Trauma Apartemen Mangkrak, Pembeli Kini Tak Lagi Tergiur Harga Murah

Trauma Apartemen Mangkrak, Pembeli Kini Tak Lagi Tergiur Harga Murah

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Rabu, 07 Jan 2026 16:31 WIB
Trauma Apartemen Mangkrak, Pembeli Kini Tak Lagi Tergiur Harga Murah
ilustrasi proyek apartemen yang masih dibangun. Foto: via SCMP
Jakarta -

Jika biasanya harga adalah salah satu faktor utama seseorang membeli apartemen, akhir-akhir ini tren justru bergeser. Banyak pembeli apartemen lebih melihat kejelasan proyek pembangunan apartemen tersebut, benar-benar terbangun atau tidak.

Hal ini disampaikan oleh Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam acara Colliers Indonesia Virtual Media Briefing Q4 2025.

"Dari sisi permintaannya, ada perubahan perilaku yang cukup jelas. Pembeli sekarang tidak lagi sekedar cari harga murah. Mereka lebih fokus untuk kepastian penyelesaian proyek," kata Ferry melalui pertemuan daring pada Rabu (7/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembeli jadi lebih selektif ketika membeli apartemen karena maraknya kasus proyek mangkrak, para korban tidak mendapat unit yang dibelinya dan pengembalian dana pun kebanyakan tidak bisa dilakukan. Untuk menghindari hal tersebut, mereka jadi lebih berhati-hati dengan melihat dahulu siapa pengembangnya.

ADVERTISEMENT

"(Alasannya) security feeling saja sebenarnya. Karena kita tahulah beberapa tahun lalu ada apartemen yang sudah dibayar tetapi gagal deliverynya (penyerahan unitnya). Pada saat nagih (refund) juga sulit, gitu ya. Nah ini kan memberikan pengalaman bagi para pembeli untuk lebih berhati-hati untuk membeli produk apartemen," jelasnya.

"Di Surabaya juga ada yang mangkrak dan duitnya susah sekali untuk kembali. Dengan pengalaman itu lebih berhati-hati. Yang pertama itu mereka akan lihat siapa yang bangun, developernya siapa. Kalau developernya punya reputasi selalu delivery on time (penyelesaian atau proyek selesai tepat waktu) itu akan dipilih, itu sebenarnya alasannya," tambahnya.

Pergeseran perilaku pembeli juga yang menyebabkan unit apartemen yang terjual saat ini kebanyakan pada apartemen yang pembangunannya sudah 60 persen, bukan yang belum dibangun sama sekali.

Adanya insentif pajak dari pemerintah atau PPN DTP, belum begitu berpengaruh besar pada sektor rumah vertikal karena beberapa proyek belum siap dihuni atau serah terima. Sementara syarat untuk mendapatkan insentif tersebut adalah unit sudah siap huni.

Meski demikian, sektor apartemen sepanjang 2025, menurut pengamatan Colliers Indonesia terpantau masih stabil dan positif. Jumlah stok apartemen baru memang tidak banyak, bahkan rendah. Namun, kondisi ini yang membuat sektor apartemen stabil.

"Kita bisa bilang bahwa pasar ini sudah relatif stabil. Nah yang menarik adalah pasokannya justru sangat terbatas. Lagi-lagi ini kita melihatnya sesuatu yang positif. Karena kita tahu apartemen sejak beberapa tahun ini memang belum menunjukkan performa yang bagus. Sepanjang tahun 2025 itu hanya sekitar 2.200 unit yang masuk pasar dan hampir hanya separuhnya kalau dibandingkan dengan tahun 2024," ujarnya.

Harapannya pada tahun ini, sektor properti dapat lebih terdongkrak. Mereka melihat akan ada pasokan unit baru dalam 2 tahun ke depan (2026-2028) di daerah Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Proyeksinya apartemen baru ini akan menyasar pasar konsumen kelas menengah dan kelas menengah atas.

(aqi/das)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads