Anjuran mengganti seprai secara rutin bukan hanya untuk mencegah bau apek, melainkan kain ini memang mudah sekali kotor bahkan bisa sekotor toilet.
Dilansir BBC, seprai merupakan alas tidur yang bisa menjadi sarang jutaan bakteri, jamur, tungau, dan virus. Alasannya tempat tidur merupakan tempat yang hangat. Ditambah, di sana ditemukan banyak keringat, air liur, sel kulit mati, dan partikel makanan yang jatuh.
Oleh karena itu, ada beberapa hewan kecil yang suka tinggal di kasur, seperti tungau debu dan kutu busuk. Mereka menyukai kasur karena bisa menemukan sumber makanan. Namun, bagi manusia, keberadaan mereka adalah ancaman karena dapat memicu alergi, asma, dan eksim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengukur seberapa kotor seprai, Institut Pasteur de Lille di Prancis pada 2013 sempat melakukan penelitian dengan memakai seprai dari tempat tidur pasien rumah sakit. Hasil temuan mereka, seprai kotor tersebut dipenuhi bakteri Staphylococcus, bakteri yang umum ditemukan pada kulit manusia.
Meskipun sebagian besar spesies staphylococcus tidak berbahaya, tetapi spesies S. aureus dapat menyebabkan infeksi kulit, jerawat, dan pneumonia pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
"Manusia membawa bakteri sebagai bagian dari mikrobioma kulit mereka dan dapat melepaskannya dalam jumlah besar," kata Manal Mohammed, seorang ahli mikrobiologi di Universitas Westminster di Inggris seperti dikutip detikcom pada Senin (1/6/2026).
Hasil penelitian lain dari ilmuwan di Universitas Ibadan di Nigeria pada 2018, menemukan ada bakteri E. coli pada seprai rumah sakit yang tidak dicuci. Bukan hanya itu, ada pula bakteri patogen lainnya yang dapat memicu infeksi saluran kemih, pneumonia, diare, meningitis, dan sepsis.
Ancaman bakteri ini bukan hanya ditemukan pada seprai rumah sakit, perusahaan kasur Amerika Amerisleep pada tahun 2013 telah melakukan penelitian memakai sarung bantal dan seprai yang ada di rumah yang dipakai selama seminggu oleh orang yang sama.
Sarung bantal tersebut diketahui mengandung sekitar tiga juta bakteri per inci persegi atau sekitar 17.000 kali lebih banyak daripada dudukan toilet rata-rata.
Sementara itu, pengujian lainnya dilakukan oleh Denning dan rekan-rekannya yang mengumpulkan enam bantal dan seprai dari teman dan keluarganya. Bantal-bantal dan seprai tersebut digunakan secara teratur selama 18 bulan hingga 20 tahun.
Temuannya semuanya mengandung jamur, terutama spesies Aspergillus fumigatus, jenis yang umum ditemukan di tanah.
"Menurut kami alasan mengapa Anda menemukan banyak (jamur) adalah karena sebagian besar dari kita berkeringat di malam hari dari kepala kita. Kita semua juga memiliki tungau debu di tempat tidur kita, dan kotoran tungau debu menyediakan makanan bagi jamur untuk hidup. Dan tentu saja bantal dan seprai menjadi hangat setiap malam karena berbaring di atasnya. Badan Anda lembap, makan di atasnya, dan Anda menghasilkan panas," jealasnya.
Seprai Harus Sering Diganti
Menurut Denning seprai dan sarung bantal harus sering diganti, seminggu sekali. Tidak ada toleransi. Selain mencuci seprai, menyetrika juga mengurangi jumlah bakteri pada linen.
Lalu, bantal juga perlu diganti, minimal dua tahun sekali. Namun, jika penggunanya menderita asma, atau kondisi paru-paru atau penyakit sinus, sebaiknya membeli bantal baru setiap tiga hingga enam bulan sekali.
(aqi/ilf)











































