14 Rumah Rusak-Gedung PAUD Roboh akibat Banjir Bandang di Enrekang

14 Rumah Rusak-Gedung PAUD Roboh akibat Banjir Bandang di Enrekang

Rachmat Ariadi - detikSulsel
Rabu, 12 Okt 2022 12:55 WIB
14 Rumah Rusak-Gedung PAUD Roboh akibat Banjir Bandang di Enrekang
Foto: Sebuah bangunan hanyut terbawa banjir di Enrekang, Sulsel. (Dok. Istimewa)
Enrekang -

Sebanyak 14 rumah di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) rusak diterjang banjir bandang. Gedung sekolah tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga dilaporkan roboh usai dihantam banjir yang disertai longsor.

"Kalau data saat ini sudah sebanyak 14 rumah warga yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor, satu jembatan rubuh, dan ada juga sejumlah unit sepeda motor yang hilang terseret banjir," kata Kepala Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Enrekang, Arsil Bagenda kepada detikSulsel, Rabu (12/10/2022).

Banjir bandang dan tanah longsor diketahui menimpa 3 kecamatan di Kabupaten Enrekang sejak Minggu (11/10) kemarin. Tiga kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Enrekang, Kecamatan Maiwa, dan Kecamatan Baraka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsil mengungkapkan, banjir terparah menimpa Desa Ranga, Kecamatan Enrekang. Sejumlah rumah warga porak-poranda hingga gedung sekolah PAUD rusak.

"Desa Ranga ini terparah yah, ada kurang lebih 6 rumah warga di sana rusak berat akibat terkena banjir bandang dan tanah longsor. Sekolah PAUD juga ada yang hancur terkena material longsor," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Arsil mengutarakan, kejadian banjir bandang di sejumlah wilayah Enrekang disebabkan kurangnya resapan air atau pohon yang berada di sekitar sungai. Hal ini dikarenakan, masifnya pembukaan lahan perkebunan masyarakat tanpa mempedulikan dampak lingkungan.

"Bukan kami salahkan masyarakat yah, tapi memang ini dikarenakan alih fungsi lahan yang dilakukan masyarakat sendiri. Pokoknya semua wilayah yang diterjang banjir bandang," ucap Arsil.

Dia mencontohkan, di Desa Ranga yang menjadi wilayah terparah dari kejadian ini. Menurutnya, tebing yang berada di desa tersebut disulap warga menjadi lahan perkebunan usai pohon-pohon ditebang hingga gundul.

"Di (Desa) Ranga itu memang masyarakat berkebun ke atas, jadi saat hujan deras datang air tidak tertampung karena tidak ada pohon, ya sudah amblas ke bawah," jelas Arsil.

Sebelumnya Kepala Desa Matajang, Kecamatan Maiwa, Karman mengaku, wilayahnya menjadi terisolir usai jaringan listrik terputus sejak tiga hari terakhir. Tiang listrik yang berdiri di wilayah itu roboh dihantam banjir.

"Iye sudah 3 hari ini listrik padam. Tiang listriknya roboh terbawa banjir bandang kemarin," kata Karman saat dihubungi, Selasa (11/10).

Karman membeberkan listrik padam di daerahnya sejak Minggu (9/10). Selain aliran listrik yang terputus, jembatan penghubung desa ke Kota Kecamatan Maiwa juga ambruk tersapu banjir bandang.




(sar/nvl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads