Perjuangan Mahasiswa di Tragedi Amarah UMI, Lapor Komnas HAM-Diancam Dibunuh

Al Khoriah Etiek Nugraha - detikSulsel
Minggu, 24 Apr 2022 13:39 WIB
Kampus UMI Makassar
Foto: Kampus UMI Makassar. (Hermawan/detikSulsel)
Makassar -

Perjuangan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) dalam tragedi April Makassar Berdarah (Amarah) 1996 yang diperingati hari ini, 24 April menjadi sebuah kisah kelam. Korban meninggal yang dilaporkan ke Komnas HAM membuat mahasiswa diancam dibunuh.

Dalam tragedi ini, dilaporkan ada tiga mahasiswa yang kehilangan nyawa. Sementara ada puluhan orang ditangkap aparat dengan kondisi luka-luka saat itu.

"Saat peristiwa itu terjadi saya bersama beberapa teman lainnya sedang di Jakarta untuk aksi di DPR RI. Saat itu memang ada beberapa konsentrasi aksi oleh mahasiswa," ungkap Selle KS Dalle, salah seorang mahasiswa yang saat itu menggelar aksi di Jakarta, saat berbincang dengan detikSulsel, Senin (19/4/2022).


Selle yang kini Ketua Komisi A DPRD Sulsel menuturkan, saat mendapat kabar adanya mahasiswa yang tewas saat aksi pada pemberitaan surat kabar, dia dan mahasiswa lain di Jakarta langsung mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta. Saat itu ada 9 orang mahasiswa yang datang ke Komnas HAM.

"Kami ke Komnas HAM, kami 9 orang dari mahasiswa UMI Makassar. Itulah menjadi isu nasional setelah kami ke Komnas HAM," kenang Selle.

Saat melakukan aksi di Kantor Komnas HAM Jakarta, Selle dan rekan aktivis lainnya kemudian diterima Anggota Komnas HAM Baharuddin Lopa dan Brigjen Pol (Purn.) Roekmini Koesoema Astoeti. Mereka pun menyampaikan tuntutan agar Komnas HAM melakukan penyelidikan terkait pihak-pihak yang terlibat dalam kekerasan yang mengakibatkan tiga mahasiswa tewas.

"Kami meminta kepada Komnas HAM untuk segera turun melakukan investigasi di Makassar atas meninggalnya mahasiswa oleh kekerasan aparat," ungkap Selle sembari mengingat kejadian 26 tahun silam itu.

Komnas HAM pun merespons cepat tuntutan tersebut dengan menurunkan tim pencari fakta ke Makassar. Selle adalah salah satu mahasiswa yang mengawal kasus ini dengan harapan mahasiswa yang gugur mendapatkan keadilan.

"Memang kami bergerak karena ada mahasiswa meninggal, karena kekerasan aparat sangat berlebihan," Kata Selle.

Mahasiswa Diancam Dibunuh

Namun, bukan hal mudah bagi para mahasiswa untuk mendapatkan keadilan. Selle dan rekan aktivis lainnya tidak terhindar dari ancaman-ancaman pembunuhan. Bahkan, hal ini juga menciptakan kisruh di internal kampus pada masa itu.

"Karena kami termasuk kelompok yang getol untuk bergerak terus menuntut keadilan, diancamlah kami dibunuh, diminta untuk berhenti bergerak. Ada surat diminta untuk berhenti bergerak. Karena tuntutan kami itu siapa-siapa yang terlibat (menyebabkan mahasiswa tewas) kami minta untuk diproses secara hukum," jelas Selle.

Meskipun dari upaya tersebut beberapa aparat diusut kemudian disidang, Selle mengaku kecewa. Sebab dalam hal ini hanya prajurit tingkat bawah yang disebutnya dikorbankan sebagai orang yang terlibat.

"Tidak ada tingkat komandan bertanggung jawab atas peristiwa itu. Sampai sekarang teman-teman masih merasa kecewa. Tidak mungkin prajurit bergerak sendiri tanpa perintah dari komandan," kata Selle.

Sementara, terkait masalah internal dalam kampus, Selle mengungkapkan ada isu jika pejabat kampus menerima sokongan dari aparat. Hal ini kemudian dinilai sebagai upaya untuk menghentikan pergerakan mahasiswa.

"Ada beberapa oknum yang memanfaatkan situasi. Ada berbagai macam isu, seperti ada pejabat-pejabat kampus yang terima bantuan dari Kodam dan sebagainya," ucap Selle.



Simak Video "Aliansi Mahasiswa Demo Protes RKUHP Tiba di DPR, Lalin Tersendat"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/nvl)