Ritual Adat untuk Evakuasi Pohon Beringin Keramat Tumbang-Tutup Jalur Toraja

Ritual Adat untuk Evakuasi Pohon Beringin Keramat Tumbang-Tutup Jalur Toraja

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 01 Apr 2022 05:30 WIB
Pohon tumbang di Tana Toraja, Sulsel dibiarkan menutup jalan karena menunggu pemangku adat melakukan ritual sebelum dibersihkan.
Pohon di Tana Toraja dibiarkan menutupi jalan karena harus menunggu ritual adat sebelum dievakuasi (dok. istimewa)
Tana Toraja -

Pohon beringin tumbang yang dikeramatkan warga di Kelurahan Tarangko, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) dibiarkan menutupi jalan tiga hari karena harus menunggu ritual adat sebelum dibersihkan. Akibatnya pengendara harus memutar arah mencari jalan alternatif.

"Kejadiannya (pohon tumbang-tutupi jalan) mulai hari Selasa," ucap Kepala BPBD Tana Toraja Alfian saat dimintai konfirmasi detikSulsel, Kamis (31/3/2022).

Karena tak kunjung dievakuasi, pohon yang melintang ini menghalangi kendaraan yang melintas. Alfian menuturkan pohon beringin yang dikeramatkan itu baru bisa dievakuasi setelah dilakukan ritual adat yang rencananya akan dilakukan seseorang bernama Nek Sando hari ini, Jumat (1/4).


"Dari hasil pembicaraan dan kesepakatan masyarakat, Jumat diadakan ritualnya. Kemarin juga kita sudah ketemu dan bicara sama Nenek Sando, katanya hari Jumat baru bisa," katanya.

Dia menambahkan sebenarnya petugas BPBD langsung menuju lokasi kejadian setelah mendapatkan informasi pohon tumbang yang menutupi jalan. Namun urung dilakukan evakuasi karena pohon ini dikeramatkan.

"Kita ikuti saja dulu kemauan masyarakat, supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," jelasnya.

Sambil menanti pohon keramat ini dievakuasi, warga atau pengguna jalan yang ingin melintas diminta melewati jalur alternatif. Jaraknya sekitar 15 meter dari jalur utama yang terhalang pohon tumbang.

"Ada jalan alternatif yang dibangun sama warga. Jadi kendaraan dialihkan sementara ke sana dulu, dan kalau macet, tidak terlalu ji karena langsung ada jalan alternatif sekitar 10 Km kalau lewat situ memutar, lumayan luas juga jalannya," jelasnya.

Salah seorang warga sekitar, Margareta menuturkan pohon tersebut diminta warga untuk diupacarakan melalui sebuah ritual sebelum dibersihkan. Sebab sebelum tumbang pohon itu mengeluarkan bunyi.

"Sebelum tumbang sudah ada tanda yang nampak yaitu mengeluarkan bunyi. Makanya pohon itu sampai sekarang belum bisa dipotong atau dibersihkan karena pohon ini merupakan salah satu pohon yang dianggap sakral di sini," jelas Margareta.

"Dulunya dijadikan tempat memuja arwah para leluhur sehingga disakralkan hingga saat ini," jelasnya.



Simak Video "Belasan Nakes di Tana Toraja Lulus PPPK, Tiba-tiba Dianulir"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/hmw)