5 Ide Ceramah Singkat Ramadhan Lengkap Judul dan Dalil

5 Ide Ceramah Singkat Ramadhan Lengkap Judul dan Dalil

Iswandy Rusli - detikSulsel
Minggu, 22 Feb 2026 19:00 WIB
ide ceramah singkat ramadhan dengan judulnya.
Foto: Gemini AI
Makassar -

Ceramah menjadi salah satu sarana menyampaikan nasihat kebaikan dan ajakan meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT di bulan Ramadhan. Ceramah singkat Ramadhan dan judulnya berikut ini bisa dijadikan sebagai referensi bagi detikers yang akan menyampaikannya.

Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan hikmah bagi seluruh umat Islam. Momentum istimewa ini menjadi waktu yang tepat untuk menyampaikan ceramah singkat yang padat dan menyentuh agar jamaah semakin termotivasi dalam beribadah.

Berikut 5 ide ceramah singkat Ramadhan lengkap dengan judul dan dalil yang bisa dijadikan referensi. Yuk simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ceramah Singkat Ramadhan #1

Judul: Dua Seruan Allah

Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang berisi seruan khusus kepada orang yang beriman, karenanya menjadi amat penting untuk kita perhatikan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

ADVERTISEMENT

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (Al-Baqarah: 172)

Berdasarkan ayat di atas, ada dua seruan Allah SWT untuk orang yang beriman, yaitu:

Pertama: Makan yang Baik

Makan, merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Namun, kita tidak dibenarkan memakan sesuatu tanpa mempertimbangkan aspek hukumnya. Itu sebabnya, Allah SWT menekankan kepada kita untuk makan yang halal dan thayyib (baik).

Rezeki yang thayyib menurut ash-Shabuni dalam tafsir ahkamnya adalah rezeki yang halal, maka setiap yang dihalalkan Allah adalah rezeki yang baik dan setiap yang diharamkan Allah adalah rezeki yang buruk.

Makan yang halal dan thayyib memiliki dua maksud. Pertama, memakan makanan yang secara hukum memang telah dihalalkan seperti memakan daging sapi, kambing, kerbau, ayam, dan sebagainya. Ke-dua, memakan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal, ini artinya meskipun pada dasarnya jenis yang dimakan itu dihalalkan, dia bisa menjadi haram manakala memperolehnya dengan cara yang tidak halal.

Dengan demikian, mencari rezeki di dalam Islam tidak dibolehkan dengan menghalalkan segala cara, apalagi sampai menggunakan jalur hukum untuk menghalalkan sesuatu yang tidak halal. Allah berfirman:

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu deng-an jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 188)

Seruan Kedua: Bersyukur

Bersyukur bukanlah sekadar mengucapkan terima kasih atau alhamdulillah kepada Allah SWT. Tetapi memanfaatkan kenikmatan itu untuk mengabdi kepada-Nya sehingga kenikmatan akan terus bertambah, baik dari segi jumlah maupun rasa dalam arti betapa terasa banyak kenikmatan itu meskipun sebenarnya sedikit.

Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (Ibrahim: 7)

Karena bersyukur kepada Allah SWT dalam kapasitas sebagai mukmin merupakan sesuatu yang sangat penting, maka setan terus berupaya semaksimal mungkin agar manusia tidak bersyukur kepada Allah SWT.

Tekad setan untuk membentuk manusia yang tidak bersyukur dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur'an, "Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari bela-kang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyak-an mereka bersyukur." (Al-A'raaf: 17)

Ceramah Singkat Ramadhan #2

Judul: Empat Strategi Setan

Sebagaimana kita ketahui, setan telah bertekad untuk menggoda dan menyesatkan manusia dengan berbagai cara. Ini diceritakan oleh Allah di dalam Al-Qur'an:

"(Iblis) menjawab, 'Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (al-A'raaf: 16-17)

Ibnu Abbas RA, sahabat yang ahli tafsir seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan empat strategi setan dalam menyesatkan manusia adalah sebagai berikut:

1. Menggoda dari depan dengan menanamkan keraguan tentang kehidupan akhirat, akibatnya manusia tidak memiliki persiapan untuk menghadapi hari akhirat dengan amal saleh yang banyak sehingga akan memperoleh azab. Allah berfirman,

"dan bahwa orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih." (al-Israa': 10)

Salah satu bahaya dari tidak beriman pada kehidupan akhirat adalah memandang baik perbuatan yang buruk. Allah SWT ber-firman:

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang bu-ruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan." (an-Naml: 4)

2. Menggoda dari belakang dengan menumbuhkan rasa terlalu cinta terhadap dunia. Hal ini merupakan salah satu penyakit terbesar dari manusia termasuk umat Islam. Bahkan bisa menghilangkan kekuatan umat sehingga umat ini, seperti makanan lezat yang diperebutkan orang yang lapar. Inilah yang akan menghasilkan penyesalan teramat dalam, sebagaimana Allah SWT berfirman,

"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadar-lah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, 'Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (ke-bajikan) untuk hidupku ini. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya." (al-Fajr: 23-26)

3. Menggoda dari sebelah kanan dengan menanamkan keraguan terhadap syariat, ini mengakibatkan manusia menjadikan kehi-dupan agama sebagai persoalan sepele saja. Bahkan agama, de-ngan segala hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, diang-gap sebagai permainan saja. Allah berfirman:

"Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), untuk mem-beri pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Baqarah: 231)

4. Menyesatkan manusia dari belakang, yakni merangsang manusia untuk berbuat maksiat. sehingga kemaksiatan dan dosa dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, indah, menguntungkan dan membahagiakan, Allah SWT berfirman,

"Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (Faathir: 8)

Akhirnya, menjadi keharusan kita semua untuk berlindung ke-pada Allah SWT dari segala godaan setan sehingga untuk membaca Al-Qur'an yang sudah jelas baik saja harus demikian, apalagi untuk melakukan yang lain.

Ceramah Singkat Ramadhan #3

Judul: Empat Pencegah Kerugian Hidup

Waktu merupakan bagian tak terpisah dalam kehidupan, namun banyak manusia yang mengabaikan pemanfaatan waktu dengan baik. Allah SWT berfirman,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (al-'Ashr: 1-3)

Agar terhindar dari kerugian, manusia harus mengisi waktu de-ngan empat hal sebagaimana ayat di atas:

1. Iman yang Benar

Iman yang benar menjadi faktor utama untuk bisa mewujudkan kehidupan yang baik. Allah SWT berfirman,

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl: 97)

2. Amal Saleh Yang Banyak

Amal saleh yang didasari oleh iman sebagaimana ayat di atas bi-sa mencegah manusia dari kerugian, bahkan di akhirat menjadi bekal untuk bisa berjumpa dengan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya,

"...barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan se-suatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (al-Kahfi: 110)

3. Saling Menasehati dalam Kebenaran

Manusia seringkali lupa, karenanya diperlukan saling menasihati agar tetap berada dalam kebenaran. Oleh karena itu, ada pesan khusus dari Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan ber-samalah kamu dengan orang-orang yang benar." (at-Taubah: 119)

4. Saling Menasehati dalam Kesabaran

Dalam menjalani kehidupan, manusia berhadapan dengan godaan dan tantangan, karenanya diperlukan kesabaran agar manusia tidak mengalami kerugian. Allah SWT berfirman,

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 155)

Ceramah Singkat Ramadhan #4

Judul: Meraih Surga Lewat Tarawih Dan Qiyamul Lail

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin jama'ah sholat Isya' dan Tarawih yang semoga dirahmati dan dimuliakan oleh Allah Ta'ala,

marilah kita panjatkan syukur kepada Allah karena masih diberi kekuatan untuk berdiri di malam-malam Ramadhan, malam yang diisi dengan shalat Tarawih dan qiyamul lail. Meski badan terasa letih, hati kita berharap semoga setiap lelah bernilai ibadah dan berbuah surga.

Para hadirin yang dimuliakan Allah,

Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan kita tentang lelah yang lillah-lelah karena Allah. Lelah berjalan ke masjid, lelah berdiri dalam shalat, lelah melawan kantuk dan keinginan rebahan. Semua itu bukan kelelahan sia-sia, tetapi lelah yang dicintai Allah jika disertai iman dan keikhlasan.

Allah Ta'ala memuji hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-'Ankabūt: 69)

Ayat ini mengajarkan bahwa kesungguhan dan pengorbanan adalah pintu hidayah. Maka setiap langkah menuju masjid dan setiap tetes keringat dalam ibadah adalah bagian dari jihad melawan hawa nafsu.

Hadirin yang dirahmati Allah,

shalat Tarawih dan qiyamul lail di bulan Ramadhan memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa menegakkan (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. al-Bukhari, no. 2009 dan Muslim, no. 759)

Hadits ini menunjukkan bahwa Tarawih dan qiyamul lail bukan sekadar shalat sunnah biasa, tetapi sarana besar penghapus dosa. Syaratnya jelas: dilakukan dengan iman dan mengharap pahala, bukan karena ikut-ikutan atau sekadar menggugurkan kewajiban sosial.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna qāma Ramadhān adalah menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat, baik Tarawih maupun qiyamul lail lainnya. (Sharh Sahih Muslim: 6/39).

Para hadirin yang dimuliakan Allah,

memang tidak bisa dipungkiri, shalat malam menghadirkan kelelahan. Kaki pegal, punggung terasa berat, dan mata sulit terbuka. Namun di balik itu semua tersimpan janji surga. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

"Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam." (HR. Muslim, no. 1163)

Shalat malam adalah ibadah orang-orang pilihan. la tidak disaksikan banyak manusia, tetapi disaksikan oleh Allah. Karena itu, lelahnya pun bernilai tinggi di sisi-Nya.

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menuturkan bahwa orang-orang shalih terdahulu merasa sedih jika suatu malam berlalu tanpa qiyamul lail, karena mereka meyakini bahwa kelelahan dalam ibadah adalah tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. (Lațā'if al-Ma'arif. 205).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Tarawih dan qiyamul lail juga mendidik hati untuk ikhlas dan sabar. Tidak ada paksaan dalam shalat malam. la murni panggilan iman. Orang yang bangkit di malam hari sesungguhnya sedang menjawab panggilan Rabb-nya.

Allah Ta'ala menggambarkan hamba-hamba-Nya yang istimewa:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (۱۷) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (۱۸)

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu sahur mereka memohon ampun." (QS. adz-Dzāriyāt: 17-18)

Ayat ini menunjukkan bahwa malam hari adalah waktu kedekatan khusus dengan Allah. Di saat kebanyakan manusia terlelap, hamba-hamba pilihan berdiri, bersujud, dan bermunajat.

Para hadirin yang dimuliakan Allah,

lelah yang lillah akan terasa ringan ketika kita menyadari balasannya. Rasulullah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامُ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

"Wahai Sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan sholat malam lah ketika manusia sedang tidur maka kalian akan masuk surga dengan sejahtera." (HR. at-Tirmidzi, no. 2485; dinilai shahih)

Hadits ini menegaskan bahwa shalat malam adalah jalan menuju derajat tinggi di surga. Maka setiap lelah yang kita rasakan dalam Tarawih dan qiyamul lail sejatinya sedang mengantarkan kita selangkah lebih dekat ke surga.

Hadirin jama'ah yang dimuliakan Allah,

jangan remehkan lelah dalam ibadah. Selama lelah itu lillah, selama niatnya karena Allah, maka ia bernilai pahala dan berbuah surga. Mari kita jalani Tarawih dan qiyamul lail dengan hati yang ikhlas, meski badan terasa letih.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ تَعَبَنَا فِي هَذَا الشَّهْرِ تَعَبَّا مَأْجُورًا ، وَقِيَامَنَا قِيَامَ الْمُخْلِصِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا أَجْمَعِينَ.

"Ya Allah, jadikanlah kelelahan kami di bulan ini sebagai kelelahan yang berpahala, jadikan qiyam kami qiyam orang-orang yang ikhlas, dan ampunilah seluruh dosa kami."

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا لَذَّةَ الْقِيَامِ بَيْنَ يَدَيْكَ فِي رَمَضَانَ وَبَعْدَهُ.

"Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya, serta karuniakan kepada kami kenikmatan berdiri di hadapan-Mu di bulan Ramadhan dan setelahnya."

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Ceramah Singkat Ramadhan #5

Judul: Ramadhan Adalah Bengkel Hati

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ . ...
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin jama'ah sholat Isya' dan Tarawih yang semoga dirahmati dan dimuliakan oleh Allah Ta'ala,
marilah kita panjatkan syukur kepada Allah yang masih memberi kita kesempatan berada di malam keenam bulan Ramadhan. Bulan ini bukan sekadar kalender ibadah, tetapi ruang perbaikan diri tempat Allah membukakan pintu taubat dan penyucian jiwa.

Para hadirin yang dimuliakan Allah,

dalam kehidupan sehari-hari, kita memahami bahwa kendaraan yang sering dipakai perlu masuk bengkel: dibersihkan, disetel ulang, dan diperbaiki agar kembali optimal. Hati manusia pun demikian. la bekerja setiap hari-berniat, merasa, mencinta, membenci-dan sangat mungkin tertutup debu dosa, karat maksiat, serta beban kelalaian. Ramadhan hadir sebagai bengkel hati: waktu terbaik untuk mensucikan jiwa yang kotor.

Allah Ta'ala menegaskan ukuran keberuntungan seorang hamba bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kesucian jiwa. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا .وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. asy-Syams: 9-10)

Ayat ini menegaskan bahwa tazkiyatun nafs-membersihkan jiwa-adalah proyek utama kehidupan beriman. Dan Ramadhan adalah waktu paling efektif untuk proyek ini, karena seluruh pintu kebaikan dibuka dan penghalang kebaikan dilemahkan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Rasulullah menjelaskan bahwa hati adalah pusat seluruh amal. Beliau bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. al-Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599)

Jika hati kotor, amal lahir pun akan kehilangan ruhnya. Puasa bisa tinggal lapar, shalat tinggal gerak, sedekah tinggal formalitas. Maka membersihkan hati adalah kebutuhan mendesak, bukan tambahan.

Para hadirin yang dimuliakan Allah,

Di sinilah Ramadhan bekerja seperti bengkel. Puasa menahan syahwat agar hati peka. Qiyamul lail melembutkan jiwa. Al-Qur'an menyinari batin. Sedekah mengikis cinta dunia. Semua ibadah Ramadhan bermuara pada satu tujuan: membersihkan hati.

Rasulullah bersabda tentang fungsi puasa:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الرُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. al-Bukhari, no. 1903)

Sumber:

1. Buku 160 Materi Dakwah Pilihan
2. Buku Jejak Ramadhan: Kumpulan Kultum Ramadhan 30 Hari Penuh Hikmah




(alk/alk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads