Sulawesi Barat

Pengungsi Gempa Sulbar Keluhkan Air Bersih-Peralatan Bayi Masih Minim

Abdy Febriady - detikSulsel
Jumat, 10 Jun 2022 22:32 WIB
Pengungsi gempa Sulbar masih takut pulang ke rumah.
Foto: Pengungsi gempa Sulbar masih takut pulang ke rumah. (Abdy Febriady/detikcom)
Mamuju -

Pengungsi gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,8 yang berpusat di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) masih enggan pulang ke rumah karena trauma. Mereka juga mengeluhkan bantuan berupa air bersih hingga peralatan bayi masih minim.

Pantauan detikcom, Jumat (10/6/2022) di Stadion Manakarra Mamuju, sejumlah tenda darurat masih dipadati pengungsi. Tenda-tenda tersebut berdiri di dalam dan luar stadion.

"Kami masih takut, makanya belum mau pulang ke rumah. Kita trauma, jangan sampai kejadiannya sama dengan gempa pada tahun 2021 lalu," ujar salah satu pengungsi, Baharuddin kepada wartawan, Jumat (10/6).


Sejak tiga hari berada di lokasi pengungsian, Baharuddin mengeluhkan sulitnya mendapatkan bantuan, khususnya air bersih dan kebutuhan bayi. Diakuinya, bantuan makanan kadang didapatkan jika berebut.

"Belum dapat bantuan (kebutuhan bayi), khususnya air, biar satu karton (dus) tidak ada. Dapat nasi kalau berebut," ungkapnya.

Keluhan serupa diungkapkan para penyintas gempa yang mengungsi di Bukit Talla-tallang, Desa Tubo, Kabupaten Majene. Terpantau, di lokasi ini masih ada puluhan tenda pengungsi yang menghiasi sisi kiri dan kanan Jalan Trans Sulawesi tersebut.

Salah seorang pengungsi, Sudarwi mengaku belum pernah mendapat bantuan sejak berada di pengungsian. Sementara sampai saat ini ia masih belum berani pulang ke rumah.

"Belum pernah ada bantuan dari pemerintah sejak kami di sini. Kami belum berani pulang ke rumah, takut ada gempa susulan lagi," ujar Sudarwi.

"Apalagi belum ada penyampaian dari pemerintah, apakah kondisi sudah aman atau sebaliknya," sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Tarupa, Desa Tubo, Jarsan mengaku jika lokasi pengungsian ini sudah pernah didatangi petugas yang melakukan pendataan. Namun tidak diketahui untuk apa data yang dikumpulkan.

"Pernah ada yang datang mendata. Kami tidak tahu petugas dari mana. Kita tidak tahu juga mau diapakan data yang diperoleh," ujarnya.

Bersama pengungsi lainnya di tempat ini, Jarsan sangat mengharapkan bantuan pemerintah. Diakui di tempatnya mengungsi, juga terdapat banyak balita dan juga lansia.

"Para pengungsi di sini sangat berharap perhatian, khususnya kebutuhan air bersih dan sambungan listrik untuk penerangan di malam hari. Apalagi, di pengungsian ada lansia, dan balita, bahkan ada bayi yang baru beberapa hari dilahirkan," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 5,8 mengguncang Kabupaten Mamuju, Rabu (8/6). Sebanyak 15.320 jiwa dilaporkan mengungsi karena takut gempa susulan.

Tercatat ada sebanyak 7.679 jiwa mengungsi di Kabupaten Mamuju. Sementara di Kabupaten Majene, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 7.650 jiwa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto berkunjung ke Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (9/6). Dalam kunjungannya, Suharyanto menyalurkan sejumlah bantuan untuk memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi.

"Kami membawa tadi logistik yang bisa langsung digunakan, ada makanan siap saji, ada beras, ada supermi, ada rendang, ada perlengkapan bayi, ada perlengkapan keluarga. Artinya, kami dengan pemerintah, kerjasama pak Gubernur, Bupati, Danrem, Kapolda, semua komponen bangsa di Sulawesi Barat, meyakinkan para pengungsi ini, kebutuhan dasarnya terpenuhi," kata Suharyanti kepada wartawan, Kamis (9/6).



Simak Video "Trauma dan Takut Gempa Susulan, Ribuan Warga Mamuju Ngungsi"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/sar)