Renungan Harian Katolik Sabtu 31 Januari 2026 dan Bacaan: Berseru dan Percaya

Renungan Harian Katolik Sabtu 31 Januari 2026 dan Bacaan: Berseru dan Percaya

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Sabtu, 31 Jan 2026 06:30 WIB
Renungan harian Katolik
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Makassar -

Renungan Harian Katolik hadir sebagai panduan rohani bagi umat untuk mengawali dan menjalani hari dengan terang firman Tuhan. Melalui permenungan singkat atas Sabda Tuhan, umat diajak untuk melihat kembali perjalanan hidupnya, menilai sikap dan pilihan yang diambil, serta memperbarui komitmen iman dalam keseharian.

Renungan harian Katolik Sabtu, 31 Januari 2026 mengangkat tema "Berseru dan Percaya" yang dikutip dari buku Inspirasi Pagi ditulis oleh Y Damai Wasono OFM. Renungan ini mengajak umat menyadari bahwa kehidupan iman merupakan sebuah proses yang dinamis.

Renungan Harian Katolik hari ini mengingatkan bahwa Tuhan selalu mendengarkan seruan umat-Nya. Melalui Sabda Tuhan yang dibacakan, umat diajak untuk tidak hanya berdoa saat terdesak, tetapi juga membangun kepercayaan yang teguh bahwa Tuhan setia menyertai setiap langkah kehidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, secara lengkap artikel di bawah ini menyajikan:

  1. Bacaan dan renungan harian 31 Januari 2026 berdasarkan kalender liturgi.
  2. Teks mazmur tanggapan
  3. Teks doa penutup

Yuk, simak selengkapnya!

ADVERTISEMENT

Renungan Harian Katolik Hari Ini 31 Januari 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: 2 Sam 12:1-7a,10-17

Tuhan mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.

Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;

si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.

Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."

Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.

Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."

Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.

Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.

Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."

Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.

Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.

Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:12-13,14-15,16-17

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bacaan Injil: Mrk 4: 35-41

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."

Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"

Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Renungan Hari Ini: Berseru dan Percaya

"Gereja bagai bahtera, di laut yang seram. Mengarahkan haluannya, ke pantai seberang. Mengamuklah samudera, dan badai menderu. Gelombang zaman mengempas, dan sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah, selagi berjerit. Berapa lagi jauhnya, labuhan abadi? Tuhan, tolonglah. Tuhan, tolonglah. Tanpa Dikau, semua binasa kelak. Ya Tuhan, tolonglah." Lagu Gereja bagai Bahtera ini mungkin sering kita dengar dan kita nyanyikan. Gereja itu bagaikan bahtera, perahu yang sedang berlayar di laut yang luas.

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang para murid yang sedang berada di dalam perahu yang sedang berlayar. Ketika perahu mereka sedang berada di tengah-tengah danau, datanglah angin topan yang mengakibatkan ombak besar, sampai-sampai air danau pun menyembur masuk ke dalam perahu.

Meski banyak murid berasal dari kalangan nelayan, berhadapan dengan topan yang dahsyat dan ombak yang ganas itu, mereka tetap merasa ketakutan. Hati mereka menjadi ciut.

Sementara itu, Yesus tetap tidur di buritan, sehingga para murid berteriak-teriak untuk membangunkan-Nya, "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Menarik untuk disimak, para murid menyebut "kita", bukan "kami". Perkataan mereka ini hendak menyatakan bahwa selain keselamatan merka sendiri, mereka peduli juga dengan keselamatan Yesus.

Yesus akhirnya bangun dan menghardik topan itu, "Diam! Tenanglah!" Angin itu pun reda dan danau pun menjadi teduh. Gereja bagai bahtera, dan Gereja yang terkecil adalah keluarga.

Dalam hidup berkeluarga, sering ada badai atau topan yang datang menghantam bahtera hidup kita. Topan tersebut berupa permasalahan-permasalahan yang kita hadapi dalam hidup kita.

Menghadapi itu, sering kita menjadi takut, cemas, khawatir, dan bahkan putus harapan. Kita sering menduga bahwa Tuhan tidak hadir, Tuhan tidak datang membantu kita.

Tuhan sedang tidur dan membiarkan kita binasa oleh persoalan-persoalan hidup kita. Yesus bersabda, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat. 11:28).

Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. Kita perlu pertolongan dari Tuhan.

Berseru meminta pertolongan Tuhan adalah sesuatu yang baik. Setiap kali berhadapan dengan permasalahan hidup, mari kita masuk dalam keheningan dan berdoa, "Tuhan tolonglah aku." Allah kita adalah Allah yang peduli. Ia akan datang menolong hamba-Nya yang percaya kepada-Nya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
kami bersyukur atas sabda-Mu yang menguatkan kami hari ini.
Engkau mengingatkan kami bahwa di tengah badai kehidupan,
Engkau tetap hadir, meski terkadang kami merasa Engkau diam.

Saat perahu hidup kami diguncang oleh gelombang persoalan,
ketakutan, dan kecemasan,
ajarlah kami untuk tidak kehilangan iman.
Berilah kami hati yang berani berseru kepada-Mu
dan kepercayaan yang teguh bahwa Engkau selalu peduli.

Teguhkanlah keluarga-keluarga kami,
jadikanlah bahtera kehidupan kami
tetap berlayar dalam damai meski badai menghadang.
Ajarlah kami untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri,
melainkan menyerahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan-Mu.

Kami percaya, ya Tuhan,
bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami.
Dalam setiap seruan yang kami naikkan,
Engkau datang membawa ketenangan dan harapan.

Kami menyerahkan hari ini dan seluruh hidup kami ke dalam penyelenggaraan-Mu. Semoga iman kami semakin dikuatkan, dan kami mampu berjalan dengan penuh percaya kepada-Mu.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Itulah renungan harian Katolik Sabtu, 31 Januari 2026. Tuhan berberkati!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads