Sebuah masjid di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina memiliki kaitan yang cukup erat dengan Indonesia. Bukan hanya sejarahnya saja, tetapi ornamen di dalamnya pun mengandung sentuhan dari perajin Indonesia.
Namanya adalah Masjid Istiklal di Sarajevo atau disebut sebagai Istiklal džamija dalam bahasa setempat, yang memiliki arti kemerdekaan. Berdasarkan catatan detikcom, pembangunan masjid ini diawali dari kunjungan Presiden ke-2 RI Soeharto ke Sarajevo pada 1995.
Pembangunan itu dilakukan sebagai simbol solidaritas dan komitmen kemanusiaan Indonesia terhadap rakyat Bosnia dan Herzegovina pascakonflik Balkan pada 1990-an. Masjid ini dirancang oleh arsitek asal Indonesia yaitu Achmad Noe'man.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut memiliki andil dalam pembangunan masjid. Mereka menggalang dana dari masyarakat Indonesia untuk pembangunan masjid di Sarajevo itu. Namun, pembangunannya sempat terhenti seiring dengan lengsernya Presiden Soeharto. Pembangunan masjid lalu dilanjutkan dan diresmikan pada 2001.
Dari luar, arsitektur masjid ini seperti masjid-masjid pada umumnya, memiliki kubah dan minaret. Namun, interiornya memiliki sentuhan khas Jepara. Dilansir dari Instagram Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sarajevo, @indonesiainsarajevo, ukiran kayu khas Jepara pada interior masjid ini merupakan hadiah dari Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie dan istrinya, Ainun Habibie.
Ornamen Kayu di Masjid Direstorasi Pengukir Jepara
Setelah bertahun-tahun, ornamen kayu yang ada di Masjid Istiklal itu mengalami kerusakan. Untuk menjaga kelestariannya, ornamen tersebut direstorasi oleh pengukir dari Jepara yaitu Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo pada 14-19 Oktober 2026.
Pengukir asal Jepara restorasi ornamen kayu di Masjid Istiklal Sarajevo Foto: tangkapan layar Instagram @indonesiainsarajevo |
Bagian yang direstorasi meliputi enam pilar, hiasan dinding, dan bagian tangganya. Pada bagian pilarnya harus diganti karena kerusakannya tidak bisa diperbaiki hanya dengan cara ditambal.
"Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda," kata salah satu pengukir yang berangkat ke Bosnia dan Herzegovina, Sutrisno, Senin (28/9/2026), dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Jepara.
Material yang digunakan untuk ornamen-ornamen tersebut menggunakan kayu jati yang memang terkenal akan kualitasnya yang tahan lama.
Menurutnya, pekerjaan restorasi ini menjadi kesempatan bagi pengukir Jepara untuk kembali mengerjakan ukiran di luar negeri. Sutrisno mengatakan tim ingin menjaga bentuk ukiran yang sudah ada, sekaligus menyesuaikan pengerjaan dengan kondisi bagian yang mengalami kerusakan.

