Tana Toraja

Camat Bittuang Minta Maaf Usai Ancam Cabut Bansos Warga Tolak Geothermal

Ricdwan Abbas - detikSulsel
Minggu, 15 Mar 2026 15:35 WIB
Foto: Camat Bittuang, Abigael Misalayuk saat sambutan pada acara rambu solo'. (dok. istimewa)
Tana Toraja -

Camat Bittuang, Abigael Misalayuk akhirnya buka suara usai diduga mengancam akan mencabut bantuan program keluarga harapan (PKH) dan bantuan sosial (bansos) warga yang menolak proyek strategis nasional (PSN) energi panas bumi atau geothermal di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Abigael meminta maaf atas pernyataannya itu dan tidak bermaksud melakukan intimidasi.

"Namanya manusia pasti ada kekeliruan ya. Saya mohon maaf kepada masyarakat secara keseluruhan, utamanya yang hadir di acara duka rambu solo," kata Abigael saat dikonfirmasi detikSulsel, Minggu (15/3/2026).

Dia mengaku tidak bermaksud mengintimidasi warga yang menolak proyek geothermal yang lokasinya di Bittuang. Dia mengatakan pernyataannya itu untuk mengedukasi agar warga tidak anarkis dan melawan kebijakan pemerintah.

Lebih lanjut, dia mengatakan pernyataannya itu menanggapi petisi yang dilakukan warga dalam menolak proyek geothermal. Menurutnya isu yang berkembang bahwa warga yang tidak tandatangan petisi penolakan itu tidak akan mendapatkan bantuan lagi.

"Saya tidak ada kekeliruan karena maksud saya tidak ada itu intimidasi, tidak ada itu cekam. Saya dengar waktu itu bahwa akan ada list yang dijalankan untuk daftar nama yang menolak, ada yang mengatakan kalau kamu tidak tanda tangan, tidak menerima bantuan. Akhirnya saya ungkap itu bantuan," ujarnya.

"Justru terbalik. Bisa saja kalau mau disetop kan, ya bisa jadi, karena kita ini harusnya menghargai pemerintah. Karena kalau pemerintah terus diserang juga, bisa saja dihilangkan karena terkait demo itu saya bilang, santun. Tapi untuk mencekam tidak ada itu," lanjutnya.

Dia menegaskan proyek pembangkit listrik energi panas bumi (PLTP) merupakan program pemerintah pusat. Sebagai aparatur sipil negara, dia mengaku harus tunduk kepada pimpinan, yakni pemerintah pusat, pemerintah provinsi (Pemprov), maupun pemerintah daerah.

"Ini kan proyek strategis nasional yang dimasukkan pemerintah dan saya di garis pemerintah, jadi saya ikut program itu karena saya masih PNS, saya harus loyal sama atasan karena saya itu orang konsisten," katanya.

Dia mengaku memiliki pandangan berbeda melihat proyek tersebut jika sudah tidak menjabat. Namun untuk saat ini, dia akan berusaha agar proyek nasional di wilayahnya berjalan sesuai rencana.

"Kalau saya mungkin sudah pensiun, yah mungkin saja, tapi ini kan saya belum pensiun dan saya tetap loyal sama atasan saya," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Abigael Misalayuk menuai sorotan karena diduga mengancam mencabut bantuan PKH dan bansos warga yang menolak proyek geothermal. Hal itu disampaikan Abigael saat sambutan di acara duka rambu solo' di Kelurahan Bittuang, Kecamatan Bittuang, pada Jumat (13/3) malam.

"Iya benar. Kemarin Bu Camat yang sampaikan di acara duka rambu solo' waktu malam Jumat di Bittuang. Saya ada di situ dan merekam langsung penyampaian Ibu Camat di lokasi," ujar warga bernama HS (55) kepada detikSulsel, Sabtu (14/3).

Dia menilai pernyataan Abigael itu bentuk intimidasi warga yang menyampaikan aspirasi. Sebab kata dia, bantuan sosial pemerintah tidak ada kaitannya dengan penolakan proyek pembangkit listrik energi panas bumi (PLTP) di Bittuang.

"Jelas di situ ada intimidasi. Ibu Camat itu keluarga tapi saya tidak setuju dengan apa yang disampaikan Bu Camat, karena tidak ada hubungannya bantuan dengan proyek geothermal. Apalagi dia singgung bantuan PKH, bansos, dan bantuan lainnya," katanya.



Simak Video "Video: Usut Tuntas Keterlibatan Anggota DPRD di Kasus Kematian dr Icha"

(hsr/asm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork