Fenomena 'Kuburan' Kulkas, Warga Terancam Dikepung Sampah Elektronik

Fenomena 'Kuburan' Kulkas, Warga Terancam Dikepung Sampah Elektronik

Almadinah Putri Brilian - detikProperti
Senin, 12 Okt 2026 06:03 WIB
http://i895.photobucket.com/albums/ac158/jameswhittaker_bucket/iStockBanner2011ScrapMaster.jpg
Ilustrasi 'kuburan' kulkas. Foto: Getty Images/ClarkandCompany
Jakarta -

Inggris dan Wales sedang mengalami fenomena kebanjiran kulkas rusak. Saking banyaknya, puluhan ribu kulkas rusak itu menumpuk seolah menjadi 'kuburan'.

Sekitar lebih dari 50.000 kulkas terdampar di tempat pembuangan sebelum diolah lebih lanjut. Ya, di Britania Raya, kulkas yang sudah tidak dipakai harus diolah dengan benar sebelum akhirnya menjadi sampah agar tidak berbahaya.

Dilansir dari BBC, menurut hukum, kulkas dan freezer wajib dibuang dengan cara yang tepat untuk mencegah gas atau bahan yang digunakan dalam pembuatannya merusak lingkungan. Peralatan tersebut mengandung gas rumah kaca terfluorinasi dan bahan isolasi busa yang dapat melepaskan gas berbahaya jika tidak dibuang di fasilitas pengolahan khusus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya, warga bisa membawanya ke tempat daur ulang atau pemerintah daerah setempat akan mengangkut kulkas dari rumah warga ke fasilitas daur ulang.

Sayangnya, sejumlah tempat daur ulang di sana tutup. Tutupnya perusahaan-perusahaan daur ulang di sana membuat puluhan ribu kulkas terdampar begitu saja di tempat penampungan.

ADVERTISEMENT

Contohnya seperti di di Norfolk, Inggris, pemerintah daerah setempat memiliki 19 pusat daur ulang, tapi karena keadaan, hanya tujuh yang bisa beroperasi dan masih bisa menerima sampah kulkas. Salah satu pusat daur ulang disana dilanda kebakaran sehingga tidak mengolah sampah kulkas lebih lanjut.

Penyebab Perusahaan Daur Ulang Tutup

Asosiasi Pemerintah Daerah atau Local Government Association (LGA) menyatakan bahwa terdapat kekurangan kapasitas pengolahan khusus berskala nasional akibat penutupan sejumlah fasilitas dan serangkaian insiden, termasuk kebakaran. LGA menyebutkan bahwa hal ini menyebabkan sejumlah skema kepatuhan produsen, yang mengatur serta mendanai pengumpulan dan daur ulang limbah elektronik atas nama pihak manufaktur, menunda atau menghentikan pengambilan limbah dari fasilitas milik pemerintah daerah.

Dilansir dari The Mirror, salah satu anggota LGA, Jon Hubbard, mengisyaratkan kondisi ini bisa semakin memburuk apabila tidak segera diatasi. Menumpuknya kulkas tak terpakai dalam jumlah besar ini membuat pengeluaran tak terduga pemerintah daerah semakin besar.

"Saat ini, pemerintah daerah menghadapi masalah berupa penumpukan kulkas dalam jumlah besar, dan hal itu sendiri merupakan sebuah tantangan. Selain itu, pemerintah daerah kini harus mengatur penyimpanan kulkas-kulkas tersebut serta menangani segala konsekuensinya. Dengan demikian, pemerintah daerah menghadapi beban pengeluaran tak terduga lainnya yang memberikan dampak cukup berat," katanya, dikutip dari Mirror.

Saking banyaknya limbah kulkas yang tidak tertampung, beberapa di antaranya dikirim ke Skotlandia atau negara Eropa lainnya untuk diproses lebih lanjut. Para pelaku industri memperkirakan kapasitas pengolahan tambahan di Inggris akan tersedia pada tahun 2027, namun mereka juga memperingatkan perlunya investasi jangka panjang agar sistem tersebut menjadi lebih tangguh.

Gelombang Panas Bikin Buruk Keadaan

Adanya gelombang panas yang sempat melanda Eropa beberapa waktu lalu juga menambah kulkas serta freezer yang perlu dibuang. Pada saat terjadi gelombang panas, umumnya kulkas dan freezer bekerja lebih keras agar suhu tetap dingin untuk menjaga makanan supaya tidak cepat basi atau rusak. Apabila alat elektronik itu bekerja terlalu keras secara terus menerus, maka akan semakin cepat rusak.

Warga Terpaksa Biarkan Kulkas Rusak di Pinggir Jalan

Akibat dari tempat pembuangan yang sudah penuh dengan kulkas rusak, warga setempat tidak bisa membuang kulkas ke tempat daur ulang untuk sementara waktu. Hal ini membuat banyak warga yang menaruh kulkasnya di depan rumah sembari menunggu agar kulkas tersebut bisa diangkut ke tempat daur ulang.

Hampir seperempat pemerintah daerah di Wales menyatakan telah menangguhkan layanan pengambilan kulkas-freezer dari rumah warga akibat keterbatasan ruang di tempat pembuangan. Cardiff adalah salah satu daerah yang terdampak.

Seorang warga Cardiff, Lee Young, telah berusaha untuk membuang kulkas-freezer miliknya selama 2 bulan terakhir.

"Saya sempat mencoba membawanya ke pusat daur ulang pada bulan Juli, tetapi diberi tahu bahwa barang itu tidak diterima. Ada yang bilang pihak pemerintah daerah akan mengambilnya, namun ternyata mereka juga tidak mau mengambilnya," katanya, dikutip dari BBC.

Sejak saat itu, kulkas tersebut terbengkalai di halaman belakang rumahnya. Ia tidak tahu kapan layanan pengambilan oleh pemerintah daerah akan kembali beroperasi.

Sementara itu, seorang aktivis dan juru kampanye Partai Konservatif di Newport, Michael Enea mengaku sering melihat peralatan rumah tangga tua di pinggir jalan dan berpendapat bahwa situasi ini bisa jadi akan semakin memburuk.

"Menurut saya, akan banyak warga di komunitas setempat yang tidak memiliki sarana untuk membuang kulkas dan *freezer* mereka, sehingga akhirnya mereka benar-benar membuang barang-barang tersebut begitu saja di jalanan. Hal ini cukup sering kita jumpai di Newport maupun di seluruh wilayah Wales," tuturnya.

(abr/das)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads