Islam sangat menghormati siapa pun yang ingin bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah orang lain. Bahkan ini merupakan salah satu perbuatan baik yang sangat dianjurkan.
Oleh karena itu, dalam Islam dijelaskan cukup detail mengenai adab-adab seputar bertamu, termasuk bagi pemilik rumah. Sebab, terkadang pemilik rumah sering kebingungan bagaimana menjamu tamu yang benar agar mereka nyaman selama di rumah kita dan pemilik rumah juga tidak keberatan jika dikunjungi oleh orang lain.
Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam yang ditulis Bachrul Ilmy, berikut adab menerima tamu dalam Islam
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Tidak Boleh Pandang Harta, Status, dan Fisik
Dalam Islam, pemilik rumah harus adil memperlakukan semuanya. Tidak boleh mengecualikan seseorang hanya karena kekayaan, fisik, dan status. Hal ini sesuai dengan hadis yang mengatakan:
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ
Artinya: "Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan." (HR Bukhari Muslim).
2. Menjawab Salam dan Menyambut Tamu
Islam sangat menganjurkan untuk selalu menyambut siapa pun yang datang. Dengan begitu, tamu tidak kecewa dan menyesal karena sudah datang dan menyisihkan waktu untuk mampir.
مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
"Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal." (HR Bukhari).
3. Hidangkan Jamuan
Hampir di semua negara ketika ada tamu, harus ada makanan dan minuman yang disiapkan. Ternyata hal ini sudah diajarkan dalam Islam dalam QS Adz Dzariyat 27. Islam tidak mewajibkan untuk memberikan makanan dan minuman yang mahal, hidangkan yang paling baik dan aman untuk dikonsumsi.
فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Arab latin: Fa qarrabahū ilaihim, qāla alā ta`kulụn
Artinya: Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan."
4. Wajib Mempersilahkan Tamu Duduk
Setelah menjawab salam dan mempersilahkan mereka masuk, tuan rumah harus mengajak tamu untuk duduk. Hal ini sudah diajarkan sesuai hadits berikut.
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Artinya: "Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami." (HR Bukhari).
5. Menawarkan untuk Menginap
Tuan rumah boleh menawarkan untuk menginap, terutama jika kondisinya mendesak. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam hadits muttafaqun'alaih berikut
الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
Artinya: Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang Muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?" Rasulullah SAW berkata: "Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya."
Itulah beberapa adab menerima tamu sesuai sunnah dalam hadits Rasulullah SAW, semoga bermanfaat.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(aqi/ilf)











































