Renungan Harian Katolik Jumat, 6 Februari 2026: Mulutmu Harimaumu

Renungan Harian Katolik Jumat, 6 Februari 2026: Mulutmu Harimaumu

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Jumat, 06 Feb 2026 10:00 WIB
Renungan harian Katolik
Ilustrasi (Foto: RomΓ©o A./Unsplash)
Makassar -

Renungan Harian Katolik hadir sebagai ruang hening bagi umat untuk menata kembali hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Melalui permenungan atas Sabda Tuhan hari ini, kita diajak menyadari bahwa iman tidak hanya terwujud lewat tindakan besar, tetapi juga melalui kata-kata sederhana yang kita ucapkan setiap hari.

Renungan harian Katolik Jumat, 6 Februari 2026 mengangkat tema "Mulutmu Harimaumu" yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik ditulis oleh Cecilia Hesti Prayoganingsih. Melalui tersebut mengajak kita untuk kembali belajar mengendalikan lidah agar perkataan kita mencerminkan kasih, kebenaran, dan kebijaksanaan.

Dalam terang Sabda Tuhan, renungan harian Katolik Jumat, 6 Februari 2026, mengajak kita untuk kembali belajar mengendalikan lidah agar perkataan kita mencerminkan kasih, kebenaran, dan kebijaksanaan. Nah, secara lengkap artikel ini memuat tentang:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  1. Bacaan dan renungan harian 6 Februari 2026 berdasarkan kalender liturgi;
  2. Teks mazmur tanggapan;
  3. Teks doa penutup.

Yuk, simak selengkapnya!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 6 Februari 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

ADVERTISEMENT

Bacaan I: Sir 47:2-11

Seperti lemak dipungut dari korban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-prang Israel.

Singa-singa dipermajnkan olehnya seolah-olah kambing jantan belaka, dan beruang-beruang seakan-akan hanya anak domba saja.

Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa serta mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kebanggaan Goliat?

Sebab berserulah ia kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, sehingga Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya.

Maka dari itu ia dimuliakan karena "laksaan", dan dipuji-puji oleh karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota yang mulia dipersembahkan kepadanya.

Sebab ia membasmi segala musuh di kelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini.

Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata yang luhur menghormati Yang Kudus, Yang Mahatinggi. la bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengasihi Penciptanya.

Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dan memperindah lagu-lagunya dengan bunyinya.

Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalun-talun di tempat kudus-Nya.

Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selaina-lamanya. iapun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel,

Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31,47,50,51

Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?

Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku,

Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya."

Bacaan Injil: Mrk 6;14-29

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia."

Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu."

Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi."

Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.

Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"

Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,

sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.

Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",

lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"

Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"

Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"

Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.

Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.

Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Renungan Hari Ini: Mulutmu Harimaumu

Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, "Mintalah kepadaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!" lalu bersumpah kepadanya, "Apa saja yang kauminta dariku akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku! (Mrk. 6:22-23)

Peribahasa "Mulutmu harimaumu" sering kita dengar untuk menggambarkan situasi seseorang yang karena perkataannya, dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Seperti yang terjadi pada dua tokoh kisah Injil hari ini, yaitu Yohanes Pembaptis dan Herodes Antipas.

Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara karena berkali-kali menegur Herodes Antipas yang mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya. Herodes Antipas dan Filipus adalah anak Herodes Agung dari ibu yang berbeda, karena Herodes Agung mempunyai beberapa istri.

Teguran keras ini membuat Herodias dendam dan ingin membunuh Yohanes. Sedangkan Herodes Antipas termakan sumpahnya sendiri di depan semua tamu undangan dalam pesta ulang tahunnya.

Ia akan memberikan apa saja yang diminta Salome, anak tirinya dari Herodias, yang telah tampil menari hingga menyenangkan hati Herodes dan semua tamu. Tak diduga, permintaan Salome adalah kepala Yohanes Pembaptis atas arahan Herodias, ibunya, yang memanfaatkan situasi ini untuk melampiaskan dendamnya kepada Yohanes.

Dalam Markus 6:26 tersirat sebenarnya hati nurani Herodes tidak menginginkan itu terjadi, tetapi sumpah sudah terlanjur diucapkan. Maka sebagai raja, ia harus melaksanakan sumpah itu. Sungguh mengerikan! Kata-kata yang keluar dari mulut karena emosi sesaat mengakibatkan hilangnya nyawa seorang yang benar dan suci. Hal ini masih terjadi saat ini.

Di dunia digital yang berkembang pesat sekarang ini, kata-kata bisa berujung kasus hukum. Bahkan, bisa menyebabkan orang tak bersalah menjadi tersangka, karena pemutarbalikan fakta yang mampu mempengaruhi asumsi publik melalui media sosial.

Namun, melalui media digital pun kita bisa menyebarkan kebaikan seperti content creator Merry Riana, yang membagikan inspirasi dan motivasi setiap hari kepada jutaan subscribers dan followers. Dari kisah ini, kita diajak untuk merefleksikan diri apakah selama ini kita sudah benar dalam berkata-kata?

Apakah kita mampu seperti Yohanes Pembaptis untuk mengatakan kebenaran apapun resikonya? Ataukah kita lebih sering untuk mengatakan kebenaran apapun resikonya?

Ataukah kita lebih sering seperti Herodes yang menghalalkan segala cara demi gengsi dan kedudukan, walaupun harus melawan nurani yang mengarahkan pada kebenaran? Mari belajar untuk tidak sembarang berucap apalagi mengatakan sumpah. Jadikanlah "Mulutmu berkatmu!"

Doa

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah memberi kami mulut untuk berbicara. Bantulah kami untuk terus menjaga mulut kami, agar selalu mengatakan hal-hal yang baik dan benar. Kami sadar bahwa kami masih sering mengatakan hal-hal yang kurang berkenan pada-Mu. Mohon ampun atas segala kekurangan dan kelemahan kami ini, ya Bapa. Bimbinglah agar kami terus belajar memperbaiki diri kami. Semua doa ini kami serahkan kepada-Mu dengan perantaraan Putra-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Jumat, 6 Februari 2026. Tuhan berberkati!



(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads