Cerita Sejoli di Enrekang Nikah di Tenda BPBD gegara Fenomena Tanah Bergerak

Cerita Sejoli di Enrekang Nikah di Tenda BPBD gegara Fenomena Tanah Bergerak

Rachmat Ariadi - detikSulsel
Senin, 12 Sep 2022 19:51 WIB
Jusman dan Nur Paslin, warga Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) melangsungkan resepsi pernikahan di tenda pengungsian.
Foto: Rachmat Ariadi/detikSulsel
Enrekang -

Jusman dan Nur Paslin, warga Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) melangsungkan resepsi pernikahan di tenda pengungsian. Hal ini dilakukan karena rumah kedua mempelai rusak berat akibat fenomena tanah bergerak.

"Jadi kami menggelar pesta di tenda pengungsian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Cuma warga desa yang hadiri sama kerabat dekat, kita tidak sebar undangan karena masih suasana bencana," kata keluarga mempelai pengantin, Abdul Wahab kepada detikSulsel, Senin (12/9/2022).

Pantauan detikSulsel, resepsi pernikahan itu berlangsung di Desa Labuku, Kecamatan Maiwa, Enrekang pada Senin (12/9) siang. Tenda pengungsian milik BPBD Enrekang disulap warga menjadi tenda pelaminan.


Dekorasi resepsi pernikahan khas Bugis terlihat memenuhi setiap sudut tenda pengungsian itu. Disiapkan juga kursi untuk kedua mempelai di panggung pelaminan dengan dekorasi bunga warna-warni.

Bahkan dalam tenda itu warga menyediakan meja prasmanan untuk tamu undangan layaknya resepsi pernikahan pada umumnya. Wahab mengungkapkan awalnya rencana pernikahan akan diadakan pada Senin (5/9) kemarin namun terjadi fenomena tanah bergeser pada Rabu (31/8).

Fenomena tersebut mengakibatkan beberapa jalan desa rusak berat dan 32 rumah warga porak-poranda akibat pergeseran tanah itu. Oleh sebab itulah rencana pernikahan keduanya sempat ditunda dan baru terlaksana hari ini.

"Sempat ditunda, rencananya tanggal (5/9) tapi bencana datang sebelum itu. 32 rumah warga rusak berat tidak bisa lagi dihuni termasuk milik kedua mempelai ini. Jadi ditunda, hari ini baru dilaksanakan," ungkap Wahab yang juga Kepala Desa Labuku.

Wahab juga mengutarakan dirinya dan warga Desa Labuku berinisiatif untuk menjadikan tenda pengungsian sebagai tempat resepsi karena tidak ada rumah warga yang memadai.

"Saya minta izin sama BPBD Enrekang, diizinkan Alhamdulillah. Sehingga, dua adik kami ini bisa melaksanakan resepsi pernikahan," ujarnya.

Sementara itu mempelai laki-laki, Jusman mengutarakan dirinya merasa bahagia meski resepsi pernikahannya digelar di tenda pengungsian.

"Namanya bencana kita tidak ada yang tau Pak. Kita cuma bisa merencanakan toh. Pasti senang dan bahagia, meski sederhana," tandasnya.



Simak Video "Fenomena Tanah Bergerak di Enrekang Sulsel, 32 Rumah Rusak"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hmw)