Penjualan rumah second atau bekas di China meroket dibandingkan pada saat pandemi COVID-19. Bahkan dalam 8 bulan di 2026 saja penjualannya sudah tembus 52 persen.
Dikutip dari Kantor Dewan Informasi Negara China, Direktur Jenderal Departemen Pengawasan Pasar Real Estat di Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan, Zhang Xuetao, mengatakan penjualan rumah second meningkat dari yang tadinya 27 persen pada 2020 menjadi 46 persen pada 2025.
"Pangsa yang melampaui 50% menandai transisi pasar properti menuju era stok perumahan yang sudah ada," ujar Zhang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data kementerian tersebut, dari bulan Januari hingga Agustus, transaksi rumah bekas mencapai 550 juta meter persegi, naik 10,6 persen secara tahunan (year-on-year), sementara penjualan perumahan komersial baru turun 12,1 persen.
Di sisi lain, penurunan harga rumah melambat pada bulan Agustus, sementara inventaris perumahan komersial baru yang belum terjual terus berkurang. Luas lantai perumahan baru yang belum terjual turun 1,1% secara tahunan pada akhir Agustus. Hal ini menandai penurunan selama enam bulan berturut-turut.
"Selama 5 tahun ke depan, China akan akan beradaptasi dengan perubahan pasokan dan permintaan perumahan, menyeimbangkan pencegahan risiko dengan transformasi industri, serta mempercepat upaya pembentukan model baru bagi pengembangan real estat," ujar Zhang.
Bagian penting dari model tersebut adalah reformasi sistem dasar yang mengatur pengembangan, pembiayaan, dan penjualan properti.
Baca juga: Rencana Besar China Masuk Sektor Properti RI |
Terkait pengembangan properti, setiap proyek real estat akan ditangani oleh perusahaan proyek yang memiliki status hukum independen dan dana khusus. Perusahaan induk akan dilarang mengalihkan dana dari proyek-proyek individu secara tidak semestinya.
Untuk aspek pembiayaan, setiap proyek akan dipasangkan dengan bank atau konsorsium perbankan yang telah ditunjuk. Seluruh dana yang terkait dengan pengembangan, konstruksi, dan penjualan proyek wajib disetorkan ke bank tersebut, yang juga akan menyediakan pembiayaan sesuai kebutuhan proyek.
Bank akan melakukan penilaian terhadap proyek sebelum memutuskan untuk terlibat, sementara pengembang akan memilih bank berdasarkan layanan pembiayaan yang mereka butuhkan. Dengan demikian, kedua belah pihak turut menanggung risiko serta menikmati hasil dari proyek tersebut.
Untuk penjualan rumah komersial, China bakal mendorong penjualan rumah yang sudah rampung. Masyarakat akan membeli rumah yang sudah siap untuk diserahterimakan. Hal ini untuk mencegah risiko kegagalan serah terima sekaligus memungkinkan pembeli untuk melihat langsung properti tersebut sebelum membelinya.
Proyek-proyek baru juga bakal didorong buat memprioritaskan penjualan rumah siap huni. Kalau ada yang menjual secara pre-sale atau rumah yang belum jadi, akan diawasi secara ketat terhadap dana hasil penjualan tersebut untuk melindungi hak pembeli.
Pemerintah China juga bakal menyediakan hunian terjangkau untuk warga perkotaan berpenghasilan rendah. Penduduk kota baik pendatang, generasi muda hingga pekerja kantoran berpenghasilan rendah akan ditawarkan hunian terjangkau baik milik maupun sewa.
Saksikan Live DetikPagi:
(abr/das)
