Bacaan niat puasa Ramadhan "Nawaitu shauma ghadin..." penting diketahui karena menjadi bagian penting sebelum memulai ibadah puasa. Lafaz niat puasa tersebut menegaskan tujuan berpuasa seorang muslim semata-mata hanya karena Allah SWT.
Disadur dari buku 'Fikih Empat Madzhab Jilid 2' oleh Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, niat merupakan salah satu syarat sah puasa. Maka dari itu, puasa seseorang dinyatakan tidak sah apabila dilakukan tanpa berniat terlebih dahulu.
Niat puasa bukan sekadar diucapkan dengan lisan, melainkan ditanamkan dalam hati sebagai kesungguhan menjalankan perintah Allah SWT. Karena itu, penting untuk mengetahui dan memahami bacaan niat puasa agar dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut detikSulsel menyajikan bacaan niat puasa Ramadhan harian "Nawaitu shauma ghadin..." lengkap. Disimak, yuk!
Niat Puasa Ramadhan Harian: Nawaitu Shauma Ghadin...
Dilansir dari Buku Praktis Ibadah oleh Irwan, Ahmad Jafar, dan Husain, niat puasa Ramadhan harian adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضٍ شَهْرٍ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta'ālā.
Artinya: Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala.
Apakah Niat Puasa Ramadhan Harus Dibaca Setiap Hari?
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Mazhab Syafii disebutkan bahwa niat puasa wajib dilakukan setiap hari selama bulan Ramadhan. Niat puasa dilakukan pada malam hari, yaitu setelah Matahari terbenam hingga hingga sebelum terbit fajar atau waktu Subuh.
Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam karyanya, Hasyiyatul Iqna', menjelaskan sebagai berikut:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
Artinya: "Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, 'Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.' Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits." (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna', juz 2)
Bagaimana Jika Lupa Membaca Niat Puasa di Malam Hari?
Tidak jarang seseorang lupa melafalkan niat puasa, baik pada malam hari maupun pada saat sahur. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak sah puasa seseorang jika tidak diawali dengan niat.
Lantas, bagaimana hukum puasa bagi orang yang lupa membaca niat puasa pada malam hari, apakah harus membatalkan puasanya?
Dilansir dari laman NU Online, puasa orang yang lupa berniat pada malam hari dinilai tidak sah. Meski demikian, hukum fikih tetap mewajibkan seseorang tersebut berpuasa pada hari itu, kemudian menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadhan.
Namun, ulama Mazhab Syafii tetap memberikan solusi bagi orang yang terlanjur lupa berniat puasa Ramadhan di malam harinya. Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmû' Syarhul Muhadzdzab menjelaskan sebagai berikut:
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْوِيَ فِي أَوَّلِ نَهَارِهِ الصَّوْمَ عَنْ رَمَضَانَ لِأَنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فَيَحْتَاطُ بِالنِّيَّةِ
Artinya: Disunnahkan (bagi yang lupa niat di malam hari) berniat puasa Ramadhan di pagi harinya. Karena yang demikian itu mencukupi menurut Imam Abu Hanifah, maka diambil langkah kehati-hatian dengan berniat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, orang yang lupa berniat puasa pada malam hari masih dapat berniat di pagi harinya. Namun, niat tersebut harus disertai kesadaran bahwa ia sedang mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah sebagai bentuk taqlid.
Niatan taqlid ini perlu ditegaskan karena mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti Mazhab Syafii yang mewajibkan niat puasa dilakukan pada malam hari. Jika niat puasa dilakukan pada pagi hari tanpa disertai taqlid kepada Abu Hanifah, maka hal tersebut dinilai sebagai mencampuradukkan ibadah yang rusak.
Sementara itu, dalam ketentuan Mazhab Hanafi, niat puasa masih diperbolehkan hingga ketika Matahari hendak tergelincir, sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Hal ini dijelaskan dalam buku 'Panduan Praktis Ibadah Puasa' oleh Drs E Syamsuddin dan Ahmad Syahirul Alim Lc.
Selain itu, niat puasa pada dasarnya juga sudah terwakili ketika seseorang melaksanakan makan sahur, selama sahur tersebut memang diniatkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Adapun niat dianggap telah cukup apabila seseorang sudah menanamkan dalam hati bahwa ia akan berpuasa, sedangkan melafalkannya dengan lisan bersifat sunnah.
Demikian bacaan niat puasa Ramadhan harian "Nawaitu Shauma Ghadin..." beserta ketentuan waktu membacanya. Semoga bermanfaat!
(alk/alk)











































