Renungan Harian Katolik menjadi momen penting bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, lalu merenungkan sabda Tuhan yang dibacakan dalam liturgi harian. Melalui permenungan ini, setiap orang diajak melihat kembali perjalanan iman sekaligus membuka hati terhadap tuntunan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Renungan harian Katolik pada Kamis, 5 Maret 2026 mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu memberi ruang untuk bertobat, memperbaiki diri, dan bertumbuh dalam kasih. Tidak ada kata terlambat selama kita mau merespons panggilan-Nya dengan hati yang tulus. Berikut renungan lengkapnya sebagai bahan refleksi iman hari ini.
Renungan hari ini mengambil telah "Kesempatan" dikutip dari buku Renungan Tiga Titik yang ditulis oleh Julius Saviordi. Nah, secara lengkap artikel ini menyajikan:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Bacaan dan renungan Katolik Kamis, 5 Maret 2026 berdasarkan kalender liturgi;
- Teks mazmur tanggapan;
- Teks doa penutup;
Yuk, simak selengkapnya!
Renungan Harian Katolik Hari Ini 5 Maret 2026
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Bacaan I: Yer 17:5-10
Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."
Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2,3,4,6
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
Bacaan Injil: Luk 16:19-31
"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."
Renungan Hari Ini: Kesempatan
Namun, Abraham berkata: Anakku, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (Luk. 16:25)
Suatu kali Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Status sosial keduanya diceritakan sangat bertolak belakang. Orang kaya itu hidup dalam kemewahan.
Lazarus hidup dengan borok di badannya dan sangat miskin. Sampai-sampai untuk makan pun ia mendapatkannya dari apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.
Ketika keduanya meninggal, orang kaya itu menderita sengsara di alam maut, sedangkan Lazarus duduk di pangkuan Abraham. Orang kaya itu minta kepada Abraham untuk menyuruh Lazarus supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahnya, sebab ia sangat kesakitan dalam nyala api.
Hal itu ditolak Abraham. Setelah masuk ke alam maut, tidak ada lagi yang bisa diminta dan diubah. Tidak ada lagi kesempatan bagi si pendosa untuk mendapatkan hal-hal yang baik. Kesempatannya sudah habis.
Kesempatannya hanya pada waktu manusia hidup. Untuk menerima berkat dan menjadi berkat.
Ada lagu rohani berjudul "Hidup Ini Adalah Kesempatan". Pengarangnya bernama Wilhelmus Latumahina. Di tahun 2004, anak sulungnya, yang baru berumur 17 tahun, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.
Dua minggu kemudian, anak dari kenalannya, yang baru berumur 8 tahun, meninggal karena jatuh terpelanting waktu bersepatu roda. Kedua peristiwa tersebut membuatnya merenung dan menginspirasinya untuk menuliskan lagu ini.
Bahwa hidup ini hanya sementara. Selama kita hidup, itulah kesempatan kita.
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri
Hidup ini hanya sementara
Hari ini, pada waktu Anda membaca tulisan ini, kesempatan itu masih ada. Kesempatan untuk melayani Tuhan dengan menjalankan ajaran Tuhan Yesus, yaitu kasih. Siapa yang perlu kita kasihi? Pertama-tama adalah orang-orang yang setiap hari bersama dengan kita di rumah.
Apakah kita sudah mengasihi mereka dengan sikap dan tindakan yang baik? Atau malah kita yang minta dikasihi?
Doa Penutup
Oh Tuhan, pakailah hidup kami, selagi kami masih kuat. Bila saatnya nanti, kami tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat. Amin.
Itulah renungan harian Katolik Kamis, 5 Maret 2026. Tuhan memberkati!
(urw/urw)











































