu berbakti kepadanya. Namun celakalah orang yang memiliki ibu bapak namun tidak dijadikannya sebagai jalan untuk berbakti.
Pesan orang terdahulu, "seorang ibu mampu merawat sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu". Allah Ta'ala berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (Q.S. Al Isra'/17: 23).
Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, tak ada tidur yang dia nikmati. dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan, Baru sekejap tertutup matanya, tangisan kita pun membangunkannya. Puncak penderitaan seorang ibu Tatkala dia melahirkan. Satu kakinya berada di dunia. Dan satunya lagi berada di kuburan. Kematian siap dia hadapi agar anaknya bisa hidup. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya.
Teramat besar jasa ibu bapak kita, sehingga jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan menggendongnya untuk berhaji dan memutari Ka'bah.
Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu 'Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.
ثُمَّ قَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ أَثْرَانِي جَزَيْتُهَا؟ قَالَ: لَا وَلَا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
Artinya: "Kemudian ia berkata: 'Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas jasanya?' la menjawab: 'Tidak, bahkan tidak pula dengan satu tarikan nafas (yang ia keluarkan ketika melahirkanmu)."
Puluhan kali pun kita membawa ibu bapak ke tanah suci, meskipun dengan menggendong langsung, itu tak akan bisa membalas jasa-jasa ibu bapak kepada kita. Lalu mengapa masih ada seorang anak yang durhaka, membangkang atas perintahnya.
Marilah kita belajar sebuah kisah tentang pengabdian kepada orang tua. seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni, pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya yang bertempat di Yaman. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. Yaitu menghajikan ibunya.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. la menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! (1.200 km hingga 1.400 km). Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. la rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."
Uwais Al-Qarni sangat dicintai Rasulullah SAW dan penghuni langit. Dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim: "Sesungguhnya tabi'in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama Uwais. la memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian," demikian sabda Nabi kepada Umar bin Khattab.
Nabi menjelaskan:
رضا الرَّبِّ فِي رِضا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya: "Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
Sebaik apapun karirmu, setinggi apapun pendidikanmu, seberapa hebat kedudukanmu, jika durhaka kepada ibu bapakmu, maka semua itu akan sirna. Jangankan mendapatkan kebahagiaan di akhirat, di dunia pun tak akan diperoleh kalau durhaka kepada ibu bapak.
كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَجَلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Setiap dosa-dosa, Allah Ta'ala mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelakunya saat hidup di dunia sebelum wafat." (Riwayat At Thabrani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim dan As Suyuthi)
Jika orang durhaka kepada ibu bapak, maka setiap yang dibangun akan runtuh, setiap yang ditanam akan gagal, setiap usaha yang dia lakukan akan rugi.
Banyak orang yang jauh mencari kebahagiaan, mengejar surga hingga ke mana-mana, namun lupa bahwa ada surga di rumahnya. Yaitu ibu bapak kita. Siapa yang berbakti kepada ibu bapak. Maka itulah sumber kebahagiaan, mengabdi kepada ibu bapak adalah cara kita memperoleh surga.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Akan ada suatu saat, orang tua akan berpisah dengan kita, andai malaikat maut menjemput, andai orang tua telah menjadi mayat, kita tak lagi mendengar suaranya, gurauannya, nasihatnya, dan doa restunya.
Andai orang tua kita sudah dibungkus kain kafan, kita tak bisa lagi membawa oleh-oleh kesukaannya, tidak bisa lagi memijat kakinya, tidak bisa lagi mencium tangannya, memeluk hangat tubuhnya.
Andaikata orang tua sudah diusung ke pekuburan, dimasukkan ke liang lahat, ketika tanah mulai menimbun.Itulah saat terakhir kita melihat jasadnya. Sesudah itu hanya tinggal nisan yang bisa kita raba. yang tersisa hanya penyesalan, mengapa selagi ada disia-siakan.
Ketika sampai ke rumah, kamarnya telah kosong, hanya tinggal foto dan pakaian yang tergantung di dinding serta kepedihan, mengapa ketika ada disia-siakan. Mengapa kita tak memiliki waktu untuk membahagiakan.
Selagi mereka masih ada, jangan sia-siakan mereka, berbaktilah sebaik-baiknya. Sepulang dari rumah, temui mereka, duduk di hadapannya, ambil tangannya, cium, raba tangan kulit yang kasar karena kerja keras membanting tulang peluh keringat agar kita dapat hidup terjamin, bersekolah, dan meraih cita-cita yang kita dambakan.
Peluk tubuhnya dengan penuh kehangatan, rasakan tubuh yang lagi tak kekar itu, tubuh yang sudah semakin melemah, pundaknya yang tak lagi kekar akibat terbakar panas terik matahari mencari nafkah untuk anak-anaknya.
Tatap wajahnya yang sudah mengerut karena menyimpan rasa sakit dan kepedihan dari umur yang semakin menua. Berbaktilah kepada ibu bapak selagi mereka masih hidup. Jangan sia-siakan mereka.
Namun jika mereka telah tiada, telah menghadap keharibaan Allah. Maka doakan mereka
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil".
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Di hari raya Idul Fitri ini, marilah kita menjaga kebersamaan, merajut tenun persaudaraan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِفَهْمِهِ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمِ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ (۷) اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَدْرَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيهِ قَدِيمًا ، فقال تعالى : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ علَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلَّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
اللَّهُمَّ نَوْرُ قُلُوْبَنَا بِالتَّوْفِيقِ وَالْهَدَايَةِ وَاجْنُبْنَا الشَّرْكَ وَالْمُنْكَرَاتِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ .. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبِي وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Oleh: Saddam Husain Amin, M.A. (Mubalig As'adiyah Pusat Sengkang dan Dosen STAIN Majene)
Sumber: Laman Kanwil Kemenag Sulsel.
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #2: Perkara yang Semestinya Kita lakukan di Hari Raya
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ,اللهُ أَكْبَرُ
وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، وصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: (قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ)
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada pagi yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Dialah satu-satunya Dzat yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah, serta Yang Maha Suci dari bentuk dan ukuran.
Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah,
Pagi ini, kita berkumpul di tempat yang penuh berkah ini untuk menyambut datangnya bulan Syawal.
Kita telah melepas kepergian Ramadhan. Bulan yang mulia, bulan kebaikan, bulan yang penuh berkah, bulan taubat dan bulan berbagai macam ketaatan dan amal saleh itu telah pergi meninggalkan kita.
Setelah berpisah dengan bulan taubat, marilah kita tetap bertaubat. Setelah berpisah dengan bulan ketaatan, marilah kita tetap istiqamah berbuat taat. Setelah berpisah dengan bulan Al Qur'an, marilah kita tetap membaca Alquran. Setelah kita berpisah dengan bulan Tarawih, marilah kita tetap melaksanakan shalat-shalat sunnah. Setelah kita berpisah dengan bulan puasa, marilah kita tetap melaksanakan berbagai puasa sunnah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah,
Betapa besar kegembiraan seorang mukmin dengan kebaikan-kebaikan yang mampu ia laksanakan di bulan Ramadhan. Dan betapa mulia seorang mukmin yang tetap berbuat taat setelah meninggalkan Ramadhan.
Memang kegembiraan dengan datangnya hari raya Idul Fitri sangatlah besar dan agung. Namun kegembiraan akan menjadi bertambah agung dan besar ketika seorang mukmin yang bertakwa mendapati sesuatu yang menggembirakannya dalam catatan amalnya di akhirat kelak, di saat banyak orang ketika itu tengah merugi dan celaka.
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah,
Hari ini adalah hari yang agung, hari raya yang mulia. Dalam hadis disebutkan bahwa di suatu hari raya, Nabi SAW bersabda:
لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدٌ وَهٰذَا عِيْدُنَا
Artinya: "Setiap kaum memiliki hari raya dan hari ini adalah hari raya kita." (HR Bukhari)
Hari raya adalah hari kegembiraan dan kebahagiaan. Kegembiraan dan kebahagiaan kaum muslimin di dunia adalah ketika mampu menyempurnakan ketaatan kepada Allah. Mereka berharap pahala dari Allah karena yakin bahwa dengan karunia dan rahmat-Nya, Allah akan menganugerahkan pahala kepada mereka.
Allah SWT berfirman:
قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ
Artinya: "Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Hadirin jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Di antara perilaku yang ditekankan oleh syariat untuk kita lakukan pada momen bahagia seperti hari raya adalah silaturahim. Tradisi ini sebagaimana telah diajarkan kepada kita oleh baginda Rasulullah SAW dengan perbuatan dan perkataannya.
Setelah Jibril pertama kali membawa wahyu kepada beliau, beliau menceritakan hal itu kepada Sayyidah Khadijah mengenai apa yang terjadi. Lalu Khadijah radhiyallahu 'anha berkata:
اُثْبُتْ يَا ابْنَ عَمِّ وَأَبْشِـرْ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِيْنُ عَلَى النَّوَائِبِ
Artinya: "Tetaplah teguh wahai anak pamanku dan berharaplah yang baik, sungguh engkau adalah orang yang betul-betul menyambung tali silaturahim, jujur dalam berbicara, memberi kepada orang yang fakir, menjamu tamu dan membantu orang lain dalam kesulitan-kesulitan." (HR Bukhari)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Menyambung silaturahim dengan kerabat adalah termasuk salah satu kewajiban. Sebaliknya memutus silaturahim adalah termasuk salah satu dosa besar.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya: "Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim." (HR Bukhari dan Muslim)
Allah SWT berfirman:
فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ. أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ
Artinya: "Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dibuat tuli pendengarannya dan dibutakan penglihatannya." (QS. Muhammad: 22-23)
Adapun yang dimaksud dengan rahim atau arham yang wajib disambung adalah para kerabat kita baik dari jalur ayah atau ibu, seperti paman dan bibi serta putra putri mereka.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah,
Memutus silaturahim artinya apabila seseorang melakukan sesuatu yang menyebabkan renggang dan putusnya hubungan dengan kerabatnya.
Hal itu seperti tidak mengunjungi mereka dalam momen kebahagiaan atau momen kesedihan, tidak menelepon mereka sama sekali, atau mungkin tidak mau memberikan bantuan kepada kerabat yang membutuhkan, padahal ia mampu.
Hari raya adalah salah satu momen kegembiraan. Karenanya, pada hari ini kita sangat dianjurkan untuk menyambung silaturahim dengan keluarga dan kerabat kita.
Janganlah kita terjerat dengan tipu daya setan yang mendorong kita untuk mengatakan, "kerabatku itu telah menyakitiku, maka aku tidak akan mengunjunginya," "Kerabatku itu tidak mengunjungiku maka aku memutus hubungan dengannya," dengan dalih membalas perlakuan buruk dengan keburukan.
Perilaku semacam ini adalah sebab terhalang dari kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلٰكِنَّ الْوَاصِلَ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ إِذَا قَطَعَتْ
Artinya: "Orang yang sempurna silaturahimnya bukanlah orang yang membalas silaturahim dengan silaturahim, akan tetapi orang yang sempurna silaturahimnya adalah orang yang menyambung silaturahim terhadap kerabatnya yang memutus silaturahim dengannya." (HR Bukhari)
Hadits ini menyatakan bahwa silaturahim seseorang terhadap kerabat yang memutus silaturahim dengannya lebih utama daripada silaturahim terhadap kerabat yang menyambung silaturahim dengannya.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ
Artinya: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS Fushshilat: 34)
Yang dimaksud dengan "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah seperti menyikapi marah dengan sabar, tindakan yang bodoh dibalas dengan sikap bijak dan memberi maaf, dan perbuatan buruk dibalas dengan perbuatan baik. Sikap seperti ini akan menyatukan hati dan mengubah keadaan.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kami juga mengingatkan kita semua pada momen bahagia di hari raya ini untuk saling mengunjungi antartetangga dan teman, serta saling berbagi dan memberi.
Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi:
الْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَزَاوِرِيْنَ فِيَّ، حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَبَاذِلِيْنَ فِيَّ
Artinya: "Mahabbah (kecintaan dan pemberian nikmat)-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, mahabbah-ku aku berikan kepada orang-orang yang saling menasihati karena-ku, mahabbah-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku dan mahabbah-Ku aku berikan kepada orang-orang yang saling memberi karena-Ku." (HR Ibnu Hibban)
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَلْيَفْعَلْ
Artinya: "Barang siapa yang dapat melindungi dirinya dari neraka walaupun dengan bersedekah dengan separuh dari buah kurma, hendaklah ia lakukan." (HR Muslim)
Di masa-masa sulit seperti saat ini, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak orang sulit mencari pekerjaan, banyak orang jatuh miskin, banyak orang membutuhkan bantuan, maka janganlah melupakan sedekah.
Kita mulai bersedekah dan membantu kerabat kita yang membutuhkan. Karena bersedekah kepada kerabat, tercatat dua pahala, yaitu pahala silaturahim dan pahala sedekah.
Lalu kita bersedekah dan membantu tetangga-tetangga kita yang membutuhkan. Dan jika kita mampu, setelah itu kita bersedekah dan membantu setiap orang yang membutuhkan bantuan.
Dengan sedekah, bisa jadi kita akan dihindarkan dari wabah serta berbagai penyakit dan keburukan. Bahkan dengan sedekah, kelak kita akan dihindarkan dan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan langsung ke dalam surga.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin Rahimakumullah,
Dalam kesempatan ini, saya juga mengingatkan diri saya sendiri dan hadirin sekalian untuk menyempatkan diri berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Baginda Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka hal itu menyerupai puasa setahun penuh." (HR Muslim)
Oleh karena itu, janganlah kita lewatkan kebaikan yang sangat agung ini, apalagi kita sudah terbiasa berpuasa sebulan penuh selama Ramadhan. Karena pahala besar seperti ini belum tentu akan kita dapat dalam amalan sunnah yang lain.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Idul Fitri pada pagi hari yang penuh keberkahan ini. Semoga Allah segera mengangkat segala musibah dari negeri yang kita cintai ini. Dan mudah-mudahan kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan pada tahun yang akan datang.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ 7x، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، فَاللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوْا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهم وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالصَّالحينَ،
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Oleh: KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kab Mojokerto
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #3: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ (۳) اللهُ أَكْبَرُ (۳) اللهُ أَكْبَرُ (۳) وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي حَرَّمَ الصَّيَامَ أَيَّامَ الأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الَّذِي جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِينَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى الصَّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَذَيكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat yang tak terkira, di antaranya nikmat umur panjang, kesehatan, dan kesempatan pada kita, sehingga kita bisa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dan berjumpa dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang mulia.
Sebagai wujud syukur, mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan komitmen ini semua, insyaAllah akan selalu ada pertolongan dan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang kita hadapi di dunia.
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah Idul Fitri yang saat ini sedang kita rayakan bukanlah sekadar perayaan belaka. Idul Fitri adalah momentum renungan bagi kita dan menjadi penanda apakah Ramadhan benar-benar berhasil mendidik spiritualitas kita atau berlalu begitu saja tanpa ada bekasnya.
Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk menahan lapar dan dahaga. Kita belajar menahan amarah, menahan ego, dan menahan hawa nafsu yang membara. Namun sejatinya, keberhasilan puasa tidak hanya terlihat dari seberapa kuat kita menahan lapar dan dahaga. Namun dari seberapa besar perubahan sikap kita setelah Ramadhan berlalu meninggalkan kita.
Tanda keberhasilan Idul Fitri adalah ketika kita semakin mampu menahan diri, semakin memiliki empati, terutama kepada mereka yang hidup dalam kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih peduli, memiliki kelembutan hati, dan lebih memperlakukan orang lain secara manusiawi.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki jalan kebaikan sendiri. Kebaikan tidak selalu diukur dari harta atau kedudukan yang dimiliki. Kita yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan materi, tetap bisa berbuat kebaikan dengan cara bersabar diri, menerima takdir dengan lapang hati, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupan ini. Perlu kita sadari bahwa kesabaran adalah wujud kemuliaan yang sejati.
Sementara kita yang diberi harta dan kekayaan serta kelebihan materi, memiliki kesempatan berbuat kebaikan dengan berbagi. Ingatlah, harta yang kita miliki bukan sekadar milik pribadi, tetapi juga amanah yang di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus dibagi.
Kemudian kita yang diberi amanah jabatan serta kekuasaan, memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakan jabatan tersebut bagi kebaikan dan kemaslahatan. Jabatan bukanlah posisi yang harus kita bangga-banggakan. Jabatan adalah titipan yang kelak akan hilang dan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin." (HR Al-Bukhari).
Karena itu, setiap keadaan hidup, sesungguhnya adalah peluang untuk berbuat kebaikan. Semua dari kita senantiasa memiliki peran untuk mewujudkan kemaslahatan dan memberi manfaat dalam kehidupan. Kita tak boleh berkecil hati dengan keadaan dan tak boleh pula jumawa dan bangga dengan jabatan yang dianugerahkan. Semua itu harus dipergunakan sebagai wasilah menuju kebaikan.
Inilah beberapa beberapa wujud keberhasilan yang harus kita tampakkan setelah kita menjalani puasa di bulan Ramadhan. Semua itu adalah buah dari ketakwaan yang menjadi tujuan utama disyariatkan ibadah puasa yang kita lakukan. Jika kita mampu menjadi individu yang memiliki kepedulian serta mudah memaafkan, maka karakter takwa sudah tumbuh dalam diri sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Al-Qur'an telah menyebutkan tentang karakter orang-orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali 'Imran ayat 133:
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ
Artinya: "Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."
Kemudian Allah menjelaskan siapa orang-orang yang bertakwa itu pada ayat berikutnya:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Artinya: "Yaitu orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Ayat ini menjelaskan bahwa ketakwaan bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang kepedulian sosial. Orang yang bertakwa adalah mereka yang tetap berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka yang mampu menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Inilah yang disebut dengan kesalehan sosial.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hidup memang pilihan. Dalam Al-Qur'an disebutkan tentang dua jalan kehidupan yakni Jalan kebaikan dan jalan kesempitan. Allah berfirman dalam surat Al-Lail ayat 3-5:
فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ
Artinya: "Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan."
Sebaliknya, Allah juga berfirman dalam ayat selanjutnya pada surat yang sama:
وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ
Artinya: "Adapun orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesengsaraan."
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan hidup bukan ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh sikap hati yang selalu menebar kebaikan dan cinta. Orang yang gemar memberi dan berbagi pada sesama akan dimudahkan jalannya, sementara orang yang kikir justru akan berada pada kesempitan batin dalam hidupnya.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Idul Fitri seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang lebih peduli kepada sesama. Oleh karena itu diwajibkan bagi kita untuk berbagi dengan mengeluarkan zakat untuk membersihkan jiwa dan harta setelah kita berpuasa. Inilah upaya kita untuk memperkuat kesalehan sosial kita, menanamkan solidaritas pada sesama, memperkuat kepedulian dan kepekaan jiwa, serta memperkuat semangat untuk saling membantu sesama.
Bayangkan jika orang yang kaya gemar berbagi pada sesama. Bayangkan jika mereka yang miskin tetap sabar dan terus berusaha. Dan bayangkan jika para pemimpin benar-benar bekerja untuk kesejahteraan yang dipimpinnya. Maka masyarakat kita akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini bukan hanya sebagai hari saling memaafkan, tetapi juga sebagai titik awal untuk memperbaiki diri dan kehidupan. Mari kita buktikan bahwa religiusitas bukan hanya terlihat di masjid atau dalam ibadah ritual. Tetapi juga dalam kejujuran, kepedulian, dan keadilan dalam kehidupan sosial.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang gemar berbagi pada sesama, orang-orang yang mampu menahan amarah di manapun kita berada, dan pribadi yang selalu menebar kebaikan di tengah masyarakat kita. Amin.
جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Oleh: Ustadz H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama (NU Online)
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #4: Memperbaiki Diri, Menguatkan Umat dan Membangun Bangsa
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin jama'ah shalat 'Ied yang semoga mendapatkan gelar taqwa dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin setelah Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kita bergembira bukan karena berakhirnya puasa, tetapi karena Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki iman, membersihkan hati, dan memperkuat ketaatan kepada-Nya, serta perlu kita jaga selama sebelas bulan ke depan. Ramadhan telah mendidik kita menjadi pribadi yang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jamaah shalat ied yang semoga dimuliakan Allah Ta'ala.
Idul Fitri bukan hanya momentum kegembiraan pribadi dan keluarga, tetapi juga momentum besar untuk melakukan perbaikan diri, menguatkan umat, dan membangun bangsa. Setelah sebulan penuh ditempa oleh Ramadhan, kaum muslimin diajak untuk menjadikan nilai-nilai yang telah dilatih sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ramadhan telah mendidik kita dengan nilai-nilai agung: kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial, pengendalian diri, dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi utama bagi lahirnya individu yang baik, umat yang kuat, dan bangsa yang bermartabat.
Sesungguhnya, sebuah bangsa tidak akan menjadi baik jika individu-individunya rusak. Sebaliknya, ketika setiap muslim berusaha memperbaiki dirinya dengan iman dan takwa, maka kebaikan itu akan mengalir dan meluas, dari diri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa secara keseluruhan.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Kaum muslimin yang berbahagia
Ramadan juga mengajarkan kita makna persatuan dan kebersamaan. Kita melaksanakan shalat berjamaah, berbuka bersama, memperbanyak sedekah, serta merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang kekurangan. Semua itu mengajarkan bahwa kekuatan umat Islam lahir dari ukhuwah, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini, kemiskinan, konflik, ketidakadilan, dan perpecahan, Idul Fitri harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
"Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh." (HR. Muslim)
Kaum muslimin rahimakumullah
Membangun bangsa tidak cukup dengan pembangunan fisik semata. Pembangunan yang sejati harus dimulai dari pembangunan iman dan akhlak. Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, keadilan dalam memimpin, serta kepedulian terhadap masyarakat adalah nilai-nilai Islam yang jika dijaga akan melahirkan kehidupan bangsa yang adil, sejahtera, dan diridhai Allah. Apabila nilai-nilai Ramadan terus kita jaga dan amalkan setelah bulan suci berlalu, insyaallah kita akan menjadi umat yang kuat dan bangsa yang diberkahi oleh Allah Ta'ala.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd.
Idul Fitri juga merupakan momentum untuk memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat. Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, mempererat silaturahmi, serta menghilangkan dendam, permusuhan, dan kebencian dari hati kita.
Pada hari yang mulia ini, marilah kita saling memaafkan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, dan seluruh kaum muslimin. Dengan hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan semangat persaudaraan, kita berharap terwujudnya masyarakat yang damai, umat yang kuat, dan bangsa yang lebih baik.
Jamaah shalat 'Id yang dimuliakan Allah 'Azza wa Jalla.
Dari bunda Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ فَقَالَ: لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ
Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut" (QS. Al-Mu'minun: 60). Apakah mereka itu orang-orang yang meminum khamar dan mencuri? Beliau SAW menjawab: "Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq! Namun mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka merasa takut jika amal ibadah mereka tidak diterima." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).
Hadis ini menjadi pengingat krusial bahwa esensi puasa, shalat tarawih, dan sedekah bukan sekadar rutinitas, melainkan ujian kerendahan hati untuk tetap merasa khawatir jika amalan tersebut belum layak diterima di sisi Allah Ta'ala. Dengan menyadari bahwa para sahabat yang paling taat pun tetap merasa takut, kita diajak untuk menjauhi rasa bangga diri (ujub) atas banyaknya ibadah yang dilakukan dan menggantinya dengan harapan yang tulus serta doa agar seluruh rangkaian ibadah kita di bulan suci benar-benar membuahkan rida-Nya.
Ketahuilah bahwa kita semua adalah hamba Allah kapanpun dan dimanapun berada. Ibadah kepada Allah tidak dibatasi oleh waktu tertentu saja. Kita bukan hamba Allah hanya di bulan Ramadhan, tetapi kita adalah hamba-Nya sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, semangat ibadah yang telah kita rasakan di bulan Ramadhan hendaknya terus kita jaga dan kita lanjutkan sepanjang masa.
Allah Ta'ala berfirman:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
"Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan (yaitu ajal)." (QS. Al-Hijr: 99).
Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah kepada Allah tidak berhenti setelah Ramadhan berlalu. Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus, maka selama itu pula seorang hamba diperintahkan untuk terus beribadah kepada Rabbnya.
Imam Bisyr Al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan saja. Beliau menjawab:
بِئْسَ الْقَوْمُ لَا يَعْرِفُونَ لِلَّهِ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya hamba yang saleh adalah orang yang terus beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun." (Lathā'iful Ma'ārif, hlm. 313).
Setelah Ramadhan pergi, hendaknya semangat ibadah tidak ikut pergi bersamanya. Shalat tetap dijaga, tilawah Al-Qur'an tetap dilanjutkan, sedekah tetap dihidupkan, dan ketaatan lainnya kepada Allah tetap dipertahankan. Inilah tanda diterimanya amal seseorang di bulan Ramadhan: ketika kebaikan yang dilakukan di bulan itu terus berlanjut setelahnya, meskipun tidak sama jumlahnya, intinya keistiqamahan.
Jamaah shalat 'Id yang dimuliakan Allah Ta'ala.
Di bulan Syawal ini terdapat amalan yang sangat agung, yaitu puasa enam hari setelah Ramadhan. Amalan ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk meraih pahala seperti berpuasa selama setahun penuh setelah menyelesaikan puasa Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim no. 1164).
Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Allah Ta'ala berfirman:
مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا
"Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasannya." (QS. Al-An'am: 160).
Dengan demikian, puasa Ramadhan selama satu bulan jika dikalikan sepuluh menjadi pahala sepuluh bulan. Kemudian puasa enam hari di bulan Syawal jika dikalikan sepuluh menjadi enam puluh hari atau setara dengan dua bulan. Jika dijumlahkan, semuanya menjadi dua belas bulan, yaitu pahala seperti berpuasa selama satu tahun penuh.
Adapun pelaksanaannya cukup luas dan fleksibel. Puasa Syawal boleh dimulai sejak tanggal 2 Syawal, boleh dilakukan secara berurutan enam hari, dan boleh juga tidak berurutan selama masih di bulan Syawal. Sebagian ulama juga memandang bolehnya mendahulukan puasa Syawal sebelum mengqadha puasa Ramadhan. Bahkan sebagian mengatakan niat puasa Syawal juga dapat digabung dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh.
Sebagian ulama juga menilai lebih baik jika puasa Syawal dilakukan setelah suasana silaturahmi Idul Fitri mulai mereda, agar tidak memberatkan seseorang dalam memenuhi undangan atau menjalin hubungan kekeluargaan. Karena itu ada yang memulainya setelah beberapa hari, misalnya setelah satu pekan dari hari raya, sesuai dengan kondisi masing-masing. Yang terpenting adalah tetap berusaha meraih keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal tersebut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jamaah shalat 'Id yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah Ta'ala.
Setelah Ramadhan berlalu, marilah kita menjaga ketakwaan dalam setiap peran yang Allah amanahkan kepada kita. Sebagai orang tua, hendaknya terus memperbaiki diri dan menjadi teladan terbaik bagi keluarga; menjadi pendidik dan contoh kebaikan yang akan diikuti oleh anak-anak dan keturunan kita. Sebaliknya, sebagai anak, jangan sampai terlintas sedikitpun keinginan untuk durhaka kepada orang tua. Ingatlah betapa besar pengorbanan mereka: ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui, bersama ayah yang menjaga dan menafkahi dengan penuh kesungguhan.
Bagi yang masih lajang, bertakwalah kepada Allah dengan menjaga diri dari segala hal yang belum halal. Jauhi perbincangan yang tidak perlu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, serta hindari khalwat, ikhtilat, dan segala perkara yang dapat mengantarkan kepada perzinahan. Jika telah mampu, segeralah menikah; jika belum, jagalah diri dengan puasa dan amal saleh lainnya, seraya memohon kepada Allah agar dianugerahi pasangan yang terbaik.
Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami hendaknya memperlakukan istrinya dengan baik, karena ia adalah putri yang telah dibesarkan dengan penuh kasih oleh orang tuanya, dan kini menjadi ibu bagi anak-anaknya serta pendamping dalam kehidupan. Sementara seorang istri hendaknya berbakti dan menaati suaminya selama bukan dalam kemaksiatan kepada Allah.
Adapun dalam kehidupan bermasyarakat, marilah kita menjadi pribadi yang membawa kebaikan: menjadi tetangga yang baik, anggota masyarakat yang kehadirannya dirindukan, serta menjadi orang yang senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dengan demikian, semangat takwa yang kita bangun di bulan Ramadhan akan terus hidup dalam kehidupan kita sepanjang tahun.
Jamaah shalat 'Id yang semoga dirahmati Allah.
Marilah sejenak kita menengadahkan tangan dan memanjatkan doa kepada Allah Ta'ala, dengan terlebih dahulu memuji-Nya dan bershalawat serta bersalam kepada baginda Rasulullah ﷺ. Tundukkan kepala, renungkan diri kita, hayati keadaan kita, dan mohonkan ampunan kepada Rabb kita.
Ya Allah, Ya Rabb kami, taqabbal minnā terimalah seluruh amal saleh kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Watub 'alainā terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa dan diberkahi di mana pun berada. Jangan jadikan kepergian Ramadhan berlalu sementara kami termasuk orang-orang yang rugi dan celaka, tetapi jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diampuni dan dimaafkan.
Ya Rabb kami, sayangilah kedua orang tua kami. Jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah mendahului kami. Berikanlah kepada kami taufik untuk selalu menjadi anak-anak yang soleh dan berbakti kepada mereka.
Ya Allah, mudahkanlah urusan saudara-saudara kami yang ingin menyempurnakan separuh agamanya. Jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan sebagai keluarga yang Engkau ridhai. Anugerahkanlah kepada yang belum memiliki keturunan anak-anak yang saleh dan salehah. Bantulah kami dalam membimbing anak-anak dan keturunan kami agar menjadi generasi yang membanggakan di dunia dan terlebih lagi di akhirat.
Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, tentram, makmur, dan penuh keberkahan. Jauhkanlah dari berbagai marabahaya dan petaka. Berilah hidayah kepada siapa saja yang telah menzalimi dan merampas hak-hak negeri ini, dan jika mereka tidak mau kembali kepada-Mu maka timpakanlah kebinasaan kepada mereka.
Ya Allah, kuatkanlah para pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah mereka kepada kebaikan dan ketakwaan. Anugerahkan kepada mereka para pembantu dan penasihat yang saleh, yang menuntun kepada kebaikan dan membantu menegakkan kebenaran demi kebaikan negeri kami.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas dan terzalimi di berbagai belahan dunia, khususnya di negeri Palestina. Berikanlah kepada mereka pertolongan, kemenangan, keamanan, dan hilangkanlah rasa takut serta kesedihan yang menimpa mereka.
Ya Allah, pertemukanlah kami kembali dengan bulan Ramadhan di masa yang akan datang dengan umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kemampuan untuk mengisinya dengan amal saleh. Ampunilah dosa-dosa kami, rahmatilah kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.
Taqabbalallāhu minnā wa minkum.
Aamiin, aamiin, aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
(7x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَمِنْ عُتَقَائِكَ مِنَ النَّارِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِينَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، وَادْفَعْ عَنْهَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا عَزِيزًا، وَفَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ، وَاكْتُبْ لَهُمُ الْعِزَّةَ وَالْكَرَامَةَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Oleh: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
Sumber: Laman Yayasan Amal Jariyah Indonesia
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #5: Musibah Akibat Perbuatan Manusia Merusak Alam
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى,! نَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum muslimin rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan dan pencipta semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada pagi yang mulia ini kita dapat menunaikan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Idul Fitri yang dirayakan hari ini adalah momentum dimana kita kembali kepada fitrah: baik fitrah iman, fitrah akhlak, dan fitrah sebagai khalifah di muka bumi. Kita bergembira dan bahagia hari ini karena sebulan penuh kita telah dilatih menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan membersihkan jiwa sehingga berdampak kepada peningkatan ketakwaan kita terhadap Allah SWT dan diharapkan kita mampu mengimplementasikan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari hari kita, termasuk dalam sikap dan perilaku kita terhadap alam semesta tempat dimana kita hidup dan menikmati keindahannya.
Pada akhir-akhir ini, kita menyaksikan keprihatinan yang sangat dalam terhadap kenyataan pahit yang menimpa rakyat dan Negara kita, maupun di mancanegara. Tragedi banjir terjadi di mana-mana, kekeringan berkepanjangan, tanah longsor, krisis air bersih, udara tercemar, perubahan iklim, dan bencana demi bencana yang silih berganti. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan korban harta yang tiada terkira. Semua ini bukan semata-mata takdir tanpa sebab tetapi karena terjadi kerusakan alam yang diakibatkan oleh tangan manusia, dimana seharusnya manusia itu sebagai pemelihara alam tetapi kenyataannya menjadi perusak alam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa banyak musibah yang menimpa manusia adalah akibat langsung dari perilaku manusia sendiri: yaitu disebabkan oleh keserakahan, eksploitasi berlebihan, perusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, serta gaya hidup yang tidak ramah lingkungan. Yang secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab terjadinya bencana alam tersebut. Betapa sedihnya kita melihat korban tragedi tanah longsor dan banjir di Sumatera, dan di pulau Jawa yang terjadi di akhir bulan Desember 2025 dan pada awal tahun 2026 yang lalu yang memakan korban sampai ratusan bahkan mendekati seribu orang. Rumah dan sawah tertimbun tanah serta harta kekayaan rusak yang melahirkan kesusahan tiada terkira yang dialami para korban.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Kaum muslimin yang berbahagia
Allah mengajarkan kepada kita bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual belaka, tetapi juga agama peradaban dan kelestarian. Banyak ayat dalam Al-Qur'an maupun hadits Nabi yang menganjurkan kita memelihara lingkungan. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Bahkan beliau bersabda:
إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
Artinya: "Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah." (HR. Bukhari & Ahmad)
Hadis ini mengajarkan optimisme dan tanggung jawab ekologis, bahkan di saat akhir kehidupan sekalipun. Tidak ada kata untuk membiarkan alam rusak dan membiarkan tragedi musibah terjadi sehingga Rasulullah menghendaki kelestarian dan kelanjutan kehidupan itu terjaga. Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk yang hidup di Bumi.
Namun hari ini, kita menyaksikan manusia sering bertindak sebaliknya. Hutan ditebang tanpa kendali, gunung dikeruk tanpa etika, sungai dijadikan tempat sampah, laut diracuni limbah, semua demi keuntungan sesaat, tanpa memikirkan generasi mendatang. Mereka tidak menyadari bahwa kelakuan buruk mereka mengakibatkan kerugian bagi mereka sendiri, karena kerusakan alam akan dirasakan juga oleh mereka sendiri, ketika udara jadi panas, kotor dan kekeringan akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan mempercepat kematian mereka.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an :
وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."
Surah Al-A'raf ayat 56 di atas berisi larangan keras berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya (mengaturnya dengan seimbang). Ayat ini memerintahkan manusia untuk berdoa dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (dikabulkan), serta menegaskan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsin).
Merusak alam bukan sekadar kesalahan teknis dan dosa ringan, tetapi dosa moral dan spiritual. Karena alam adalah amanah dari Allah yang harus dipelihara dan dijaga agar kelestariannya bisa berlangsung abadi dan dinikmati oleh semua makhluk. Merusak alam bukan hanya merusak tanah dan tumbuhan tapi juga merusak flora dan fauna yang tinggal di sekitarnya. Dengan rusaknya lingkungan maka juga sama dengan membunuh dan menghancurkan habitat di dalamnya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang berbahagia
Idul Fitri bukan hanya hari saling memaafkan antar manusia, tetapi juga momentum untuk melakukan penyadaran dan bertaubat secara kolektif, termasuk di dalamnya taubat ekologis, bertaubat atas dosa-dosa kita terhadap alam. Berhenti merusaknya apapun alasanya serta berusaha untuk memperbaikinya.
Sadari bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Menghemat air, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan, semuanya bernilai pahala jika diniatkan karena Allah. Menanam pohon dianggap sebagai bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir selama pohon tersebut memberikan manfaat. Rasulullah SAW bersabda bahwa apa pun yang dimakan dari hasil tanaman tersebut, baik oleh manusia, burung, maupun hewan, akan dicatat sebagai sedekah bagi penanamnya. Bahkan, jika ada buah yang dicuri sekalipun, penanamnya tetap mendapatkan pahala sedekah.
Hentikan pemborosan, kurangi konsumsi berlebihan, pilih pola hidup sederhana sebagaimana diajarkan Rasulullah. Allah berfirman:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al-Isra': 27)
Dalam ayat tersebut Allah mencela perbuatan membelanjakan harta secara boros, dengan menyatakan, "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan," mereka berbuat boros dalam membelanjakan harta karena dorongan setan, oleh karena itu perilaku boros termasuk sifat setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada nikmat dan anugerah Tuhannya.
Sebagai umat Islam, kita tidak boleh diam melihat kerusakan. Kita harus menjadi pelopor kebaikan: di keluarga, di masjid, di sekolah, di masyarakat, dan di negeri ini. Karenanya Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk lain.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang dirahmati Allah
Musibah sejatinya adalah peringatan dan kasih sayang Allah, agar manusia kembali kepada jalan yang benar, kembali kepada keseimbangan, kembali kepada fitrah.
Mari kita jadikan Idul Fitri 1447 H ini sebagai titik balik: sikap kita terhadap lingkungan dan kelestarian alam: kita beralih dari merusak menjadi menjaga, dari serakah menjadi amanah, dari lalai menjadi peduli. Kepedulian kita akan menjadi contoh terhadap generasi yang akan datang dan dunia ini jadi aman untuk ditinggali.
Semoga Allah menerima puasa dan amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang menjaga bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita tetap teguh dalam iman dan istiqamah di jalan-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُتَقَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعِيدَ عِيدًا مُبَارَكًا لَنَا وَلِأُمَّةِ الْإِسْلَامِ أَجْمَعِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Sumber: Laman Suara Muhammadiyah
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #6: Kemenangan Idul Fitri Menyemai Kebaikan dan Keberkahan
Khutbah Pertama
اَلْسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَـــــرَكَاتُهُ.
اللهُ أَكْبَرْ X9 اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرَا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً . اَلْحـَمْدُ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. اَمَّا بَعْدُ, اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فَقَدْ فَازَ المـــُتَّقُون قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيْم , اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَان الرَّجِيْم : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Pada hari ini kita ucapkan selamat tinggal bulan Ramadhan, tidak ada lagi yang dapat kita harapkan kecuali Ramadhan tahun yang akan datang, itupun jika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di muka bumi yang fanah ini, jika tidak, Ramadhan yang telah dilalui adalah merupakan Ramadhan terakhir bagi kita.
Pada hari kemenangan ini tak ada kata yang lebih indah, suci dan mulia yang patut kita ucapkan kecuali " taqabbalallahu - minna - wa - minkum, "barakallahu fiikum" ", Semoga Allah menerima amalku dan amalmu", "semoga Allah memberkahi kepada kalian",
Allahu Akbar 3 X.... Walillahil Hamd
Dengan berakhirnya bulan Ramadhan yang suci dan mulia ini, bukan berarti selesailah tugas dan kewajiban kita baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia, namun masih terhampar tugas dan kewajiban kita yang harus kita lakukan.
Kemenangan Idul Fitri dengan harapan selalu menyemai kebaikan serta keberkahan, hal ini dapat diwujudkan dengan dengan tiga cara sebagai berikut:
Pertama puasa Ramadhan dengan benar sesuai dengan tuntunan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, sebab apabila puasa Ramadhan telah kita lakukan sesuai dengan tuntunan maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita sesuai dengan sabda Rasulullah :
مَنْ صَامَ رَمَـــضَانَ اِيْمَــــانًا وَاحْتِـــــسَابًا غُفِــَرلَهُ مَاتـَـــقَدَّمَ مِنْذَنْبــــِهِ
Artinya: barang siapa puasa Ramadhan karena iman dan penuh perhitungan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari)
Kedua: membayar zakat fitrah.
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi kaum muslimin di akhir Ramadhan dan juga berfungsi untuk membersihkan orang-orang yang berpuasa dari segala hal yang dapat merusak amalan Ramadhan, serta dapat membantu para fakir-miskin. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.
"وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: (فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ؛ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ))"
Artinya : dari Ibnu Abbas ia berkata : Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan yang kotor, dan untuk memberi makan fakir-miskin dan barang siapa melaksanakannya sebelum shalat Idul Fitri maka itulah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat Idul Fitri maka merupakan shadaqah biasa.(HR.Abu Daud dan Ibnu Majah)
Allahu Akbar 3 X.... Walillahil Hamd.
Hadirin jemaah Idul Fitri Rahimakumullah.
Setelah menunaikan puasa dan zakat fitrah sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan, maka berarti kita sudah memenuhi sebagian persyaratan untuk menyemai kebaikan serta keberkahan.
Ketiga yaitu saling maaf-memaafkan.
Setelah berakhir puasa Ramadhan dan ditutup dengan zakat fitrah maka insya Allah semua dosa kita dapat diampuni oleh Allah, sehingga kita kembali bersih laksana bayi yang baru lahir dan kertas yang belum kena tinta. Tetapi dosa terhadap sesama manusia Allah tidak akan mengampuni sebelum diantara keduanya saling maaf-memaafkan. Walaupun saling maaf-memaafkan tidak harus menunggu akhir Ramadhan, kapan saja saja bila kita bersalah wajib saling maaf-memaafkan.
Timbul pertanyaan, kepada siapa kita harus saling maaf-memaafkan ?
Pertama kepada suami-istri.
Setelah berakhir bulan Ramadhan tidak menutup kemungkinan banyak kesalahan antara suami-istri, maka tidak ada jalan lain kecuali kita saling maaf memaafkan, atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, baik disengaja maupun tidak sengaja.
Kedua kepada kedua ibu bapak.
Mari kita sambut kedua tangan ibu-bapak kita, seraya kita bersimpuh di hadapannya mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan selama ini terhadap orang tua kita. Jangan kita berbangga dengan kehebatan dan kesuksesan kita, karena kesuksesan kita tidak lepas dari doa dan ridho kedua orang tua kita. Ingatlah dari mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kehidupan kita tidak akan pernah mendapat ridho dari Allah jika gerak dan langkah kita tidak diridhoi oleh orang tua kita. Karena ridha Allah tergantung kepada ridha kedua ibu-bapak kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
رِضَا اللهِ فِى رِضَ الوَا لِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ
Artinya: Ridha Allah tergantung ridha kedua ibu-bapak dan murka Allah tergantung kepada murka ibu bapak. (HR.At-Tirmidzi).
Oleh karena itu tidak sepantasnya kita melupakan keduanya. yang telah melahirkan dan telah mendidik kita sampai dewasa.
Dan bagi orang tua kita yang tiada, tidak ada langkah lain kecuali kita bermohon kepada Allah semoga dosa dan kesalahan mereka dapat diampuni dan dimaafkan oleh Allah SWT. Dan terhindar dari siksaan kubur dan api neraka serta dimasukkan ke dalam surgaNya.
Ketiga kepada sesama di mana kita berada.
Hadirin-hadirat rahimakumullah. Mari kita setelah berakhir Ramadhan ini, kita saling maaf memaafkan, mari kita hilangkan rasa dendam diantara kita, kita tinggalkan lembaran lama mari kita buka lembaran baru, insya'Allah hari kemenangan dapat kita raih dan keberkahan dapat kita rasakan, sehingga kita kembali suci bagaikan bayi yang baru lahir dan kertas yang belum kena tinta.
Allahu Akbar 3 X.... Walillahil Hamd
Jemaah Idul Fitri rahimakumullah. Kita menginginkan hari kemenangan ini tidak hanya dirayakan oleh orang-orang kaya saja, akan tetapi orang-orang fakir-miskin juga merasakan nikmatnya hari kemenangan ini, sebagaimana yang kita rasakan pada saat ini. Oleh karena itu mari kita luruskan pandangan kita terhadap para fakir-miskin dan anak terlantar, mereka semua mengharapkan uluran tangan dari kita, jangan biarkan mereka terombang-ambing dalam kesedihan yang hanya ditemani tetesan air mata, mengharapkan bantuan dari kita semua.
Allahu Akbar 3 X.... Walillahil Hamd.
Hadirin jemaah Idul fitri rahimakumullah,
Tiada untaian kata dan doa melainkan semoga Allah di akhir Ramadhan ini dapat mengangkat derajat kita yang setinggi-tingginya di hadapan Allah. Dan menjadikan kita orang yang menang, kemenangan yang penuh keberkahan dan kembali fitrah dan selamat baik di dunia maupun di akhirat. Semoga khutbah Idul fitri ini akan menggugah hati kita semua dan pada akhirnya dapat bermanfaat hendaknya amin ya Rabbal alamin.
Khutbah Kedua
َلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَرَحًا وَسُرُورًا بَعْدَ تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ تَمَامِ شُكْرِ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْنَا فِي هٰذَا الْيَوْمِ أَنْ نُحَافِظَ عَلَى الطَّاعَاتِ، وَأَنْ نَصِلَ الْأَرْحَامَ، وَأَنْ نَغْفِرَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ، وَأَنْ نَتَرَاحَمَ وَنَتَعَاوَنَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
وَتَذَكَّرُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَعْمَالِ بَعْدَ رَمَضَانَ الِاسْتِقَامَةَ عَلَى الطَّاعَةِ، فَإِنَّ رَبَّ رَمَضَانَ هُوَ رَبُّ سَائِرِ الشُّهُورِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِينَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Oleh: Dr. H. Siun Ruhan, MHI Penyuluh Agama Kanwil Kemenag Prov.Bengkulu
Sumber: Laman Kamwil Kementerian Agama Provinsi Bengkulu
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #7: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهُ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وقال تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، وَعِيدٌ كَرِيمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيحِ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيلٍ وَتَعْظِيمٍ، فَسَبِّحُوا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِمُوهُ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
أَمَّا بَعْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT
Pada pagi yang penuh berkah dan suka cita ini, marilah bersama kita mensyukuri segala kenikmatan yang telah Allah SWT karuniakan dengan mengucap tahmid kepada-Nya.
Atas izin-Nya, kita masih digerakkan untuk bersimpuh dalam iman, meyakini bahwa hanya Allah SWT sajalah satu-satunya Rabb yang berhak disembah.
Hadirin sekalian, mari kita menatap wajah-wajah di samping kanan dan kiri kita pagi ini. Lihatlah binar yang tersirat di mata mereka.
Mereka adalah saudara yang mungkin tak kita kenal namanya, tapi sujudnya sama dengan kita. Di tempat yang penuh dengan berkah ini, kita sedang menyaksikan bukti nyata dari sebuah keajaiban iman, yaitu umat yang satu.
Di tempat ini, kita duduk dalam shaf yang sama, tanpa menanyakan berapa harta yang kita miliki. Kita bersujud ke arah yang sama, tanpa mempedulikan warna kulit atau suku sebagai identitas diri.
Dan kita hadir di sini, semata-mata karena ingin mendekap perintah suci dari Sang Ilahi.
Jama'ah rahimakumullah.
Inilah Ummah Wahidah. Kita adalah bangunan yang kokoh karena disatukan oleh satu detak jantung keimanan. Rabb yang satu, Nabi dan Rasul yang sama, serta keimanan yang serupa di dalam dada.
Oleh karena itu, nikmat persaudaraan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan anugerah yang harus senantiasa kita jaga.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama'ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Kebersamaan yang kita rasakan pagi ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Keindahan ini bermula dari sentuhan tangan sang arsitek agung peradaban, baginda Nabi Muhammad SAW.
Beliau bukan sekadar penyampai risalah, Beliau SAW juga adalah pendidik yang membangun peradaban di atas pondasi kasih sayang. Menyatukan hati yang sebelumnya saling bermusuhan, mengubah dendam menjadi rindu, dan meleburkan ego menjadi pengorbanan.
Dari keluhuran Beliau lah lahir generasi terbaik yang mencintai saudaranya melebihi cinta pada dirinya sendiri. Bagi mereka, iman bukan sekadar kata, melainkan pengabdian yang memberikan bukti nyata.
Kemudian tak lupa, kami selaku Khatib berwasiat kepada diri kami pribadi dan umumnya kepada para hadirin sekalian, mari senantiasa meningkatkan kualitas serta kesungguhan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Ketakwaan adalah lentera yang tidak akan pernah padam. Rambu-rambu yang mengingatkan kita bahwa dosa hanyalah fatamorgana, nikmat di awal namun menyisakan luka dan penyesalan yang mendalam di akhir kehidupan.
Jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT
Sebagai orang yang mengaku pengikutnya Nabi Muhammad SAW, sudah selayaknya bagi kita untuk selalu meneladani jejak langkah yang telah beliau contohkan. Demikian pula kepada para sahabat dan para pengikut di zaman setelah mereka.
Para sahabat dan pengikut terdahulu adalah manusia-manusia ideal yang patut kita teladani. Bukan karena megahnya istana yang mereka bangun atau tingginya pangkat yang mereka duduki. Bukan pula karena garis keturunan yang mereka miliki.
Melainkan karena ketulusan iman mereka, yang menjadikan layak dan patut kita teladani. Rasulullah Muhammad SAW, adalah Sang Tokoh Agung pembangun peradaban umat manusia yang telah menjadikan keimanan sebagai dasar bagi pondasinya. Begitu besar jasa Beliau, sehingga nilai-nilai keimanan itu bisa benar-benar diresapi oleh para Sahabat dan pengikutnya. Tidak sebatas hanya pada untaian kata di lisan, tapi mereka selalu memberikan bukti nyata dalam amal.
Selain keimanan yang ditanamkan, Beliau SAW juga menanamkan dalam diri para Sahabat arti dari sebuah persaudaraan. Ukhuwah islamiyah, yaitu persaudaraan yang dipersatukan karena keimanan. Beliau memahami betul tentang arti persaudaraan bagi bangunan peradaban.
Peradaban suatu bangsa akan terbentuk saat manusia di dalamnya bisa saling bahu-membahu. Mereka bekerja sama menciptakan keseimbangan hubungan yang harmonis. Tanpa adanya keseimbangan itu, suatu umat atau bangsa hanya akan menghabiskan energinya untuk mengatasi konflik internal yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan perkara ini.
Hadirin sekalian yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Mari sejenak kita berkaca pada sebuah peristiwa yang terjadi dalam peperangan di masa Nabi SAW. Kala itu, sebuah kejadian yang menunjukkan bahwa Beliau SAW tidak menginginkan sebuah konflik timbul karena adanya sebuah percikan fanatisme yang bisa menyulut api perpecahan.
Perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar terjadi begitu peliknya. Dalam keadaan demikian, salah seorang dari kaum Anshar berseru memanggil kaumnya, "Wahai kaum Anshar!", dan begitu juga dari salah seorang kaum Muhajirin juga membalasnya dengan berseru, "Wahai kaum Muhajirin!".
Mereka mulai terjebak dalam fanatisme golongan yang memecah belah. Melihat seruan fanatisme yang memicu perpecahan itu, sontak Nabi SAW bersabda dengan tegas:
أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
"Apakah kalian berseru dengan seruannya orang-orang Jahiliyyah sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian? Tinggalkan seruan itu, karena sungguh, ia adalah sesuatu yang busuk lagi menjijikkan."
Begitu tajam teguran beliau ini kepada para Sahabatnya, sehingga seruan fanatisme golongan itu disebut Nabi SAW sebagai sesuatu yang busuk dan menjijikkan.
Mengapa demikian? Sebab dari seruan seperti itulah kebencian dan perpecahan akan bermula.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT.
Jika fanatisme dan kebencian adalah bau busuk yang harus kita buang, maka cinta kepada sesama adalah keharuman iman yang harus kita tebarkan. Inilah standar keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya (seperti) apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari, 13)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.
Hadits ini adalah cermin bagi kita semua. Dengan jelas, hadits ini menyampaikan bahwa kecintaan kepada sesama saudara muslim lainnya merupakan indikator atau tanda dari adanya keimanan dalam diri seseorang.
Sebuah penjelasan dari Imam Ath-Thufi dalam kitabnya at-Ta'yin fi Syarhil Arbain menerangkan bahwa seseorang tidak akan dikatakan sebagai mukmin yang memiliki keimanan sempurna kecuali dengan ia mencintai saudara muslim lainnya.
Mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri bukan sekedar teori, melainkan seni memperlakukan manusia dengan kemuliaan. Hal itu karena diri ini suka jika diperlakukan baik dan tidak suka disakiti.
Ketika perbuatan mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri dilakukan, rasa cinta pun akan timbul pada diri orang lain.
Hadirin sekalian,
Perilaku mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri ini akan menciptakan rantai kebaikan yang nyata dalam kehidupan. Ketika kita memperlakukan orang lain dengan baik karena kita pun ingin diperlakukan dengan hal yang serupa, maka rasa saling mencintai akan tumbuh dan menyebar di lingkungan kita.
Energi positif ini akan secara otomatis mengangkat keburukan dan menggantinya dengan kebaikan. Dan pada akhirnya, hal ini akan memperbaiki kondisi lingkungan kita serta menciptakan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih dalam lagi hadirin sekalian, mari kita renungkan bersama pilihan kata yang Allah SWT gunakan dalam Al-Qur'an terkait hubungan sesama muslim. Dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-10, Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."
Ada sebuah rahasia indah di balik ayat ini hadirin sekalian. Jika kita cermati potongan awal dalam ayat yang mulia ini, kita akan mendapati kalimat إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ , "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara".
Dalam tafsirnya, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menyebutkan tentang ayat ini, bahwa siapapun orangnya, baik di belahan bumi timur maupun barat, jika ia memiliki iman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka ia adalah saudara bagi kaum mukmin lainnya.
Allah SWT menggunakan kata ikhwah, bukan ikhwan. Dalam Bahasa Arab, kata ikhwan biasa digunakan untuk menunjukkan persaudaraan yang tidak senasab, sedangkan kata ikhwah biasa digunakan untuk menunjukkan persaudaraan kandung.
Sehingga, penggunaan kata ikhwah dibanding ikhwan bertujuan untuk menekankan kedalaman makna, yang berarti: ikatan persaudaraan yang didasari oleh keimanan berkedudukan sebagaimana persaudaraan kandung. Maka dari sini, Allah SWT ingin kita menyadari, bahwa kita bukan sekadar 'teman seiman', tapi kita adalah 'saudara sekandung' dalam rahim Islam.
Seseorang belumlah bisa dikatakan sebagai seorang mukmin manakala di dalam dirinya belum tertanam rasa persaudaraan pada sesama muslim lainnya. Menyakiti saudara seiman berarti menyayat nadi kita sendiri.
Membenci saudara seiman berarti membenci saudara kandung sendiri. Mengolok-olok saudara seiman berarti mengolok-olok saudara sendiri. Keimanan seseorang belumlah dikatakan sempurna manakala ia belum menjiwai persaudaraan yang kental ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama'ah sidang Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.
Bayangkan jika hari ini adalah Idul Fitri terakhir kita. Bayangkan jika setelah sujud ini, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah kita lukai hatinya. Akankah kita membiarkan lisan ini berseru takbir mengagungkan Allah SWT, namun di saat yang sama hati kita masih menyimpan 'bangkai busuk' perpecahan?
Jangan biarkan ibadah puasa sebulan penuh menguap begitu saja hanya karena ego yang enggan merunduk. Hari ini bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang siapa yang lebih dulu membuka pintu maaf. Karena sungguh, tidak ada kemenangan sejati bagi jiwa yang masih terbelenggu oleh dendam kepada saudaranya sendiri.
Oleh karena itu para hadirin sekalian,
Pada penghujung khutbah ini, mari bersama kita sadari bahwa ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam, bukanlah sekadar pelengkap iman, namun ia adalah syarat mutlak kesempurnaan iman itu sendiri. Kita adalah ikhwah, yaitu saudara kandung dalam satu rahim keimanan.
Jika satu bagian tubuh kita sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya pun akan merasakannya. Dan marilah kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai titik balik untuk meruntuhkan tembok pembatas fanatisme golongan maupun kepentingan pribadi, demi membangun peradaban umat yang kokoh dan bermartabat.
Jadikan perbedaan sebagai warna dan bukan sebagai jurang pembatas yang memisahkan antar saudara. Jadikan perbedaan sebagai ajang toleransi pendapat, dan bukan sebagai ajang saling menghujat. Berdiri sama tegak, duduk sama rendah, dan merangkul tanpa membeda-bedakan.
Sebagai bekal pulang, izinkan kami menitipkan satu pesan singkat untuk kita semua, yaitu: Jadilah yang pertama. Jadilah yang pertama menyapa, jadilah yang pertama tersenyum, dan jadilah yang pertama memaafkan tanpa menunggu diminta.
Ingatlah, bahwa tangan yang di atas untuk memberi maaf jauh lebih mulia di hadapan Allah SWT daripada hati yang keras menunggu permohonan maaf. Mari kita pulang membawa keharuman ukhuwah dan bukan bau busuk perpecahan.
Setelah ini, dekap pundak saudara kita, jabat erat tangannya, dan tanamkan dalam jiwa kita bahwa kita adalah saudara, kita adalah ummah wahidah, kita adalah umat yang satu.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ بِتِلاَوَتِهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
أَمَّا بَعْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
Jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.
Mengakhiri rangkaian khutbah pada pagi yang mulia ini, mari kita sekali lagi meneguhkan hati. Ramadhan telah berlalu, namun jangan biarkan bekas-bekas kebaikannya ikut berlalu. Jika di khutbah pertama tadi kita diingatkan tentang betapa buruknya perpecahan, maka di khutbah kedua ini, mari kita buktikan bahwa hati kita telah benar-benar bersih.
Jangan keluar dari tempat ini, jangan beranjak dari sajadah ini, kecuali kita telah membawa satu tekad, bahwa tidak akan ada lagi dendam yang kita simpan, dan tidak ada lagi sapaan yang kita abaikan.
Hadirin sekalian, mari kita menundukkan kepala sejenak. Merendahkan hati kita di hadapan Dzat Yang Menggenggam segala jiwa.
Membayangkan wajah kedua orang tua kita, wajah anak-istri kita, dan wajah saudara-saudara kita di samping kanan dan kiri. Mari kita bersama-sama mengetuk Arsy Allah dengan untaian doa tulus yang kita panjatkan.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Oleh: Haidar Fathin Al Anshory (Mahasantri Ma'had Aly An-Nuur)
Sumber: Laman Ma'had Aly An-Nuur
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #8: Fitrah yang Tersisa: Meneguhkan Takwa di Tengah Moral yang Memudar, Menguatkan Persatuan dan Tanggung Jawab Kebangsaan
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا يَوْمَ عِيدِ الْفِطْرِ ، يَوْمَ الْجَائِزَةِ بَعْدَ الصِّيَامِ، يَوْمَ الْفَرَحِ بَعْدَ الْقِيَامِ، يَوْمَ الْعِتْقِ مِنَ النِّيرَانِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الَّذِي جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِينَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدين.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْفَائِزِينَ.
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma'asyiral muslimin dan muslimat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita, sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul dalam suasana aman dan tenteram untuk melaksanakan ibadah Idul Fitri. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW teladan dalam kesabaran, syukur, dan perjuangan. Marilah kita
senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Di tengah kegembiraan dan kenyamanan yang kita rasakan hari ini, marilah kita menengok saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia yang masih menderita. Ada yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana, ada yang hidup di tengah peperangan dan penguasa yang zalim, ada pula yang berjuang hanya untuk secuil; makanan, air bersih, atau hak-haknya yang dirampas. Nikmat keamanan, kedamaian, dan kesehatan yang kita rasakan adalah karunia Allah yang luar biasa, yang patut kita syukuri. Semoga rasa syukur itu memotivasi kita untuk peduli, menolong mereka yang tertindas, dan menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd. Jamaah yang berbahagia.
Hari ini kita merayakan Idul Fitri, hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalani pendidikan spiritual di bulan Ramadhan. Puasa telah melatih kita menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan membersihkan hati dari dosa serta kesalahan. Saudara-saudariku, jangan terjebak memaknai kemenangan Idul Fitri hanya dari baju baru atau makanan yang tersaji. Kemenangan sesungguhnya adalah saat hati kita menang atas ego, hawa nafsu terkendali, dan diri ini menjadi lebih dekat dengan Allah melalui takwa, Allah SWT berfirman:
dengan Allah melalui takwa, Allah SWT berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum: 30).
Ayat ini menjadi pedoman hidup bagi kita, Idul Fitri adalah saat kita 'kembali' ke rumah asal, yaitu kesucian fitrah. Kemenangan hari ini bukanlah akhir perjuangan, melainkan titik awal untuk menanam dan menebar nilai-nilai Ramadhan; sabar, ikhlas, dan dermawan dalam kehidupan kita sepanjang sebelas bulan berikutnya. Namun jamaah yang dirahmati Allah, menjaga fitrah bukanlah perkara mudah, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُودِ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُوَدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَحِّسَانِهِ
"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).
Akibat salah pergaulan, lingkungan serta hawa nafsu bisa menodai kesucian itu jika iman dan ketakwaan tidak dijaga. Realitas kehidupan saat ini menunjukkan krisis moral yang sangat memprihatinkan. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih merajalela, judi online dan narkoba (yang dibeking oleh oknum) menghancurkan generasi muda, perzinahan dan perselingkuhan merusak rumah tangga, bahkan kasus pembunuhan dan kekerasan semakin sering terjadi. Pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, pencurian untuk kebutuhan hidup, hingga hilangnya rasa solidaritas antarwarga menjadi fakta yang menyayat hati.
Bahkan hal-hal yang sepele dan remeh temeh, seperti persoalan ijazah yang belum tuntas, sering kali menjadi pangkal perselisihan antarwarga, memicu intrik politik yang tak pernah usai, dan menimbulkan perpecahan di antara anak-anak bangsa.
Sementara itu, prinsip keadilan dan kemanusiaan yang lebih besar, yang seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa, malah sering terabaikan. Betapa ironisnya, hal-hal kecil menghancurkan persatuan, sementara hak dan kebenaran yang sejati dikesampingkan.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Ramadhan belum sepenuhnya diimplementasikan dalam kehidupan kita. Sebagai umat Islam, kita harus berperan aktif memperbaiki kondisi ini, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ
"Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala sebagaimana orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim).
Maka, setiap kita memiliki tanggung jawab untuk menebarkan kebaikan, menegakkan kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini harus menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa; menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, menolak ketidakadilan, dan membela kepentingan rakyat tanpa memihak pada ketidakadilan atau penindasan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd. Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Salah satu buah terbesar dari Ramadhan adalah lahirnya predikat orang beriman menjadi takwa, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
Tanda-tanda orang yang berhasil meraih takwa setelah Ramadhan adalah konsisten dalam ibadah, tetap menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir; menjaga lisan dan perilaku dari dusta, ghibah, dan perbuatan yang merusak; serta meningkatkan kepedulian sosial, membantu yang lemah dan memperhatikan sesama. Nilai-nilai Ramadhan harus terus hidup sepanjang tahun, bukan hanya berhenti saat bulan suci berakhir.
Lebih dari itu, menjaga fitrah dan takwa harus tercermin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kita hidup dalam bangsa yang besar dengan keragaman suku, budaya, dan perbedaan pandangan. Kondisi kehidupan bernegara saat ini memerlukan kesadaran setiap warga untuk menegakkan kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, menjaga persatuan dan stabilitas, serta memperkuat solidaritas. Kita tidak boleh terpecah oleh masalah sepele atau konflik kecil, sementara kemaslahatan masyarakat dan bangsa terabaikan, Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd. Ma'asyiral muslimin dan muslimat rahimakumullah.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk meneguhkan takwa, memperkuat persaudaraan, menjaga kesucian fitrah, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat serta bangsa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam kebaikan.
Demikian khutbah Idul Fitri yang dapat khatib sampaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan memperoleh kemenangan sejati. Jangan biarkan lentera Ramadhan padam begitu saja. Jadikan hari yang Fitri ini sebagai titik tolak untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik, menjaga takwa, memperkuat persatuan, dan menegakkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang kembali dalam keadaan suci dan memperoleh kemenangan.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنتُمْ بِخَيْرٍ . بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَتَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ آمِينَ
Khutbah Kedua
الله أكبر، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَسْأَلُهُ الْقَبُولَ وَالْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْحَيَاةَ فُرْصَةٌ لِلطَّاعَةِ وَالْإِصْلَاحِ، وَأَنَّ أَفْضَلَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Oleh: Dr. H. Al Fitri, S.Ag., S.H., M.H.I. (Wakil Ketua Pengadilan Agama Kota Cimahi Kelas IA)
Sumber: Laman Ditjen Badilag Mahkamah Agung RI
Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 #9: Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Para jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Hari ini 1 Syawwal 1447 H. telah dijadikan oleh Allah sebagai hari suka cita bagi kita, bagi kaum muslimin seluruhnya. Kita baru saja menempuh proses penyadaran kembali arti pentingnya hidup kerukhanian yang transendental yang selama ini terbelenggu oleh tuntutan hidup fisikal material fenomenal yang profan. Suatu proses penyadaran pentingnya arti langit, dan rendahnya kehidupan bumi dengan segala implikasinya.
Oleh karena di dalam sunnatullah telah digariskan bahwa manusia harus tinggal sementara di bumi ini, maka tak terhindarkan hukum gravitasi bumi menarik tubuh fisik manusia demikian kuatnya, bahkan kemudian ruh yang ditiupkan ke dalam tubuh kasar manusia, tak kalah kuatnya ikut-ikutan tertarik ke dalam lumpur debunya, sehingga ruh lupa akan asal usulnya sendiri yang ¬habatat min al-mahall al-arfa', memancar dari singgasana langit yang tertinggi, min qibalillah, min ruhih, dari sisi Allah, dari ruhNya.
Puasa sebagai kewajiban bagi seluruh ummat beriman - kalian dan sebelum kalian dimaksudkan agar ruh kalian, agar mental kalian melawan gravitasi bumi, dan beranjak sedikit, demi sedikit mendekati langit, kemudian menerobosnya dalam konsentrasi meditasi khusyu' ketakwaan mengarahkan mata rohani ke Dzat Yang Maha Besar, ke Dzat Yang Bumi dan Langit tak berdaya dalam genggamanNya.
الله أكبر الله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Para Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Di hari suka cita, di hari Idul Fitri ini, rasa-rasanya kita telah mendapat rahmat Allah, mendapatkan ampunanNya, dan dibebaskan dari api neraka, seakan-akan kaki rohani kita telah sampai ke pintu gerbang singgasana langit tertinggi, ke surga yang dijanjikan, ke kebahagiaan yang tak terkirakan. Namun tiba-tiba terdengar seruan yang sangat keras ke telinga rohani kita, membuyarkan lamunan transendental kita: Apakah kalian sangka kalian akan masuk surga padahal Allah belum menyaksikan kalian berjihad, belum juga melihat kalian bersabar. Apakah kalian kira kalian akan masuk sorga, padahal kalian belum ditimpa seperti orang-orang dahulu yang ditimpa kepedihan, penderitaan, bahkan kegoncangan, sampai-sampai Rasul dan orang-orang yang beriman yang menyertainya, berseru kapan akan datang pertolongan Allah, lalu dijawab bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat.
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ
Jihad di jalan Allah adalah suatu wilayah yang sangat luas. Salah satu misi jihad Islam adalah mengatasi terjadinya krisis nilai keadaban, yang semakin terasa terjadi nyaris di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Penguatan terhadap nilai-nilai keadaban yang berupa keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, keberpihakan kepada yang lemah dan yang dilemahkan, adalah beberapa contoh wilayah jihad yang nyata-nyata harus diperjuangkan.
الله أكبر الله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Para jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Puasa Ramadhan dengan segala rangkaian ibadah di dalamnya, telah mengajarkan proses penguatan terhadap nilai-nilai keadaban. Nilai-nilai ini dibangun di atas prinsip: keimanan, menahan diri, serta kehati-hatian dalam seluruh prilaku dan tindakan. Puasa menuntut manusia agar bisa menahan diri, bahkan dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan: makan minum, dan menyalurkan libido seksual suami istri sejak terbit fajar sampai terbenam matahari selama sebulan penuh.
Pembiasaan menahan diri dari yang dibolehkan, agar lebih dapat menahan diri dari yang diharamkan, dari bertindak zalim, korup, tidak jujur, tidak sopan, tidak amanah, mengabaikan pihak yang lemah dan yang dilemahkan, dan lain lain. Semua tindakan seperti itu jelas akan meruntuhkan martabat manusia, martabat bangsa, bahkan akan meluluhlantakkan peradaban itu sendiri.
Dengan prinsip iman, menahan diri, dan kehati-hatian yang merupakan esensi bangunan puasa yang sesunguhsungguhnya, telah menguatkan nilai-nilai keadaban ummat, keadaban bangsa, seharusnya begitu. Puasa mengasuh dan mensucikan jiwa, meninggikannya di atas dimensi ketubuhan, dimensi kematrialan manusia. Buahnya antara lain, tidak melakukan korupsi! Bukankah tindakan korup pasti menegasikan iman, pasti merusak kesucian jiwa, pasti menzalimi, pasti merusak peradaban, pasti berorentasi kejasadan, materialistik! Dan pasti dibenci Tuhan, dimurkai Allah! Begitu Allah selesai memaparkan ayat-ayatNya tentang puasa Ramadhan, langsung Allah sambung dengan peringatanNya:
وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
"Dan janganlah kalian makan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kalian menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui." (al-Baqarah 188).
الله أكبر الله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Para jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Puasa juga mengajarkan kepada kita, untuk merasakan lapar dan dahaga, yang biasa dirasakan oleh mereka yang papa, mereka yang tak berpunya. Menghadirkan empati, setidak-tidaknya simpati kepada the have not, sehingga bermurah hati menyantuni dan turut mengentas derita mereka. Agar harta tidak sepenuhnya berada di genggaman para the have! Agar keadaban kemanusian menjadi bagian penting tarikan nafas kehidupan bangsa! Dahulukan mereka yang lemah, mereka yang dilemahkan! Keberpihakan kepada mereka, berbuah keberpihakan Allah kepada bangsa ini:
اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Allah menolong hambaNya, jika hambaNya menolong sesama! Jika bangsa ini mendahulukan dan berpihak kepada mereka yang lemah dan yang dilemahkan, tentulah Allah akan menolong bangsa ini!
الله أكبر الله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Para jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Puasa juga mendidik kita untuk memiliki kelembutan hati, buah dari penyucian jiwa selama ditempa di bulan Ramadhan ini. Jadikanlah sebagai kekuatan untuk memperkokoh nilai-nilai keadaban, membangun kebersamaan, membina hubungan dengan sesama, dengan seluruh anak bangsa! Jangan saling menzalimi satu sama lain, jangan saling menggunting dalam lipatan! Bangsa ini akan menjadi tinggi kedudukannya jika seluruh potensi digunakan untuk membangun masa depan yang gemilang, yang berkeadaban! Moga Allah menolong kita, menolong bangsa ini!
Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah, konsentrasikan pikiran hanya kepadaNya, hadirkan kesadaran transendental bahwa Ia berada di hadapan kita. Mari kita mulai:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ، وَأَنْبِيَائِكَ وَالْمُرْسَلِينَ، وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَيِّدِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَانْصُرْ عَسَاكِرَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Oleh: Dr Muhammad Sa'ad Ibrahim, MA, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Sumber: Laman Suara Muhammadiyah
Teks Khutbah Idul Fitri 2026 PDF
Berikut ini link teks khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M dalam format PDF yang dapat di-download gratis:
Demikian kumpulan khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 lengkap dengan format PDF yang dapat di-download secara gratis. Semoga bermanfaat!
(alk/alk)
