Desa Adat Sade tengah dibangun kembali pasca kebakaran hebat. Sejauh ini sudah ada 40 dari 75 rumah telah selesai dibangun.
Sembari mengerjakan rumah, pembangunan masjid, museum, bale bengong, dan toilet umum juga mulai berjalan.
Dari sisi rekonstruksi, desain pembangunan ulang diinisiasi oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) yang dibantu Universitas Mataram dan komunitas adat juga telah diselesaikan. Desain ini nantinya akan diimplementasikan dengan pendampingan teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
"Penanganan kini difokuskan pada implementasi desain dengan fokus utama pembangunan kembali rumah adat dan fasilitas umum, penyediaan infrastruktur utilitas dan keselamatan, serta pemulihan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga karakter budaya Sade," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono dalam keterangannya, dikutip Senin (12/10/2026).
Pemerintah terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dana untuk pembangunan tercukupi dan desain telah sesuai agar dapat selesai secepatnya.
"Kemenko Perekonomian mengoordinasikan Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah Daerah, BUMN, dan juga mitra lainnya, untuk memastikan kebutuhan pendanaan, kesesuaian desain, jadwal penyelesaian, serta pembagian peran antar pihak agar pembangunan kembali bangunan di sana dapat terlaksana dengan baik," ungkap Susiwijono.
Mekanisme penyaluran bantuan dari para donatur, baik rekening penampungan maupun rekening khusus bagi setiap kepala keluarga terdampak juga telah disiapkan. Hasil donasi dapat segera disalurkan.
Sementara itu, aktivitas ekonomi masyarakat sudah mulai menggeliat kembali, apalagi setelah diberikan bantuan berupa bahan baku, modal usaha, dan alat produksi dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar).
Kemenpar telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 817,5 juta. Bantuan tersebut meliputi 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.
Dukungan ini diharapkan memungkinkan masyarakat adat Sade, khususnya para pengrajin dan pengusaha UMKM, untuk kembali berproduksi, memasarkan hasil kerajinan, dan memperoleh penghasilan harian tanpa harus menunggu seluruh proses pembangunan fisik selesai.
Hadir di waktu yang sama, Menteri Pariwisata Widiyanti menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan masyarakat dan wisatawan. Karena itu, pembangunan kembali Desa Adat Sade perlu mengintegrasikan sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat tanpa menghilangkan keaslian kawasan.
Aspek keselamatan tersebut mencakup penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, ketersediaan pasokan air dan alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.
Ada pun, Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) terbakar pada Sabtu (22/8/2026) malam. Akibat kejadian tersebut, sekitar 129 rumah tradisional Suku Sasak ludes terbakar dan 320 warga terdampak.
Sebelumnya juga diberitakan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mengumpulkan dana dari Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pembangunan kampung adat wisata Sade di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terbakar.
"Kemarin juga kita tahu di NTB juga ada (kebakaran). Jadi kita juga melakukan penggalangan," kata Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) dalam raker dengan Komisi V di DPR RI, Jakarta, pada Rabu (2/9/2026).
Ara mengatakan dari hasil CSR beberapa pihak ini terkumpul dana Rp 1,5 miliar. Dana tersebut akan diserahkan untuk kampung adat wisata Sade.
(aqi/das)