Dulu Cuma Rumah 'Sultan' yang Pasang Karpet di Lantai, Simbol Kesuksesan

Dulu Cuma Rumah 'Sultan' yang Pasang Karpet di Lantai, Simbol Kesuksesan

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Senin, 13 Jul 2026 11:00 WIB
Sofa and wooden coffee table on carpet
Ilustrasi lantai dilapisi karpet. Foto: Getty Images/lingqi xie
Jakarta -

Salah satu ciri khas rumah-rumah di Amerika yang jarang ditemui di tempat lain adalah lantainya dipasang karpet dari sudut ke sudut. Dekorasi seperti ini masih dipertahankan hingga saat ini, meskipun hanya dipakai pada area-area tertentu saja.

Keberadaan karpet ini bukan hanya untuk dekorasi semata, tetapi simbol kesuksesan pemilik rumah pada masanya. Dikutip dari Apartment Theraphy, penggunaan karpet bermula pada akhir abad ke-18 di wilayah Timur Laut Amerika yang juga dikenal sebagai pusat industri tekstil.Theraphy, penggunaan karpet bermula pada akhir abad ke-18 di wilayah Timur Laut Amerika yang juga dikenal sebagai pusat industri tekstil.

Permintaan karpet cukup tinggi karena rata-rata rumah di Amerika memakai bahan kayu. Saat musim dingin, kayu tidak bisa menghalau suhu dan angin dari sela-sela rumah. Alhasil karpet dibutuhkan untuk menjaga rumah tetap hangat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dr. Randall Patton, seorang profesor sejarah di Kennesaw State University sekaligus penulis buku Shaw Industries, biaya produksi karpet pada saat itu tidak murah. Setiap karpet dibuat dari bahan wol menggunakan mesin tenun bertenaga mesin.Kennesaw State University sekaligus penulis buku Shaw Industries, biaya produksi karpet pada saat itu tidak murah. Setiap karpet dibuat dari bahan wol menggunakan mesin tenun bertenaga mesin.

ADVERTISEMENT

Mengingat biaya produksinya yang mahal, tentu harga jualnya tinggi. Oleh karena itu hanya golongan yang mampu saja yang bisa membeli karpet. Lalu, bagaimana nasib masyarakat kelas bawah?jualnya tinggi. Oleh karena itu hanya golongan mampu saja yang bisa membeli karpet. Lantas, bagaimana nasib masyarakat kelas bawah?

Setelah lewat sekitar 2 abad, tepatnya pada pertengahan abad ke-20, ditemukan teknologi baru yang lebih canggih dan bisa memproduksi karpet secara massal.

Bahan yang dipakai memang berbeda, yakni memakai nilon jenis bulk continuous filamen (BCF). Bahan ini ditemukan pada tahun 1950-an. Karakter seratnya jauh lebih tebal dan padat sehingga karpet tidak mudah gepeng atau rusak jika sering terinjak. Bahan ini hanya menelan biaya produksi yang rendah sehingga bisa dijual murah.BCF). Bahan ini ditemukan pada tahun 1950-an. Karakter seratnya jauh lebih tebal dan padat sehingga karpet tidak mudah gepeng atau rusak jika sering terinjak. Bahan ini hanya menelan biaya produksi yang rendah sehingga bisa dijual murah.

Mulai saat itu, setiap rumah di Amerika bisa membeli karpet untuk dipasang di rumah dari dinding ke dinding. Karpet yang dulunya simbol kekayaan, telah berubah menjadi sesuatu yang mendasar bagi setiap rumah.

Tren pemakaian karpet perlahan mulai menurun ketika memasuki tahun 1970-an, terutama model karpet berbulu karena konsumen mulai bosan. Selain itu, pengetahuan sudah semakin maju, banyak yang menyadari jika merawat rumah yang memakai karpet jauh lebih sulit karena mudah jadi sarang debu dan jadi tempat berkembangnya bakteri serta jamur.



(aqi/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads