Melihat Rute Siswa SD Bone Jalan Kaki 7 Km ke Sekolah, Ada Ular-Babi Hutan

Agung Pramono - detikSulsel
Minggu, 19 Jun 2022 19:21 WIB
Siswa SD di Bone bawa parang ke sekolah untuk melewati hutan dan sungai.
Foto: Siswa SD di Bone bawa parang ke sekolah untuk melewati hutan dan sungai. (Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Yudding (12), Kamriani (13), dan Nursabbi (11), siswa SD di pedalaman Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) mesti siap melewati bahaya untuk bisa menuju ke sekolah. Perjalanan mereka sepanjang 7 kilometer (km) dihantui kemunculan ular piton.

Hampir setiap hari, ketiga bersaudara itu harus melewati hutan hingga enam sungai untuk bisa sampai ke sekolahnya di SD Inpres 5/81 Tapong, Desa Tapong, Kecamatan Tellu Limpoe, Bone. Mereka berangkat dari rumahnya di Dusun 1 Lerang sejak pukul 03.00 Wita dan tiba pukul 07.00 Wita.

Berbagai trek menantang pun menanti perjalanan mereka. Mulai dari hutan, pendakian berbatu, sungai, hingga pematang sawah. Rute perjalanan yang mereka lalui tentu tidaklah mudah.


"Ular piton alias ular sawah yang banyak. Saat musim kemarau biasa menyerang manusia dan rata-rata tinggal di pinggir sungai yang biasa dilewati anak-anak kalau mau ke sekolah," kata warga Desa Tapong Sirajudding kepada detikSulsel, Sabtu (18/6/2022).

Sirajuddin mengatakan, jika berangkat dari rumah, mereka lebih dominan melewati trek menurun. Sebaliknya jika pulang sekolah, mereka akan melewati jalan tanjakan yang cukup menguras tenaga.

"Waktu saya ke sana memang sangat berbahaya bahkan saya memakai sepatu laras tetap membuka (sepatu) karena beberapa kali terjatuh. Nanti setelah ada penanaman kayu pinus baru agak bagus saya lihat untuk dilewati," tambahnya.

Mantan Bhabinkamtibmas Desa Tapong itu menuturkan ada jalan lain yang bisa dilalui oleh mereka. Hanya saja, jalurnya terjal dan masih rapat karena jarang dilalui.

"Di daerah itu juga banyak babi, kadang menyerang masyarakat. Makanya wajar kalau mereka bawa parang saat jalan ke sekolah karena jangan sampai ada binatang yang menyerangnya. Dan orang di sana sudah paham tanda-tanda alam, kapan banyak ular dan babi berkeliaran," bebernya.

Lebih lanjut Sirajuddin mengatakan Yudding dan suadaranya tidak pernah menggunakan sepatu saat jalan kaki ke sekolah. Sepatunya disimpan di tas, dan hanya menggunakan sandal jepit.

Sepatu mereka baru digunakan saat tiba di perkampungan dekat dari sekolah. Sekaligus untuk menyimpan parang yang mereka jadikan 'bekal'.

"Sebenarnya anak di sana pada dasarnya selalu buka sepatu bukan karena medannya. Tapi takut sepatunya rusak dan orang tuanya kurang mampu. Untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang tidak cukup apa lagi beli sepatu," jelas Sirajuddin.

"Sekalipun memang berbahaya jika memakai sepatu karena setiap penurunan jika musim hujan sangat licin dan jika musim kemarau tanah terhambur dan berdebu. Saya banyak tau di sana karena saya warga di sana dan pernah jadi Bhabinkamtibmas juga di sana," tandasnya.



Simak Video "Serawi Sulo, Tradisi Unik dan Ekstrem Warga Bone, Sulawesi Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/sar)