Ada satu hal yang harus diperhatikan saat detikers traveling ke luar negeri, yakni colokan listrik. Soalnya, beberapa negara punya lubang stopkontak yang berbeda-beda.
Sebagai informasi, ada berbagai tipe colokan listrik di dunia, mulai dari Tipe A hingga O. Setiap colokan punya bentuk yang berbeda-beda, seperti lingkaran, persegi, hingga persegi panjang. Terkadang ada yang bentuknya sama, tapi jumlah lubang colokannya bisa berbeda.
Misalnya di Jepang yang menggunakan colokan Tipe A dengan bentuk dua pin pipih saling sejajar. Desain stopkontak ini berbeda dengan yang ada di Indonesia karena mengusung Tipe C dengan dua lubang bulat sejajar ke samping.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, mengapa bentuk colokan listrik bisa berbeda-beda ya?
Alasan Colokan Listrik Berbeda-beda
Dikutip dari The Conversation, alasan singkatnya karena setiap negara membangun jaringan listrik masing-masing tanpa adanya standar internasional. Setiap negara mencoba memodifikasi jaringan listrik milik Amerika Serikat agar lebih baik dan hemat, baik dari segi bahan baku maupun uang.
Sedikit informasi, para penemu ternama seperti Thomas Alva Edison, George Westinghouse, dan Nikola Tesla membangun jaringan transmisi modern pertama di dunia di AS pada 1880-an. Saat itu, tegangan listrik yang dialirkan ke rumah ditetapkan pada 110 volt.
Sebagian peralatan elektronik yang menggunakan listrik saat itu, terutama lampu, bekerja dalam kondisi baik di tegangan 110 volt, sehingga menjadi standar di AS. Meski begitu, tegangan aktual pada sistem listrik di rumah-rumah cenderung sedikit lebih tinggi.
Seiring waktu, beberapa negara mulai membangun jaringan listrik dengan ketentuannya masing-masing. Misalnya di Eropa memakai tegangan 230 volt yang turut memengaruhi desain colokan dan sistem keamanannya.
Di Inggris bahkan punya fitur keamanan tertentu, seperti colokan tipe G yang punya sekring di dalam steker dan pin arde (grounding) yang membuka penutup lubang listrik, sehingga diklaim lebih aman dari sengatan listrik.
Menariknya, bentuk colokan bulat menjadi salah satu inovasi pada awal mulai stopkontak. Soalnya, desain colokan bulat dinilai lebih aman dan pas saat dicolok kabel.
Kenapa Desain Colokan Tidak Dibuat Seragam?
Mungkin terdengar sebagai solusi bagus agar masyarakat yang bepergian ke luar negeri nggak harus repot membawa adaptor stopkontak. Sayangnya ide tersebut tidak semudah yang dikira.
Menyamakan colokan listrik di seluruh dunia bisa menelan biaya sangat besar, mulai dari mengubah bentuk colokan, mengatur ulang arus listrik, hingga memproduksi ulang barang-barang elektronik. Lalu, setiap negara telah mengusung standar sendiri yang menentukan jenis colokan agar kompatibel dengan jaringan listrik domestik.
Alasan-alasan di atas membuat setiap negara memilih mempertahankan bentuk colokan yang sudah ada, alih-alih diganti agar sesuai dengan bentuk stopkontak negara lain.
Saat ini terdapat sekitar 15 tipe colokan listrik yang diakui secara luas, mulai dari Tipe A hingga Tipe O. Di Indonesia pakai stopkontak Tipe C dan Tipe F yang juga umum dipakai di banyak negara Eropa.
Oleh sebab itu, detikers wajib membawa travel adapter saat bepergian ke luar negeri agar bisa mengisi daya smart phone, laptop, hingga tablet. Perlu diingat, jika perangkat tidak mendukung tegangan di negara tersebut maka diperlukan voltage converter atau perangkat yang mendukung rentang tegangan 100-240 volt.
Itulah alasan mengapa bentuk colokan listrik di tiap negara berbeda-beda. Semoga bermanfaat!
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini











































