Setop Sebar-Dengar Rekaman Suara Ibu Bunuh 2 Anak di Pinrang, Ini Bahayanya!

Setop Sebar-Dengar Rekaman Suara Ibu Bunuh 2 Anak di Pinrang, Ini Bahayanya!

Al Khoriah Etiek Nugraha - detikSulsel
Kamis, 22 Sep 2022 12:52 WIB
Tampilan fitur pause dan resume pesan suara di WhatsApp Dekstop
Ilustrasi. (Foto: WABetaInfo)
Makassar -

Rekaman pesan suara atau voice note (VN) ibu rumah tangga (IRT) inisial B (37) yang tega membunuh kedua anaknya dan ditemukan tewas tergantung beredar di media sosial. Psikolog meminta masyarakat untuk berhenti menyebarkan dan mendengar rekaman suara tersebut, karena bisa berdampak negatif dan menjadi pemicu kasus serupa pada golongan orang tertentu.

Rekaman B itu sengaja dikirimkan untuk suaminya melalui pesan Whatsapp, sesaat sebelum B ditemukan tewas di rumahnya bersama 2 anaknya. Belakangan rekaman suara itu tersebar luas.

"Kita tidak pernah tahu bagaimana persepsinya orang ketia mendengarkan rekaman itu. Kita tidak pernah paham orang yang mendengar itu dalam kondisi bagaimana," jelas Psikolog Pendalaman Klinis, Remaja, dan Keluarga Istiana Tajuddin kepada detikSulsel, Rabu (21/9/2022) malam.


Istiana menjelaskan pesan suara berbahasa Bugis yang telah tersebar di media sosial lengkap dengan terjemahannya itu bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang. Sementara kondisi psikologis orang yang menerima pesan itu juga sangat beragam.

Sehingga, menurutnya rekaman tersebut justru bisa menjadi referensi bagi orang-orang yang rentan. Apalagi, jika orang tersebut juga mengalami kelelahan psikologis yang berat.

"Jadi bisa saja orang yang mendengar menjadikan itu sebagai referensi untuk menyelesaikan masalahnya juga, ketika mungkin dia dalam kondisi kelelahan psikologis yang cukup berat juga," kata Istiana.

Istiana menambahkan masyarakat Indonesia umumnya memiliki budaya "cocoklogi", yakni menyamakan kondisi orang lain dengan dirinya. Sehingga rekaman pesan wasiat tersebut sangat berbahaya bagi orang yang memiliki persoalan hidup yang hampir serupa.

Untuk itu, ia mengimbau agar pengguna media sosial lebih bijak untuk tidak semakin menyebarluaskan rekaman tersebut. Ia juga meminta agar pengguna media sosial tidak mengulang-ulang isi rekaman yang ada.

"Sebaiknya tidak ikut menyebarluaskan. Terus kemudian tidak terus mengulang-ulang. Karena kita punya kerentanan psikologis yang berbeda-beda," imbaunya.

Selain itu, dua anak yang masih hidup juga menjadi perhatian Istiana. Pasalnya, rekaman tersebut juga akan mempengaruhi psikologi sang anak.

"Jangan sampai kita masyarakat yang menciptakan penyakit psikologis yang semakin berat pada orang-orang tertentu," pesannya.

Ia juga mengimbau agar semua orang bisa lebih peduli dengan kondisi mental diri sendiri dan sekitarnya.

"Mungkin saja orang di sekitar kita butuh didengar tapi kita terlalu sibuk dengan diri sendiri atau dunia luar," pungkasnya.



Simak Video "Kata Psikolog soal Usia Muda Rentan Terjerat Love Bombing"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)