Ada banyak sekali jenis colokan listrik dan stopkontak di dunia ini. Di Indonesia sendiri kebanyakan memakai jenis colokan yang memiliki 2 atau 3 pin atau taring.
Saat berpergian ke negara lain jenis yang ditemukan akan berbeda. Dilansir dari The Conversation, Sabtu (12/9/2026), alasannya sulit untuk menyeragamkan bentuk colokan dan stopkontak. Setiap negara telah membangun jaringan listrik masing-masing dan hal tersebut tidak perlu melakukan kesepakatan.
Setiap negara mencoba memodifikasi jaringan listrik agar lebih baik dan lebih hemat, baik dari segi bahan baku maupun uang dari yang dimiliki AS. Sebagai contoh, perusahaan di Eropa menyadari bahwa tegangan 220 volt akan lebih murah daripada 110 volt.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gambaran, temuan tersebut berarti perusahaan listrik bisa menyalurkan daya yang sama dengan arus listrik yang lebih sedikit atau tidak begitu deras. Bayangkan aliran sungai yang sempit mengalir dengan cepat dibandingkan dengan aliran yang lebih lebar yang mengalir lebih lambat.
Temuan ini tampak menggiurkan karena ketika menggunakan listrik juga ada juga biaya lain yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah biaya tembaga pada kabel listrik. Harga tembaga tersebut cukup mahal. Jadi jika arus yang lebih sedikit bisa memberikan daya yang sama berarti kawat yang digunakan tidak perlu begitu banyak, bisa yang lebih tipis.
Perusahaan ini sudah memiliki 'resep' khusus untuk membuat colokan yang aman, efektif, dan murah. Lalu, jika ada temuan baru dari negara lain dan harus diseragamkan, akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Sebab, beberapa instalasi listrik dan bentuk colokan ini ada yang sudah dipakai ratusan tahun.
Bentuk bulat kemudian menjadi salah satu inovasi pada awal mula adanya colokan. Hal ini karena colokan bulat dinilai lebih aman dan lebih pas saat dicolok.
Lantas, bentuk stopkontak apa saja yang ada di dunia ini dan apa perbedaannya? Dilansir Science Focus, berikut di antaranya.
Electric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectors Foto: Getty Images/Sensvector |
Tipe A
Colokan tipe A memiliki dua pin paralel tanpa ground dan digunakan dalam sistem listrik dengan tegangan 100-127 volt. Karena tidak memiliki ground, colokan ini kurang cocok untuk perangkat yang membutuhkan perlindungan tambahan terhadap lonjakan arus listrik.
Jenis ini banyak digunakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.
Tipe B
Tipe B mirip dengan tipe A tetapi memiliki pin ketiga sebagai ground. Colokan besar yang kita gunakan sekarang berasal dari periode setelah Perang Dunia Kedua. Saat itu, banyak rumah yang perlu dibangun kembali setelah perang.
Terdapat pin atau besi di mulut stopkontak yang berfungsi untuk menambah keamanan, terutama pada perangkat yang membutuhkan arus besar seperti komputer atau peralatan rumah tangga. Standar ini juga digunakan di Amerika Utara dan Jepang.
Tipe C
Tipe C dikenal sebagai colokan dua pin bulat. Jenis ini paling umum dipakai di Eropa, Asia, dan beberapa negara Amerika Selatan. Colokan ini kompatibel dengan sistem tegangan 220-240 volt dan tidak memiliki ground. Meskipun umum, tipe C biasanya hanya digunakan pada perangkat berdaya rendah.
Tipe D
Lalu, tipe colokan di India juga berbeda. Di sana bentuknya terdiri dari tiga pin besar atau 3 taring, salah satunya adalah ground, ini dirancang untuk perangkat yang membutuhkan lebih banyak daya dan tegangan tinggi, dengan standar 220-240 volt.
Tipe E dan F
Colokan tipe E dan F adalah dua pin bulat dengan sistem ground yang berbeda. Tipe E digunakan di Prancis dan Belgia, sementara tipe F banyak digunakan di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, kedua tipe ini bekerja dengan tegangan 220-240 volt dan memiliki fitur grounding yang baik untuk keamanan.
Tipe G
Colokan tipe G memiliki tiga pin atau 3 taring berbentuk persegi. Colokan jenis ini sudah menjadi standar di Inggris, Irlandia, Malaysia, dan beberapa negara lain. Sistem ini memiliki ground dan dirancang untuk tegangan tinggi sekitar 220-240 volt dan aman dipakai untuk perangkat besar.
Tipe I
Tipe I memiliki dua atau tiga pin, dan digunakan di Australia, Selandia Baru, dan Argentina. Colokan ini didesain untuk perangkat yang beroperasi pada 220-240 volt, dan menawarkan opsi dengan atau tanpa ground.
Tipe L
Colokan tipe L terdiri dari tiga pin bulat, yang biasa digunakan di Italia. Desain ini mendukung tegangan 220-240 volt dan menawarkan proteksi ground yang baik.
Itulah alasan jenis colokan dan stopkontak berbeda, dan jenis-jenisnya, semoga membantu.
(aqi/aqi)

