Cerita Guru SD di Bone ke Sekolah Tempuh 57 Km Lewati Hutan-Tebing

Agung Pramono - detikSulsel
Minggu, 19 Jun 2022 20:49 WIB
Saharuddin, guru siswa SD di pedalaman Bone.
Foto: Saharuddin, guru siswa SD di pedalaman Bone. (Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Saharuddin, guru siswa SD Inpres 5/81 Tapong, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang ke sekolah jalan kaki-bawa parang, turut merasakan sulitnya akses menuju sekolah. Dia bahkan harus menempuh perjalanan 57 kilometer (km) setiap hari.

Sudah 31 tahun atau sejak 1991 Saharuddin mengajar di SD Inpres 5/81 Tapong. Butuh perjuangan dan kesabaran menjadi tenaga pendidik, apalagi sudah ada 5 motor rusak selama melakukan perjalanan pulang pergi ke sekolah. Saharuddin tinggal di Desa Mattampa Walie, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

detikSulsel mencoba menemui Saharuddin, Selasa (14/6). Saat itu dia sudah berada di jalanan masuk ke Kecamatan Tellu Limpoe pada pukul 07.00 Wita. Dia menggunakan pakaian dinas lengkap dengan celana digulung sampai ke betis dan motor yang sudah dimodifikasi trail.


Di motor itu, Saharuddin sudah membawa persediaan satu botol bensin cadangan. Berkas-berkas pelajaran di sekolah juga sudah diikat rapi menggunakan karet ban bekas.

"Panjang jalanan masuk itu 57 km ditempuh dengan waktu 2 jam paling cepat. Kalau jalanan tidak basah," kata Saharuddin sebelum memulai perjalanannya.

Rute yang dilewatinya juga beragam. Pertama ia akan melewati ibu kota Kecamatan Tellu Limpoe yakni Desa Gaya Baru. Untuk sampai di sana, treknya mendaki terus menerus dengan jalanan yang berliku-liku. Untungnya jalan tersebut sudah diaspal.

Setelah itu, Saharuddin lalu melewati jalanan beton sepotong-sepotong di Desa Batu Putih. Di desa tersebut, baru setengah perjalanan untuk untuk sampai di sekolahnya.

"Di sini (Desa Batu Putih) baru setengahnya. Jalanan di depan nanti itu yang parah karena mendaki baru medannya sangat licin," sebutnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 Wita, perjalanan kembali dilanjutkan. Mendaki di jalur yang ekstrem, kadang harus singgah sejenak di pertengahan pendakian yang licin. Kadang pula motor Saharuddin berputar kembali untuk mengambil ancang-ancang.

Setelah itu melewati jalanan menurun, kemudian melalui jalan tebing tanpa pembatas. Kemudian jalanan paling licin saat memasuki hutan pinus. Ketika sudah sampai di hutan pinus, perjalanan tidak akan lama lagi. Sisa melewati dua jembatan gantung beralaskan papan yang sudah rapuh.

Saharuddin menuturkan aktif mengajar di SD Inpres 5/81 Taping sejak tahun 1991, dengan surat ketetapan (SK) defenitif per 1 Oktober 1992. Namun, pada awal-awal dia berjalan kaki seharian untuk sampai ke sekolah. Jika musim hujan, ia memutuskan menginap.

"Selama lima tahun jalan kaki, hanya bermodalkan badik kalau jalan dulu. Karena dulu belum ada jalanan, masih jalanan setapak," tuturnya.

Jalanan baru dirintis pada tahun 1997. Sejak saat itu Saharuddin sudah diangkat menjadi kepala sekolah.

"Saya menyaksikan semua perintisan jalan di sini. Mulai dari tidak ada jalan hingga adanya jalan," sebutnya.

Sejak sudah bisa dilewati kendaraan Saharuddin sudah mulai naik motor ke Desa Tapong. Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Barru, Pangkep, dan Soppeng.

"Sudah ada lima motor rusak semenjak mengajar di sini, pertama RX Spesial, itu sudah timbang (dijual rangka), lalu Honda Beat ada 2 yang juga rusak. Kemudian ada satu motor Suzuki, sekarang Suzuki Shogun dijadikan sebagai motor hutan," kelakarnya.

Saat ini, ada empat guru ASN di SD Inpres 5/81 Tapong, PPPK dua orang, dan honorer lima orang. Sedangkan total keseluruhan siswa dari kelas 1 hingga kelas VI sebanyak 105 orang. Siswa yang berasal dari Dusun 1 Lerang atau kaki gunung sekitar 40 orang.



Simak Video "Serawi Sulo, Tradisi Unik dan Ekstrem Warga Bone, Sulawesi Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/nvl)