- Tata Cara Sholat Id Idul Fitri 1. Bilal Memberi Aba-aba 2. Imam Menuju Mihrab Rakaat Pertama 3. Membaca Niat dan Takbiratul Ihram 4. Membaca Doa Iftitah 5. Takbir Sebanyak 7x 6. Membaca Surat Al-Fatihah 7. Membaca Surat Pendek Al-Qur'an 8. Rukuk 9. I'tidal 10. Membaca Doa I'tidal 11. Sujud 12. Duduk di antara Dua Sujud 13. Sujud Kedua 14. Berdiri untuk Rakaat Kedua Rakaat Kedua 15. Takbir Sebanyak 5x 16. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek 17. Rukuk, I'tidal, hingga Sujud Kedua 18. Tasyahud Akhir 19. Salam
- Hukum Melaksanakan Sholat Idul Fitri 1. Pandangan Mazhab Syafi'i: Sunnah Muakkad 2. Pendapat Mazhab Hambali: Fardu Kifayah 3. Pendapat Madzhab Hanafi: Fardu Ain 4. Pendapat Mazhab Maliki: Sunnah Muakkad
Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu perayaan yang sangat dinantikan umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pada hari ini, setiap muslim sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat Id.
Momen ini tidak hanya menjadi tanda kemenangan, tetapi juga kesempatan untuk mempererat kebersamaan dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Karena itu, penting untuk mengetahui tata cara sholat Id Idul Fitri agar dapat melaksanakannya dengan benar dan khusyuk.
Melansir buku 'Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet' karya Ibnu Watiniyah, sholat Idul Fitri dilakukan sebanyak dua rakaat. Secara umum, tata cara pelaksanaannya memiliki perbedaan dengan sholat lainnya, seperti tidak diawali dengan azan atau iqamah, melainkan ditandai dengan seruan bilal, serta adanya tambahan takbir di setiap rakaat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memudahkan detikers memahami pelaksanaannya, berikut panduan lengkap mengenai tata cara sholat Id Idul Fitri beserta hukum melaksanakannya. Yuk, disimak!
Tata Cara Sholat Id Idul Fitri
Adapun tata cara sholat Id Idul Fitri selengkapnya yang dirangkum dari buku 'Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet', 'Risalah Tuntunan Shalat Lengkap' oleh Drs Moh Rifa'i, dan laman resmi Muhammadiyah, adalah sebagai berikut:
1. Bilal Memberi Aba-aba
Muraqqi atau bilal akan memberi aba-aba dimulainya sholat Id ketika imam telah tiba di masjid atau tempat pelaksanaan sholat Id Idul Fitri. Seruan yang biasanya dibacakan bilal adalah:
"Shalluu sunnatan li'iidil fithri rak'ataini jaami'atan rahimakumullaah."
2. Imam Menuju Mihrab
Setelah bilal menyerukan waktu akan dimulainya sholat Id, imam kemudian menuju mihrab atau tempat imam memimpin sholat.
Rakaat Pertama
3. Membaca Niat dan Takbiratul Ihram
Imam membaca niat sholat Idul Fitri yang disertai dengan takbiratul ihram, lalu diikuti oleh para makmum. Berikut masing-masing bacaan niatnya:
- Niat Sholat Idul Fitri untuk Imam
أَصَلَّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ
Arab Latin: Ushallii sunnatan li'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati imaaman lillahi taʼaalaa.
Artinya: "Saya niat salat sunah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat, sebagai imam karena Allah Ta'ala."
- Niat Sholat Idul Fitri untuk Makmum
أُصَلَّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ
Arab Latin: Ushallii sunnatan li'iidil fithri rak'ataini mustaqbilal qiblati ma'muuman lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat salat sunah Idul Fitri dua rakaat dengan menghadap kiblat, sebagai makmum karena Allah Ta'ala."
4. Membaca Doa Iftitah
Setelah takbiratul ihram, dilanjutkan dengan membaca doa iftitah. Berikut bacaan doa iftitah yang bisa dibaca:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Arab Latin: Allaahu akbar kabiiraw wal-hamdu lillaahi katsiiraw wa subhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lil-ladzii fatharas-samaawaati wal-ardha haniifam muslimaw wa maa ana minal-musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-'aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal-muslimiin.
Artinya: "Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah, pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang. Kuhadapkan wajahku (hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan Bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku dari golongan orang muslimin."
Selain itu, boleh juga membaca doa iftitah berikut:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.
Arab Latin: Allaahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'ad-ta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allaahumma naqqinii min kha-thaayaaya kamaa yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allaa-hummaghsilnii min khathaayaaya bil-maa'i wats-tsalji wal-barad.
Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan dan dosa sebagai-mana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala kesalahan dan dosa sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah segala kesalahanku dengan air, salju dan air embun sebersih-bersihnya."
5. Takbir Sebanyak 7x
Setelah membaca doa iftitah, dilanjutkan dengan takbir sebanyak 7 kali. Di antara sela-sela takbir dianjurkan membaca bacaan berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Arab Latin: Subhanallah walhamdu lillah wa lâ ilaha illallahu wallâhu akbar.
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Atau, boleh juga dengan mambaca bacaan berikut:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Arab Latin: Allâhu akbar kabîrâ, wal hamdu lillahi katsîrâ, wa subhanallahi bukrataw wa ashîlâ.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada pagi dan petang."
6. Membaca Surat Al-Fatihah
Setelah takbir selesai, membaca surah Al-Fatihah berikut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. آمِينَ
Arab Latin: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Al-hamdu lillaahi rabbil-'aala-miin. Ar-rahmaanir-rahiim. Maaliki yaumid-diin. Iyyaaka na budu wa iyyaaka nasta'iin. Ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Shiraathal-ladziina an'amta 'alaihim; ghairil-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliin. Aamiin.
Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Semoga Allah memperkenankan."
7. Membaca Surat Pendek Al-Qur'an
Setelah surat Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat pendek dalam Al-Qur'an. Adapun surat yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah:
- Surat Qaf; atau
- Surat Al-A'la.
8. Rukuk
Kemudian rukuk dengan membaca doa:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ (3x)
Arab Latin: Subhaana rabbiyal-'azhiimi wa bihamdih. (Dibaca 3x)
Artinya: "Maha Suci Tuhanku, Tuhan Yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya."
Atau juga bisa membaca bacaan berikut ini:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
Arab Latin: Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdikallaahummaghfirlii. (Dibaca 1X)
Artinya: Maha suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, aku memohon ampun.
9. I'tidal
Kemudian bangun dari rukuk atau i'tidal dengan mengucapkan:
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Arab Latin: Sami'allaahu li man hamidah.
Artinya: "Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya."
10. Membaca Doa I'tidal
Setelah berdiri tegak (i'tidal), membaca doa:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ.
Arab Latin: Rabbanaa lakal-hamdu mil'us-samaawaati wa mil'ul-ardhi wa mil'u maa syi'ta min syai'in ba'du.
Artinya: "Ya Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu."
Boleh juga membaca bacaan berikut ini:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُّبَارَكًا فِيْهِ.
Arab Latin: Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyibam mubaarakan fiihi.
Artinya: "Wahai Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian, pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya.
11. Sujud
Setelah itu, sujud dengan membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ (3x)
Arab Latin: Subhaana rabbiyal-a'laa wa bihamdih. (Dibaca sebanyak 3x)
Artinya: "Maha Suci Tuhanku, Tuhan Yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya."
Atau juga bisa membaca bacaan berikut ini:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
Arab Latin: Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdikallaahummaghfirlii. (Dibaca 1X)
Artinya: Maha suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, aku memohon ampun.
12. Duduk di antara Dua Sujud
Bangun dari sujud dan membaca doa duduk di antara dua sujud berikut:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي.
Arab Latin: Rabbighfir lii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa 'aafinii wa'fu 'annii.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cu-kupkanlah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku."
Atau juga bisa membaca bacaan berikut ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
Arab Latin: Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii.
Artinya: "Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rizki untukku."
13. Sujud Kedua
Kemudian melakukan sujud kedua dengan bacaan yang sama seperti sujud pertama.
14. Berdiri untuk Rakaat Kedua
Setelah bangun dari sujud kedua, bangkit berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua.
Rakaat Kedua
15. Takbir Sebanyak 5x
Setelah berdiri, takbir sebanyak 5x, dengan bacaan doa di sela-sela takbirnya seperti pada rakaat pertama.
16. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek
Kemudian dilanjutkan membaca surah Al-Fatihah dan surat pendek dalam Al-Qur'an. Adapaun surat yang dianjurkan pada rakaat kedua adalah:
- Surat Al-Qamar; atau
- Surat Al-Ghasiyah.
17. Rukuk, I'tidal, hingga Sujud Kedua
Setelah membaca surat pendek, rangkaian sholat dilanjurkan seperti pada rakaat pertama, yakni:
- Rukuk
- I'tidal
- Sujud pertama
- Duduk di antara dua sujud
- Sujud kedua
18. Tasyahud Akhir
Setelah bangun dari sujud kedua, dilanjutkan dengan tasyahud akhir dengan membaca doa:
التَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ . أَشْهَدُ انْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَ اشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى أَي سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .
Arab Latin: Attahiyaatul mubaarakaatush shalawaa tuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu 'alaika ayyuhan nabiyyu warah -matullaahi wabarakaatuh assalaamu'alainaa wa'alaa 'ibaadillaahish shaalihiin. Asy-hadu al laa ilaaha illallaah, wa-asyhadu anna muhammadar Rasuulullaah. Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.
Wa 'alaa aali sayyidinaa muhammad.
Kama shallaita 'alaa sayyidinaa ibraahiima wa'alaa aali sayyidinaa ibraahium wabaarik 'alaa sayyidinaa muhammad wa-'alaa aali sayyidinaa muhammad. Kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa ibraahiima wa alaa aali sayyidinaa ibraahiim fil'aalamina innaka hamiidum majiid.
Artinya: Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah! Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad.
Ya Allah! Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad.
Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia.
19. Salam
Setelah itu, akhiri sholat dengan salam, yakni menengok ke kanan lalu ke kiri dengan membaca:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Arab Latin: Assalamu'alaikum wa rahmatullahi.
Artinya: Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kami sekalian.
Hukum Melaksanakan Sholat Idul Fitri
Berdasarkan penjelasan dalam Jurnal Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin berjudul 'Hukum Sholat Id Menurut Perspektif Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali (Studi Komparatif)', para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum pelaksanaan sholat Idul Fitri. Sebagian ulama menyatakan hukumnya sunnah, sementara sebagian lainnya berpendapat sholat Idul Fitri adalah wajib.
Berikut beberapa pandangan dari berbagai mazhab mengenai hukum sholat Idul Fitri:
1. Pandangan Mazhab Syafi'i: Sunnah Muakkad
Menurut mazhab Syafi'i, hukum melaksanakan sholat Idul Fitri adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Pendapat ini juga merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
Pendapat tersebut didasarkan pada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim berikut:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ، يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ، حَتَّى دَنَا، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَصِيَامُ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ قَالَ : لَا ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ. قَالَ : وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ، قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ : لَا ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ:
وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ. قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْلَحَ إِنْ
صدق
Artinya: "Seorang penduduk Nejed datang menghadap Rasulullah SAW dengan rambut yang kusut. Kami mendengar nada suaranya tetapi tidak memahami kata-katanya. Setelah dekat kepada Rasulullah SAW ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah SAW bersabda: "sholat lima waktu sehari semalam" lelaki itu bertanya: "Masih adakah sholat lain yang diwajibkan kepadaku?" Jawab Rasulullah SAW "Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan sholat sunat. Kemudian berpuasa pada bulan Ramadhan. Lelaki itu bertanya lagi: "Adakah puasa lain yang diwajibkan kepadaku?" Beliau menjawab: "Tidak, kecuali jika engkau ingin berpuasa sunat." Beliau bersabda: Keluarkanlah zakat" Tanya lelaki itu: "Adakah zakat lain yang diwajibkan kepadaku?" Beliau menjawab: "Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah" Kemudian lelaki itu pergi sambil berkata: "Demi Allah, Aku tidak akan menambah juga tidak akan mengurangi sedikitpun." Rasulullah SAW bersabda: "Ia amat beruntung, seandainya ia menepati apa yang telah diucapkannya.
Pendapat ini juga diperkuat oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhazzab yang menyatakan:
"Kaum muslimin telah sepakat bahwa sholat Id disyariatkan, dan bahwa hukum sholat id adalah sunnah bukan wajib. Imam Syafi'i dan kebanyakan murid-muridnya berpendapat bahwa sholat Id hukumnya sunnah."
Hal serupa juga disampaikan oleh Imam al-Syairazi dalam kitab al-Muhazzab:
صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ
Artinya: "Sholat dua hari raya itu sunnah".
Lebih lanjut, Az-Syairazi menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan sholat Id tidak terdapat azan. Oleh karena itu, ia mengqiyaskan sholat Id Idul Fitri sebagai sholat sunnah, sebagaimana sholat sunnah lainnya seperti sholat dhuha yang tidak juga tidak diawali dengan azan.
2. Pendapat Mazhab Hambali: Fardu Kifayah
Ulama dari kalangan mazhab Hambali berpendapat bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban tersebut dianggap telah terpenuhi apabila sebagian umat Islam telah melaksanakannya.
Pendapat ini didasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Kautsar ayat 2 sebagai berikut:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Artinya: "Maka, laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!"
Ayat ini ditafsirkan sebagai perintah untuk melaksanakan sholat hari raya. Dalam kaidah ushul fikih dijelaskan bahwa setiap bentuk perintah pada dasarnya menunjukkan makna wajib, kecuali terdapat dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban tersebut.
Selain itu, mazhab Hambali juga berhujjah pada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, dari Thalhah bin Ubaidillah sebagaimana hadits yang juga digunakan oleh ulama mazhab Syafi'i di atas.
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Kafi, "Sholat Id bukan fardhu 'ain karena Nabi SAW menerangkan sholat lima waktu kepada seorang badui, lalu ia bertanya, "Adakah kewajiban lain bagiku selain itu?" Nabi SAW menjawab, "Tidak, kecuali kamu melakukan secara tathawwu' (sholat sunnah)".
Sementara dalam kitab al-Mughni, Qudamah berkata:
وَصَلَاةُ الْعِيدِ فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ
Artinya: "Sholat Id hukumnya adalah fardhu kifayah".
Menurut Ibnu Qudamah hal ini karena dalam pelaksanaan sholat Id, tidak terdapat seruan azan. Sehingga tidak wajib ain. Sama halnya dengan sholat jenazah.
Ulama lain, Imam Taquyuddin Muhmmad dalam kitab Muntahaal-Iradat menyebutkan,
صَلَاةُ الْعِيدِ فَرْضٌ كِفَايَةٌ ، إِذَا اتَّفَقَ أَهْلُ بَلَد عَلَى تَركِهَا، قَاتَلَهُم الإِمَامُ
Artinya: "Sholat dua hari hukumnya fardhu kifayah, jika sepakat suatu penduduk meninggalkan sholat dua hari raya, maka imam memerangi mereka."
Dalam kitab al-Wadih fi Syarh Mukhtasar al-Khiraqi, Nuruddin Abu THalib Abdurrahman berkata,
عَلَى أَنَّهَا فَرْضٌ كِفَايَةٌ وَأَنَّهَا لَا تَحِبُّ عَلَى الْأَعْيَانِ : أَنَّهَا لَا يُشْرَعُ لَهَا الْأَذَانِ فَلَمْ تَحِبْ عَلَى
الأَعْيَانِ، كَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ
Artinya: "Bahwa sholat hari raya hukumnya adalah fardhu kifayah, karena sholat hari raya tidak wajib bagi individu, tidak disyariatkannya azan pada sholat hari raya, maka tidak wajib bagi individu, sebagaimana sholat jenazah."
Mazhab Hambali berpendapat bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah fardhu kifayah karena Nabi SAW dan para khalifah sesudah beliau selalu mengerjakannya. Sholat ini juga merupakan sebagian dari syi'ar Islam sehingga wajib dikerjakan, namun kewajibannya tidak berlaku bagi setiap individu.
3. Pendapat Madzhab Hanafi: Fardu Ain
Menukil laman resmi Al-Manhaj, ulama dari kalangan madzhab Hanafi berpendapat bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah fardhu ain. Artinya, wajib dikerjakan bagi tiap-tiap individu.
Hal ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menyatakan bahwa dasar kewajiban sholat Idul Fitri bagi setiap orang disandarkan pada Rasulullah SAW.
Dahulu, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan sholat Ied di padang pasir (tanah lapang). Nabi SAW tidak pernah memberikan keringanan kepada seorang pun untuk melaksanakan sholat tersebut di Masjid Nabawi.
Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa sholat Id tidak termasuk jenis sholat-sholat sunnah. Nabi SAW juga tidak pernah membiarkan sholat Id tanpa khutbah, persis seperti sholat Jum'at.
Pendapat ini juga didukung dengan adanya riwayat dari Ali bin Abi Thalib RA, di mana ia menugaskan seseorang untuk mengimami sholat Ied di Masjid bagi golongan orang-orang yang lemah. Jika sholat Id itu sunnah, maka tentu Ali tidak perlu menugaskan seseorang melaksanakan sholat sunnah, apalagi bagi mereka yang lemah.
Sebab jika memang sunnah, maka orang-orang lemah tidak perlu melakukannya.
Selain itu, dalam salah satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita untuk keluar menuju tempat pelaksanaan sholat Id, bahkan bagi mereka yang sedang haid agar menyaksikan keberkahan hari raya.
Bahkan ketika ada di antara mereka tidak memiliiki jilbab, maka Nabi meminta untuk seseorang meminjamkannya jilbab.
لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
Artinya: "Hendaknya ada yang meminjamkan jilbab untuknya". [Hadits shahih, muttafaq 'alaihi, sedangkan lafalnya adalah lafal Imam Muslim]
Imam Shana'ani, dan Shidiq Hasan Khan dalam "Ar-Raudhah An-Nadiyah" menambahkan bahwa apabila hari Id dan Jum'at bertemu, maka hari Id menggugurkan kewajiban sholat Jum'at. Padahal sholat Jum'at adalah wajib, sedangkan tidak ada yang bisa menggugurkan kewajiban, melainkan yang menggugurkannya pasti merupakan perkara yang wajib.
4. Pendapat Mazhab Maliki: Sunnah Muakkad
Ulama dari kalangan mazhab Maliki memiliki pendapat yang sama dengan mazhab Syafi'i dan mayoritas ulama lainnya. Mereka berpandangan bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.
Menyadur laman Muhammadiyah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha sejak disyariatkannya kedua ibadah tersebut. Namun, tidak terdapat sanksi hukum bagi orang yang tidak melaksanakannya.
Karena itu, disimpulkan bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah sunnah muakkad.
Demikianlah tata cara sholat Id Idul Fitri yang lengkap beserta hukum melaksanakannya. Semoga bermanfaat ya, detikers!
