Dua dari tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang hilang usai Kapal Tugboat Musaffah 2 meledak dan tenggelam di Selat Hormuz ternyata warga asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Keduanya yakni kapten kapal bernama Miswar Maturasi dan engineering kapal bernama Sirajuddin (43).
Hal itu terungkap saat istri Sirajuddin, Sri Dwi Aisyah mendatangi rumah kapten Miswar di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Luwu pada Senin (9/3). Sri mengaku suaminya termasuk korban hilang dalam insiden kapal tersebut.
"(Info awalnya) katanya ada 6 (yang hilang), cuma yang udah ditemukan ada 3 orang dan yang belum termasuk suami saya dan captain (Miswar)," ujar Sri kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri mengaku mendapat informasi terkait insiden itu dari rekan kerja suaminya. Rekan suaminya menyampaikan bahwa kapal yang digunakan Sirajuddin mendapat serangan bom di Selat Hormuz.
"Ya pas waktu kejadian kita dikasih tahu ya dari pihak teman-temannya itu ada info kapalnya kena serangan bom itu. Katanya ada beberapa juga yang selamat tapi suami katanya pihak kantor masih dalam pencarian," bebernya.
Sri menambahkan, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga telah mengabarinya terkait kejadian tersebut. Sri terakhir berkomunikasi dengan suaminya pada Kamis (5/3).
"Hari kamis sebelum dia berangkat, dia bilang ma' (ibu) mau berangkat dulu mungkin satu hari tidak ada sinyal (dia berkabar) lewat WhatsApp," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, kapten kapal Tugboat Musaffah 2 yang meledak dan tenggelam di Selat Hormuz, warga asal Kabupaten Luwu bernama Miswar Maturasi. Keluarga mendapat kabar terkait insiden tersebut dari rekan Miswar di perusahaan kapal tersebut.
"Yang memberi info pertama kali yaitu Kapten Ismail, teman (di) perusahaan ayah," ujar anak korban bernama Yayat kepada detikSulsel, Senin (9/3).
Yayat mengaku mendapat kabar insiden kapal itu pada Jumat (6/3). Dia juga mengaku pihak keluarga masih sempat berkomunikasi dengan sang ayah sehari sebelum peristiwa itu atau pada Kamis (5/3) .
"Dan terakhir komunikasi Kamis siang jam 1," singkatnya.
3 ABK WNI Hilang di Selat Hormuz
Diketahui, tiga warga negara Indonesia (WNI) dinyatakan hilang usai kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab (PEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat (6/3). Kapal ini tenggelam di antara perairan PEA dan Oman pada pukul 02.00 waktu setempat.
"Insiden terjadi di Selat Hormuz, di antara perairan PEA dan Oman pada tanggal 6 Maret 2026 pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Berdasarkan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam. Hingga saat ini, Otoritas di PEA dan Oman masih melakukan penyelidikan terkait penyebab insiden ini," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah Heni kepada wartawan dilansir dari detikNews, Minggu (8/3).
Perwakilan RI telah berkoordinasi dengan otoritas PEA, Oman dan pihak perusahaan Safeen Prestige. Musaffah 2 terdiri dari 7 personel kapal yang berkewarganegaraan Indonesia, India, dan Filipina.
Heni mengatakan ada 4 WNI yang berada dalam kapal tersebut. Dilaporkan 1 WNI dalam keadaan selamat mendapat perawatan luka bakar di rumah sakit. Sementara 3 WNI lainnya, masih dalam proses pencarian.
"Berdasarkan informasi yang diterima, Musaffah 2 berawak total 7 personel berkewarganegaraan Indonesia, India, dan Filipina. 4 awak selamat, sedangkan 3 awak lainnya masih dalam proses pencarian," ujar Heni.
"Khusus kondisi 4 awak WNI, 1 WNI selamat sedang mendapat perawatan luka bakar di Rumah Sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan 3 WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat," sambungnya.
