Di tengah kondisi perekonomian yang cukup menantang, harga kebutuhan pokok dan berbagai barang dan jasa lainnya terus meningkat, masyarakat tentu lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Apalagi soal membeli rumah, keputusan itu semakin sulit.
Memiliki rumah memang impian banyak orang. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi, apakah memiliki rumah masih menjadi sesuatu yang penting?
Menurut perencana keuangan Andy Nugroho, rumah atau tempat tinggal penting sebagai hunian dan merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, berbeda halnya dengan kepemilikan rumah. Memiliki rumah itu penting atau tidaknya tergantung pada preferensi dan kemampuan finansial masing-masing orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau punya rumah sendiri menurut saya lebih tergantung dari tujuan, keinginan, kebutuhan, dan kemampuan masing-masing. Kombinasi itu harus sejalan dan harus sinkron," kata Andy kepada detikProperti, Senin (5/10/2026).
Pertimbangan utama adalah kemampuan finansial calon pembeli. Jika memang mampu, sebaiknya beli rumah daripada mengeluarkan uang sewa bertahun-tahun tanpa hasil berupa benda. Sebaliknya, kalau belum mampu bisa menyewa tempat tinggal sembari menabung beli rumah dan meningkatkan penghasilan.
Untuk mengukur kemampuan beli rumah dengan kredit pemilikan rumah (KPR), calon pembeli bisa melihat dari kesiapan tabungan dan besar penghasilan. Seseorang dikatakan mampu beli rumah kalau siap membayar uang muka dan cicilan pertama. Calon pembeli perlu punya tabungan sekitar 30 persen dari harga beli rumah.
Lalu, calon pembeli juga harus menghitung kemampuan mencicil setiap bulan. Lihat rencana pembayaran dan bandingkan apakah cicilan itu melebihi 30 persen penghasilan setiap bulan atau tidak. Jika lebih dari 30 persen, pembeli bakal sulit mencicil.
"Misalnya harga rumahnya Rp 300 juta, (uang muka dan cicilan pertama) 30 persen aja sudah Rp 90 juta. Misalnya ada uang segitu, terus dia juga mampu untuk membayar cicilan bulanannya ya silakan beli rumah," katanya.
Selain itu, calon pembeli juga perlu mempertimbangkan rencana jangka panjang. Jika seorang masih ingin berpindah-pindah tempat kerja atau sekolah ke luar kota atau negara, sebaiknya tidak beli rumah dulu daripada rumah menjadi tidak terurus.
Andy juga menyebutkan meski penting membeli rumah, masih ada opsi hunian lain yang terjangkau. Bagi yang belum mampu membeli, masih bisa menyewa rumah.
Terpisah, Ketua Asosiasi Perencana Keuangan IARFC Indonesia, Aidil Akbar Madjid menyebut memiliki rumah itu penting, khususnya bagi yang sudah berkeluarga. Sebab, anak-anak idealnya menetap di satu tempat.
"Berkeluarga itu kan punya pasangan, punya anak, membutuhkan tempat yang dia bisa settle karena nanti urusannya ke anak. Biasanya anak-anak itu butuh tempat untuk dia bisa berkembang, dia bisa sekolah (tanpa pindah) dan lain sebagainya," ucap Aidil.
Jika seseorang harus menyewa rumah atau ngontrak pindah-pindah, menurutnya ada konsekuensi yang berdampak kepada anak. Biaya sewa rumah bisa berubah semakin tinggi sehingga berpotensi mengalahkan kemampuan penyewanya. Saat itu terjadi, penyewa terpaksa pindah rumah dan anaknya pun pindah sekolah.
Untuk itu, memiliki rumah itu perlu diupayakan dengan tetap menghitung kemampuan finansial. Perhitungkan segala aspek sebelum mengambil keputusan, termasuk harga rumah, biaya transportasi, hingga nilai investasi.
Bandingkan biaya antara ngontrak dan membeli rumah. Jika selisih antara keduanya jauh, sebaiknya menyewa tempat tinggal dulu. Namun kalau selisihnya tidak terlalu jauh, Aidil menyarankan untuk sekalian beli rumah.
"Kalau saya mengontrak rumah Rp 2 juta sebulan, sementara saya misalnya bisa nyicil rumah Rp 2,8 juta sebulan, kenapa nggak saya nyicil? Kalau mengontrak Rp 2 juta (menjadi) uang ilang, (sedangkan nyicil) Rp 2,8 juta menjadi aset (rumah)," jelasnya.
Bagi yang kesulitan mencari rumah sesuai budget di lokasi strategis, bisa pertimbangkan beli apartemen. Apartemen memungkinkan pembeli memiliki rumah di perkotaan dengan harga lebih terjangkau daripada rumah tapak di lokasi yang sama.
Akan tetapi, kalau memang membeli rumah terlalu memberatkan finansial, bisa saja menyewa rumah dulu.
"Dihitung apakah tadi cicilannya (beli rumah) masuk (kemampuan) atau nggak sehingga mencicil rumah jadi tidak memberatkan. Kalau jawabannya belum (mampu), jangan dipaksa juga," tuturnya.
(dhw/das)
