3 Anak di Mamuju Berhenti Sekolah gegara Ortu Tak Mampu Beli Seragam-Buku

Sulawesi Barat

3 Anak di Mamuju Berhenti Sekolah gegara Ortu Tak Mampu Beli Seragam-Buku

Hafis Hamdan - detikSulsel
Sabtu, 01 Okt 2022 10:58 WIB
Tiga anak di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membeli seragam dan buku sekolah.
Foto: Hafis Hamdan/detikcom
Mamuju -

Tiga anak di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membeli seragam dan buku sekolah. Sang ayah mengalami cacat fisik dan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Mau bagaimana beli seragam dan buku pelajaran. Saya bahkan tidak bisa bekerja karena kondisi fisikku, sementara ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga," kata Muliadi, ayah dari tiga anak yang tidak bisa lanjut sekolah saat ditemui detikcom, Jumat (30/9/2022).

Ketiga anak perempuan dari Muliadi (53) dan istrinya Jumiati (50) itu masing-masing bernama Anisa (13), Nisa (9) dan Alexa (7). Mereka tinggal di Lingkungan Tarambang, Kelurahan Mamunyu, Kabupaten Mamuju.


Anisa telah menyelesaikan pendidikan tingkat SD namun tak mampu lanjut tingkat SMP karena tidak memiliki uang untuk membeli seragam. Sementara kedua adiknya Nisa dan Alexa sempat mendaftar di SD Binanga 1 namun tidak pernah masuk sekolah karena tidak memiliki seragam.

"Yang satu (Anisa) mau lanjut SMP cuman terkendala biaya buat beli seragam. Sementara dua adiknya sempat mendaftar di SD," ujar Muliadi.

Muliadi menuturkan kedua anaknya Nisa dan Alexa sempat mendaftar di SD Binanga 1 Mamuju dan diterima. Terkendala biaya beli seragam kedua bersaudara itu bahkan tidak pernah masuk sekolah.

"Sudah daftar saja tapi tidak pernah masuk sekolah, Nisa itu sebenarnya kalau sekolah sudah kelas 5 SD. Kalau Alexa kelas 2 SD," pungkasnya.

Muliadi mengalami cacat fisik akibat kecelakaan kerja yakni tersengat listrik pada 2017 lalu mengakibatkan kedua tangannya putus dan kakinya bengkak. Kondisi itu membuatnya tidak mampu mencari nafkah untuk ketiga putrinya.

Sementara sang ibu Jumiati hanya bekerja jika mendapat panggilan dari pemilik rumah tempat bekerja. Bahkan kadang ia tidak mendapat panggilan dan hanya tinggal di rumah.

"Saya kecelakaan kerja 2017 waktu perbaiki listrik itu, tangan dua-duanya meleleh dan betis ini hampir putus juga. Sekarang kalau saya makan saja disuap, berdiri saja sulit. Sementara istri kerja kalau ada lagi yang bisa dikerja, kalau tidak ya dirumah," imbuhnya.

Muliadi mengaku untuk makan sehari-hari harus berhemat termasuk memasak masih menggunakan kayu. Tanah dan rumah yang ditempati pun merupakan pemberian dan bantuan dari warga.

"Kita masak masih pakai kayu juga, sebenarnya adaji kompor cuman ya harus diatur pemakaian gas. Kalau untuk tanah yang ditempati ini dari BAZ (Badan Amil Zakat) sementara kalau rumah ada bantuan dari warga," ungkapnya.

Atas kondisi keluarganya, Muliadi berharap pemerintah mampu memberikan kepastian memperoleh pendidikan bagi ketiga anaknya. Dia mengaku sedih saat melihat anak sekitar wilayahnya sekolah sementara ketiga anaknya hanya tinggal di rumah.

"Saya berharap kita bisa dilihat (kondisi keluarga), saya ini dulu pekerja keras sebelum kena musibah itu (tersengat listrik). Semoga ya ada perhatian, anak-anak saya bisa sekolah, belajar sama teman-temannya," ucap Muliadi berurai air mata.



Simak Video "Banjir 3 Meter Rusak Rumah Warga di Polman, Ada yang Sampai Roboh"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hmw)